Aira meraba ke samping kasur mencari sumber dering dari handphone nya, setelah itu aira langsung membuka pesan yg tertera si layar handphone
From : Windu
Ra, kamu keluar rumah dong, aku mau ajak kamu ke suatu tempat
Aira melihat keluar dari jendela kamarnya, segera lah dia bersiap siap untuk menemui windu di bawah. Dengan sweater, topi kupluk, celana jeans, sepatu cats dan syal yang melingkar di leher nya membuat aira tampak manis pagi ini.
"Hei....tumben pagi - pagi ngajak jalan" ujarnya sambil menghirup udara pagi dalam dalam
"Mau nebus janji janji nih, jarang - jarang kan di ajak jalan sama cowok sepagi ini?" ujar windu sambil menaik turun kan alis nya.
" Yup! mau kemana nih kita?!"
"Udahhh, naik aja dulu. nanti juga tau, gak aku culik kamu jauh jauh kok, kita bertiga kok, sama miko"
"Miko?" aira mengerutkan dahi sambil mendekatkan wajah nya
"Iya, miko. Nih vespa aku" ujar windu sambil menepuk vespanya
Aira tertawa begitu juga dengan windu. Aira duduk manis di belakang windu
"SIAP?!" Tanya windu meyakinkan. Aira menganggukan kepala nya semangat!
"WOHOOOOOO!!" teriak mereka di sela sela embun yang keluar membasahi bumi dan pagi mereka berdua.
Kabut yang agak tebal menyelimuti kota kembang ini, tepat nya daerah lembang. Aira nampak bahagia baru dia merasakan kembali tertawa lepas bersama orang yang bisa membuat nya nyaman selain putra, sampai lupa juga kapan dia terakhir menangis.
Terhentilah vespa yang di kendarai windu, di suatu tempat yang cukup asri untuk di lihat. membuat hati merasa tenang, kebun teh ...... bau khas dedaunan yang mengeluar kan embun pun masih melekat di hidung aira dan menghirup udara nya dalam - dalam. Rasa nya tak ingin dia menghembuskan kembali, aroma nya masih memutar mutar di benak nya.
"Ndu.... udah lama banget aku enggak ngerasain udara se sejuk ini" ujarnya sambil menghirup udara sejuk nya
"Sama, aku juga. Makanya aku ngajak kamu ke sini, suka kan?"
"Suka banget! biasa nya dulu dia yang ngajak aku ke tempat - tempat yang kayak gini" ujarnya kembali sambi mengarahkan pandangan nya ke windu
Windu mengerutkan dahi nya, ingin menanyakan siapa yang aira maksud, tetapi windu tampak ragu.
"Mungkin "Dia" yang aira maksud salah satu masa lalunya" pikir windu.
"Yuk, kita ke atas tuh" ajak windu sambil menunjuk ke arah kebun teh
***
Aira dan Windu berjalan diantara hamparan daun dan kabut yang masih menyelimuti udara pagi ini, tetesan embun membasahi daun dan tanah yang menghasilkan bau khas pagi hari.
Windu tampak senang melihat kegembiraan yang selama ini baru ia lihat setelah mengenal aira. Aira membasahi wajah dengan tangannya dari embun - embun yang menempel di daun daun, diikuti oleh windu yang sedari tadi mengikuti kegembiraan aira.
"Ndu..... kamu pernah ingat kapan terakhir kamu menangis?" tanya aira seraya mengambil posisi duduk di pinggiran kebun
"Nggg..... pernah, ketika merasa kehilangan dan rindu kepada seseorang, kamu?" jawab nya sambil tersenyum.
"Saat aku merasa kan rindu pada sesuatu yang jauh, tak bisa aku rasakan seluruhnya, tapi aku merasakan kalau rindu itu sedang aku rasakan, aneh rasanya"
"Kenapa kamu gak bisa menemukan jawaban dari rasa keanehan kamu itu? padahal kamu bisa, tapi kamu selalu tidak percaya dengan perasaan kamu, itu yang membuat rasa rindu kamu menjadi aneh, ra"
Aira menggosokan kedua tangan nya berusaha mendapatkan sedikit kehangatan untuk tubuh nya, windu yang melihat nya seperti itu meraih kedua tangan aira dan menggosokan tangan nya aira dengan tangan nya.
Aira tersenyum malu, sekilas aira melihat bayangan wajah putra ada pada windu, aira segera memeluk windu. Windu kaget, tetapi dia membalas pelukan aira dengan hangat. Aira merasakan windu adalah sosok laki laki yang membuatnya nyaman selain putra, tak lama aira melepas pelukan nya begitu juga dengan windu.
Windu mengambil sesuatu dari kantong jaket nya "Ra, aku mau kasih surat ini untuk kamu"
"Loh? kkamu kok aneh banget? kenapa gak bilang langsung aja?"
"Aku gak bisa kasih alasannya, nanti kamu juga tau, oh iya kamu boleh buka surat ini kalau aku udah kasih izin ke kamu" ujarnya
Aira semakin bingung, merasakan keanehan yang ada pada windu sekarang.
"Kamu kenapa bisa sih bikin aku bingung?" ujarbya sedikit kecewa
Windu tertawa kecil "Aku gak bermaksud buat kamu bingung ra, aku kayak gini mau ajarin kamu untuk membaca keadaan" ujarnya sambil mengelus rambut aira
"Tapi kamu gak bermaksud untuk ninggalin aku kan Ndu?" Tanya aira
Aira bersandar di bahu windu di balasnya windu dengan rangkulan seakan - akan itu jawaban windu kalau windu tak akan pergi meninggal kan aira. Windu segera menghapus airmata nya agar aira tak melihat kalau windu menangis saat itu.
***
"Makasih ya windu hari ini, aku bisa tertawa lepas tanpa ada sedikitpun beban di diri aku" ujar aira
"Sama - sama ra, aku juga senang hari ini udah bisa lihat kamu bahagia seperti sekarang" ujar windu sambil mengacak rambut nya aira
Disela pembicaraan aira dengan windu tiba - tiba saja ada yang memanggil nama aira, aira menoleh ke arah rumah nya. Tepat di teras depan ada sosok laki - laki yang melambaikan tangan nya seolah olah laki - laki itu benar benar orang terdekat aira.
Aira mengernyitkan dahinya "Sepertinya laki - laki itu tidak asing lagi bagi ku"
Laki - laki yang aira lihat itu nampak rapi dengan jaket baseball dan jeans birunya, sepertinya laki laki itu seumuran dengan aira. Aira mengajak windu untuk menghampiri laki - laki itu. Kaki aira terasa sangat lemas saat dia sudah berdiri di depan laki - laki itu, bibir nya gemetar, airmatanya sudah menggumpal di pelupuk matanya, berusaha untuk menggapai wajah laki - laki itu namun tangan nya sangat lemas untuk di gerakan.
"PUTRA?!" Ujar aira dengan suara gemetar
Laki - laki itu tersenyum dan menganggukan kepalanya, langsung saja aira memeluk erat laki - laki itu yang ternyata putra. Rasa rindu, haru sekaligus bahagia bercampur aduk di benak aira saat itu, windu yang melihat nya hanya bisa tersenyum dan mata ber kaca - kaca. Aira tak tau kalau windu menyimpan rasa cinta yang lebih besar daripada rasa rindu aira kepada putra.
Aira mengajak putra dan windu masuk kedalam rumah nya, untuk sedikit berbincang dengan putra dan memperkenalkan windu kepada putra juga.
"Kamu kapan sampai bandung ta?" tanya aira sambil membawa 3 cangkir teh dari dapur nya
"Kemarin, tapi aku sengaja gak kasih tau kamu ra" jawab putra
"Dari dulu ya kamu bikin aku kaget terus" ujar aira tertawa sambil menaruh cangkir - cangkir berisi teh ke meja
"Oh iya, sampai lupa aku mau kenalin windu sama kamu ta"
Windu tersenyum dan mengulur kan tangan nya seraya mengucapkan nama nya" Windu"
Putra pun membalas jabatan tangan windu sambil menyebutkan nama nya "Putra"
"Oh iya windu, thank's yah udah jagain sahabat gw yang cantik ini" ujar putra sambil mengacak rambut aira.
"Pasti, lo tenang aja ta. Dia gak pernah sedih kok selama sama gue" ujar windu kemudian menyeruput teh
Suasana yang cukup hening menemani obrolan mereka bertiga dengan secangkir teh yang membuat susana itu menjadi hangat, walau sebenarnya windu agak sedikit cemburu saat aira memeluk putra di teras tadi.
Tak lama putra dan windu berpamitan untuk pulang, aira pun mengantar mereka sampai depan teras rumah.
"Windu hati hati ya bawa motor nya jangan kencang - kencang" ujarnya meneriaki windu
"Kamu juga putra hati hati ya bawa mobil nya" ujar aira kembali meneriaki putra.
***
Aira merebahkan tubuh nya perlahan di balkon atas, sambil melihat langit - langit malam yang di hiasi bintang. Aira memegang dua foto yaitu foto putra dan foto windu, aira bingung dia harus kembali ke masa lalu nya untuk kembali mencintai putra tanpa sepengetahuan putra atau bersama windu untuk membuka hari yang baru dan menjalani rasa cinta yang baru.
Di peluk nya kedua foto itu sambil memejamkan matanya dan bergumam dalam hati "Tuhan, semoga salah satunya menjadi pilihan yang terbaik untuk ku"
Aira menolehkan pandangan nya kesamping kanan, di ambil nya surat berwarna amlop coklat yang tadi pagi di kasih oleh windu. Aira sangat ingin tahu apa yang di tuliskan oleh windu, surat cinta kah? atau surat kepergian windu?. Batin aira menampik itu semua, berusaha untuk tidak mengetahui kembali isi surat tersebut.
"Bintang, kalau kamu bisa menjawab semua kegundahan ku engkau akan pilih yang mana? memilih untuk kembali ke masa lalu? atau kah harus melangkah lebih maju dan meninggalkan sedikit rasa yang masih tersisa?" gumam nya kembali dalam hati.
Aira berusaha menghitung bintang - bintang yang masih bisa terlihat dengan mata telanjang nya menghiasi langit malam ini, namun tak bisa ia menemukan jumlah yang tepat berulang ulang kali ia mencoba menghitung sampai rasa kantuk nya datang, deru angin pun menghantar kan kantuk nya kedalam mimpi, dan berdoa agar esok dia bisa menemukan pilihan yang tepat.
***
Matahari pagi telah menampakan dirinya dari perpaduan, kali ini aira bangun lebih pagi dari biasa nya untuk membersihkan rumah, di buka nya gordyn yang setia dengan jendela matahari pun langsung mengenai wajah aira membuatnya harus melindungi matanya dengan sebelah tangan. Udara sejuk pegunungan pun menembus paru paru nya membuat sia bergairah untuk menghirupnya lebih dalam.
Aira mengambil handphone nya ternyata ada pesan masuk tertera di layar nya.
From : Putra
Ra, aku mau kembali ke bukit sama kamu, kamu mau kan?, sekitar jam 10.
See you my best, i hope you can attend :)
Aira langsung saja membalasnya tanpa ada sedikit keraguan
To : Putra
Iya, aku mau kok ta :)
Aira bergegas merapikan diri untuk bertemu dengan putra nanti, hal ini yang sangat ia rindukan setelah beberapa tahun yang lalu aira menghabiskan waktu di bukit dekat sekolah nya itu.
Pukul 10:00. Di bukit...
Terpaan angin, pemandangan kota yang masih sama serta suasana di bukit yang belum ada perubahan sama sekali, dingin nya masih sama saat putra terakhir kali mengunjungi tempat ini. Putra memejamkan matanya merasakan terpaan angin yang menembus dadanya, membentangkan tangan nya seakan - akan tubuhnya terbawa terpaan angin. Suara perempuan yang sangat khas di telinga nya memanggil nama nya ber ulang - ulang kali.
Putra pun menoleh wanita itu yang ternyata aira menghampiri dirinya dengan senyuman yang masih sama saat putra menghabiskan waktu bersama aira di tempat ini.
"Putra, maaf ya pasti kamu sudah nunggu lama"ujar aira
"Iya, aku maklumi kok" ujar putra seraya mengambil posisi duduk diikuti oleh aira.
"Aku seneng banget deh kembali lagi kesini semua keadaan nya masih sama, belum ada perubahan sama sekali" kata putra membuka pembicaraan
"Kata siapa gak ada perubahan? banyak banget perubahan nya" ujar aira tersenyum
Putra mengerutkan dahinya, melihat ke sekeliling nya tak menemukan perubahan yang aira maksud.
"Kamu cari apa putra? perubahan nya itu ada di kita, kita terakhir ke sini masih pakai seragam SMA tapi sekarang? kita tanpa seragam itu"
Putra tertawa "Ohiya... dan penampilan kita juga berbeda, dulu kamu sering banget di kuncir rambutnya? tapi sekarang kamu lebih suka di gerai yah rambutnya"
"Banyak banget ya kalau di sebutin satu - satu perbedaan dulu dan sekarang" ujar aira masih tertawa.
"Ra, windu yang kemarin kamu kenalin ke aku itu siapa kamu? " tanya putra sambil menatap aira
"Dia.... orang yang menjadi inspirasi ku saat ini putra"
Putra hanya menganggukan kepalanya mengalihkan pandangan nya dari aira, seperti ada sedikit kekecewaan yang tersirat di wajah putra.
"Aku harap kamu bisa bahagia bersama pilihan kamu sekarang aira, aku turut bahagia" ucap nya kemudian putra langsung memeluk aira.
Senin, 24 September 2012
Rabu, 19 September 2012
Kenalan (PHP)
"DRTTTTTDRTTTTT" suara getar handphone dika membangun kan nya di hari senin yang paling dia tidak suka. Kembali ke aktivitas seperti biasa sebagai pelajar yang udah gak biasa lagi pasti selalu dateng pagi - pagi tiap hari senin. Dika meraba raba ke pinggir laci meja, dilihat nya handphone ternyata alarm yg udah dia set dari semalam. Dia pikir sms dari seseorg ternyata.......hihihi. Dika beranjak dari tempat tidur nya dan bergegas lah dia ke kamar mandi.
Berdesakan bersama anak anak sekolah dan para pekerja yang ingin cepat sampai di sekolah dan tempat kerja nya masing - masing. Seperti biasa pula dika tidak mendapat tempat duduk terpaksa dia harus berdiri bersama penumpang lain.
"Mas, mas....gantian dong saya mau duduk" ujarnya sambil menepuk pundak laki laki berseragam SMA. Laki laki itu tampak pulas tertidur sampai mengeluarkan dengkuran. Keluarlah ide jail nya, dika menyentil kuping laki laki itu sampai terbangun.
"Aduh! lo mau nyari ribut?!"
"Enggak tuh, gw bangunin lo buat gantian sama gue, gue mau duduk juga tau"
Laki laki itu malah melanjutkan tidur nya. Dika ternganga mengerutkan jidat nya dan menyentil kuping laki laki itu lagi.
"Apalagi sih?! ganggu org aja" ujar laki laki itu sewot
"Lo kan cowok! masa gak mau ngalah sama cewek!"
Kenek bus pun meneriakan nama halte bus tempat dika turun. Dika pun bergegas meninggalkan perdebatan nya bersama laki - laki itu dengan wajah jutek nya.
"Semoga aja belum telat!" gumamnya dalam hati sambil berlari
Sesampai nya di depan sekolah dika menghentikan langkah kaki nya dengan wajah yang penuh peluh karna jarak dari halte ke sekolah nya itu lumayan jauh. Tetapi gerbang mau di tutup karna waktu sudah menunjukan pukul tujuh.
"Duhhhhh, pak satpam izinin saya masuk dong ya pak pleaseeee" ujarnya memohon
"Duh si neng lagian pake telat! yaudah masuk deh neng, besok besok jangan telat ya"
"Siap pak!" ujarnya sambil memberi hormat
Separuh acara upacara sudah terlewati, dika baris di belakang tempat siswa yang telat. Eitsss, sebentar pasti kalian belum tau kan gender si dika itu cewek atau cowok?. Dika Rahayu itu lah nama lengkap dari wanita yang berperawakan feminin ini. Nama boleh macho. tapi tetep kok cewek tulen!
"Dika! lo kenapa? kok telat sih?" ujar farah. Farah adalah sahabat nya, tempat pelampiasan kalo dika lagi PMS hihi
"Berdebat di bis sama cowok yang gak punya otak"celetuknya dengan nada separuh emosi
"Pagi pagi masa cewek udah unmood, gak baik, jodoh nya jauh lo" ujar farah sambil tertawa
Sesampai nya dikelas....
"Bener bener ya tadi tuh cowok gak ngotak deh!" ujar dika seraya mengambil posisi duduk di bangku
"Siapa sih dik?! kayak nya lo kesel banget, hati hati ntar kalo ketemu lagi gimana? terus lo jadi suka"
"Mana gw tau anak sekolah mana dia, kalo dia anak sekolah ini juga nih gw labrak deh!, bukan level gue ya cowok kayak gitu" ujarnya kesal
***
"Kringgggg" bel istirahat pun bunyi, seluruh siswa berhamburan keluar menyusuri kantin dan ada juga yang duduk duduk di koridor sekolah.
"Udahan kenapa sih dik unmood nya, kan udah kenyang perutnya" ujar farah sambil memasang wajah agak aneh di depan wajah dika
Dika mengalihkan wajah nya dari farah sambil menyeruput es teh manis nya "gw mau cepet cepet pulang tau gak rasanya!"
"Balik lagi yuk ke kelas deh, abis ini pelajaran matematika! kayak gak tau gurunya aja"
Dika dan farah beranjak dari duduk nya dan keluar kantin, tetapi di tengah perjalanannya dika di tabrak oleh salah satu siswa laki laki yang membawa segelas minuman soda. Dika kaget karna baju nya kotor karna noda merah soft drink itu.
"Punya mata gak sih lo, mata nya jangan taro di belakang kalo lagi jalan!" ujarnya membentak
Laki laki itu berusaha membersihkan noda di baju dika dengan tissue, tapi dika menangkis nya seakan tak rela kalau baju nya tersentuh dengan laki laki itu. Laki laki itupun menampakan wajah nya jelas setelah menundukan wajahnya tadi.
"Lo?! ngapain lo disini?!" tanya nya kaget sambil menunjuk ke arah laki laki itu
"Sekolah lah! emang lo gak dimana mana marah marah terus" jawab nya agak nyolot
Dika langsung pergi tanpa harus berdebat lagi dengan laki - laki yang nyebelin itu. Farah menyusul nya di belakang berusaha untuk menanyakan siapa laki laki itu tadi, tapi dika sangat terburu buru karna dia tak ingin melihat wajah laki laki itu lagi.
"Tunggu dong dik! gak usah buru buru gitu juga kali" ujar farah dengan separuh nafas
Dika menghentikan langkah nya membalikan badan nya menghampiri farah "Sumpek tau gak gue disini! setelah tau dia siswa di sekolah ini juga"
"Bentar deh, kayak nya gw tau yang lo maksud! itu cowok yang berdebat sama lo di bis ya?!" tanya farah
Dika hanya menganggukan kepalanya. "Udah yuk ah ke kelas tambah sumpek kalo harus ngebahas dia"
Dika meneruskan langkah nya menuju kelas di ikuti farah yang harus mengejar langkah nya dika. Sesampai nya di kelas tanpa dika sadari dia membahas laki - laki itu lagi.
"Dia anak kelas mana sih?! kayak nya gw gak pernah ngelihat" tanya dika sambil membalikan pandangan nya ke arah farah
"Masa lo gak kenal sih?! dia kan anak XII - IPA4 nama nya panji setau gue sih"
"Lo pernah sekelas sama dia far?"
"Pernah waktu gue kelas 10 dulu"
Dika menaikan penglihatan nya ke langit langit kelas, entah apa yang ingin dia lihat padahal tidak ada apa apa. Atau dia berusaha untuk menemukan bayangan panji? di alam bawah sadar nya.
Berdesakan bersama anak anak sekolah dan para pekerja yang ingin cepat sampai di sekolah dan tempat kerja nya masing - masing. Seperti biasa pula dika tidak mendapat tempat duduk terpaksa dia harus berdiri bersama penumpang lain.
"Mas, mas....gantian dong saya mau duduk" ujarnya sambil menepuk pundak laki laki berseragam SMA. Laki laki itu tampak pulas tertidur sampai mengeluarkan dengkuran. Keluarlah ide jail nya, dika menyentil kuping laki laki itu sampai terbangun.
"Aduh! lo mau nyari ribut?!"
"Enggak tuh, gw bangunin lo buat gantian sama gue, gue mau duduk juga tau"
Laki laki itu malah melanjutkan tidur nya. Dika ternganga mengerutkan jidat nya dan menyentil kuping laki laki itu lagi.
"Apalagi sih?! ganggu org aja" ujar laki laki itu sewot
"Lo kan cowok! masa gak mau ngalah sama cewek!"
Kenek bus pun meneriakan nama halte bus tempat dika turun. Dika pun bergegas meninggalkan perdebatan nya bersama laki - laki itu dengan wajah jutek nya.
"Semoga aja belum telat!" gumamnya dalam hati sambil berlari
Sesampai nya di depan sekolah dika menghentikan langkah kaki nya dengan wajah yang penuh peluh karna jarak dari halte ke sekolah nya itu lumayan jauh. Tetapi gerbang mau di tutup karna waktu sudah menunjukan pukul tujuh.
"Duhhhhh, pak satpam izinin saya masuk dong ya pak pleaseeee" ujarnya memohon
"Duh si neng lagian pake telat! yaudah masuk deh neng, besok besok jangan telat ya"
"Siap pak!" ujarnya sambil memberi hormat
Separuh acara upacara sudah terlewati, dika baris di belakang tempat siswa yang telat. Eitsss, sebentar pasti kalian belum tau kan gender si dika itu cewek atau cowok?. Dika Rahayu itu lah nama lengkap dari wanita yang berperawakan feminin ini. Nama boleh macho. tapi tetep kok cewek tulen!
"Dika! lo kenapa? kok telat sih?" ujar farah. Farah adalah sahabat nya, tempat pelampiasan kalo dika lagi PMS hihi
"Berdebat di bis sama cowok yang gak punya otak"celetuknya dengan nada separuh emosi
"Pagi pagi masa cewek udah unmood, gak baik, jodoh nya jauh lo" ujar farah sambil tertawa
Sesampai nya dikelas....
"Bener bener ya tadi tuh cowok gak ngotak deh!" ujar dika seraya mengambil posisi duduk di bangku
"Siapa sih dik?! kayak nya lo kesel banget, hati hati ntar kalo ketemu lagi gimana? terus lo jadi suka"
"Mana gw tau anak sekolah mana dia, kalo dia anak sekolah ini juga nih gw labrak deh!, bukan level gue ya cowok kayak gitu" ujarnya kesal
***
"Kringgggg" bel istirahat pun bunyi, seluruh siswa berhamburan keluar menyusuri kantin dan ada juga yang duduk duduk di koridor sekolah.
"Udahan kenapa sih dik unmood nya, kan udah kenyang perutnya" ujar farah sambil memasang wajah agak aneh di depan wajah dika
Dika mengalihkan wajah nya dari farah sambil menyeruput es teh manis nya "gw mau cepet cepet pulang tau gak rasanya!"
"Balik lagi yuk ke kelas deh, abis ini pelajaran matematika! kayak gak tau gurunya aja"
Dika dan farah beranjak dari duduk nya dan keluar kantin, tetapi di tengah perjalanannya dika di tabrak oleh salah satu siswa laki laki yang membawa segelas minuman soda. Dika kaget karna baju nya kotor karna noda merah soft drink itu.
"Punya mata gak sih lo, mata nya jangan taro di belakang kalo lagi jalan!" ujarnya membentak
Laki laki itu berusaha membersihkan noda di baju dika dengan tissue, tapi dika menangkis nya seakan tak rela kalau baju nya tersentuh dengan laki laki itu. Laki laki itupun menampakan wajah nya jelas setelah menundukan wajahnya tadi.
"Lo?! ngapain lo disini?!" tanya nya kaget sambil menunjuk ke arah laki laki itu
"Sekolah lah! emang lo gak dimana mana marah marah terus" jawab nya agak nyolot
Dika langsung pergi tanpa harus berdebat lagi dengan laki - laki yang nyebelin itu. Farah menyusul nya di belakang berusaha untuk menanyakan siapa laki laki itu tadi, tapi dika sangat terburu buru karna dia tak ingin melihat wajah laki laki itu lagi.
"Tunggu dong dik! gak usah buru buru gitu juga kali" ujar farah dengan separuh nafas
Dika menghentikan langkah nya membalikan badan nya menghampiri farah "Sumpek tau gak gue disini! setelah tau dia siswa di sekolah ini juga"
"Bentar deh, kayak nya gw tau yang lo maksud! itu cowok yang berdebat sama lo di bis ya?!" tanya farah
Dika hanya menganggukan kepalanya. "Udah yuk ah ke kelas tambah sumpek kalo harus ngebahas dia"
Dika meneruskan langkah nya menuju kelas di ikuti farah yang harus mengejar langkah nya dika. Sesampai nya di kelas tanpa dika sadari dia membahas laki - laki itu lagi.
"Dia anak kelas mana sih?! kayak nya gw gak pernah ngelihat" tanya dika sambil membalikan pandangan nya ke arah farah
"Masa lo gak kenal sih?! dia kan anak XII - IPA4 nama nya panji setau gue sih"
"Lo pernah sekelas sama dia far?"
"Pernah waktu gue kelas 10 dulu"
Dika menaikan penglihatan nya ke langit langit kelas, entah apa yang ingin dia lihat padahal tidak ada apa apa. Atau dia berusaha untuk menemukan bayangan panji? di alam bawah sadar nya.
Sabtu, 25 Agustus 2012
Sementara (Kata di balik rindu part 5)
Siang ini aira sangat semangat karna ia ingin bertemu windu di Toko Buku Nusa Cendana. Memakai kemeja berwarna putih yang lengan baju nya di gulung sampai siku dan dalaman tank top berwarna hitam, memakai celana jeans pendek se-lutut, dan sepatu cats cream nya dengan rambut panjang nya di biarkan tergerai membuat dia terlihat lebih cantik dari yang biasa.
Aira tak langsung membalas pesan nya karna ia sangat kecewa dengan windu, lamgsung saja ia letakan kembali handphone nya diatas meja.
"Dari siapa ra? tanya maudy sambil mengunyah spagetti nya.
"Windu" jawab aira datar.
***
Sesampai nya aira di rumah dia langsung saja menghempaskan tubuh nya di ranjang nya, mengutak atik handphone nya merangkai kata kata untuk membalas pesan dari windu yang sedari siang belum dia balas. Sudah terangkai kata untuk di kirim namun aira menghapus nya dan itu berkali kali dia lakukan, karna kesal langsung saja dia banting hapenya di ranjang.
"Arghhhhh kenapa coba sama gue?! gue kan baru kenal sama windu! apa hak gw coba buat kayak gini" gumam nya dalam hati
Aira pun mencoba merileks kan fikiran dan tubuh nya, dengan cara memejamkan mata dan berkali kali menarik nafas yang dalam kemudian membuangnya di lakukan berulang ulang.
Setelah itu aira mencoba membuat hot chocolate yang biasa dia buat saat keadaan nya suntuk seperti saat ini.
Aira menyeruput sedikit hot chocholate nya, sambil menikmati aroma coklat yang mulai menusuk kedalam hidung nya dan berkumpul ke dalam angan angan nya berputar putar membua nya sedikit rileks karna aroma tersebut, malam ini dingin sama seperti pikiran nya yang terus memikirkan windu.
Tiba - tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah nya dari luar, bergegas lah aira menghampiri ketukan yang memanggil manggil nya. Aira membuka nya pelan pelan, ternyata windu. Aira kaget sampai ia membuka mata nya lebar lebar, padahal keadaan diluar dingin dan sedang gerimis. Aira pun terus memutar kan pikiran nya dan berusaha menjawab pertanyaan yang menanyakan batin nya.
"Du, kamu? ayo masuk dulu, gak enak bicara di depan pintu" aira mempersilahkan
Windu tersenyum dan melangkah masuk kedalam, windu malam ini tampak pucat dan memakai jaket dan jeans serta topi kupluk nya.
"Maaf ya ra, aku datang semalam ini. Ya, aku takut kamu marah atau bahkan benci sama aku" ujar windu memulai topik pembicaraan
"Awal nya sih aku kecewa karna kamu gak bisa commite sama rencana kamu, aku udah maafin kok walaupun masih ada sedikit kecewa"
"Aku minta maaf bgt ra, makasih sebelum nya udah maafin aku" ujar windu sambil memegang tangan aira
Aira kaget, terus menatap dalam mata nya sampai mereka berdua tak sadar kalau mereka saling bertatapan. seketika aira sadar, membuyarkan pandangan nya begitu pula dengan windu.
"Aku kira, kamu gak bakal lagi ketemu sama aku, tiba tiba sih hilang nya" ujar nya sambil membawa hot chocolate untuk windu
"Kan gak selama nya yang tiba tiba bisa jadi selama nya kan ra"
"Iya sih du, emg kamu kenapa gak bisa dateng waktu itu?" tanya aira sambil meletakan segelas hot chocolate di atas meja
"Aku ada urusan sama keluarga aku yang ada di melbourne"
Aira hanya menganggukan kepalanya sambil meminum kembali hot chocholate nya, begitu juga windu ia mencicipi hot chocolate buatan aira.
"Hmm.... enak ya ternyata hot chocolate buatan kamu, kamu suka banget sama coklat?"
Aira tertawa kecil "hmmm....gak terlalu sih, agak pahit sih sebenernya coklat. Tapi. kalo pikiran lagi pahit gini jadi enak, sedikit manis"
Aira mengerutkan dahi nya melihat ada yang aneh dari windu, dari hidung windu seperti ada darah yang keluar "Ndu.... hidung kamu berdarah, kamu sakit?!" tanya nya, aira segera menyeka nya dengan tangan nya sendiri.
Windu memegang tangan aira yang sedang membersihkan darah yang menyisa dari hidung nya. "Aku gak apa apa ra, cuma mimisan biasa kayak gini kok. Cuma kecapekan aja"
"Kamu yakin ndu? muka kamu pucat loh"
"Nggak kok, oh iya.....kayak nya aku harus pulang deh"
"Tapi, kamu...."
Windu menyelak omongan aira
"Aku pulang ya" ujarnya sambil menuju ke arah pintu begitu juga aira menemani windu sampai luar.
Setelah windu sudah tak terlihat lagi dengan pandangan nya, aira segera masuk ke dalam lagi sambil bertanya- tanya dalam hati.
"Tuhan....ada apa dengan windu? sakit apa dia?"
Banyak pertanyaan yang berputar putar di dalam pikiran nya, tapi dia tak menemukan satu jawaban pun yang dapat meyakini hatinya.
Lama dia menunggu windu di depan toko Nusa Cendana kurang lebih sudah setengah jam, melihat ke kanan dan kekiri jalan tak nampak windu dengan vespa nya. Apa windu lupa? atau sengaja dia ingin mengerjai ku?. Aira mengelak dengan pertanyaan pertanyaan yang memutar di dalam benak nya, pukul tepat sebelas siang, sudah satu jam dia menunggu namun tak nampang batang hidung nya windu. Aira mulai gelisah rasanya ingin dia pulang tapii lagi lagi dia tak ingin melangkahkan kaki nya dia yakin windu pasti datang. Aira memasuki toko buku Nusa Cendana untuk menghilangkan rasa kejenuhan nya, dia tengok kearah luar jendela namun tidak nampak juga windu disana.
Sampai matahari hampir menenggelam kan dirinya windu tak nampak juga, dengan rasa kesal yang bercampur itu membuat aira harus melangkah kan kaki nya untuk meninggalkan toko buku Nusa Cendana.
***
Sesampainya di rumah, ia bergegas memasuki kamar nya tak ingin terlalu lama lama di luar, hanya mengingatkan kejadian yang ia harapkan tak akan terulang lagi. Aira nampak sibuk dengan handphone nya yang sedari tadi terus menghubungi windu, tetapi windu tak bisa di hubungi, aira berpikir sepertinya windu lari dari janji nya.
"Apa sih maksud dari permainan windu? aku kira dia bakalan nepatin janji nya, nyata nya? dia lari" gerutunya dalam hati. Air mata nya dengan sendiri membasahi pipi tembam nya, dia menggerutu lagi dalam hati "Ah untuk apa aku menangisi ini, rasanya bodoh kalau harus mengeluarkan airmata untuk orang yang ingkar janji" gumam nya kembali.
Dilain tempat....
Di rumah yang minimalis ini yang masih terlihat nuansa elite dan suasana sepi karna hanya di tinggali oleh satu orang sangat terasa. Ruang tamu, dapur tak ada aktivitas di ruangan ini namun di kamar yang berdekorasi hitam dan putih dengan pola garis garis di tembok dan sangat tertata rapi benda benda yang ada di kamar itu, terbaringlah seorang laki laki yang terlihat dengan alat bantu oksigen dan wajah nya yang pucat terlihat dalam keadaan yang cukup mengkhawatir kan, siapakah laki - laki? apakah laki laki ini windu?
***
Untuk yang pertama kali lagi setelah lulus dari SMA aira baru menyambahi tempat ini, bukit dekat sekolah yang biasa ia datangi bersama putra dulu. Tempat nya masih sama, terpaan angin nya pun juga masih sama sangat kencang, pemandangan dari ujung ke ujung pun masih sama, namun yang tidak sama aira kali ini sendiri tanpa putra.
Aira sedang sibuk menulis kata kata di atas binder nya menjadi sebuah kalimat yang jelas.
***
Untuk yang pertama kali lagi setelah lulus dari SMA aira baru menyambahi tempat ini, bukit dekat sekolah yang biasa ia datangi bersama putra dulu. Tempat nya masih sama, terpaan angin nya pun juga masih sama sangat kencang, pemandangan dari ujung ke ujung pun masih sama, namun yang tidak sama aira kali ini sendiri tanpa putra.
Aira sedang sibuk menulis kata kata di atas binder nya menjadi sebuah kalimat yang jelas.
Aku Kembali
Aku kembali dengan semua ingatanku
Aku kembali dengan seluruh hasratku
Hanya pemandangan dan angin angin
yang kembali menemaniku di sini
Di tempat ini yang dulu di penuhi tawa
oleh dua orang sahabat yang saling
menaruh janji akan kembali ke tempat ini.
Aira tak dapat membendung kumpulan air di mata nya, satu persatu airmata nya terjatuh tepat di tulisan yang dia tulis di atas binder nya. Tak ingin mengingat - ingat adegan demi adegan yang dulu pernah mereka buat disini, di bukit ini yang sampai sekarang belum di beri nama. Aira beranjak dari tempat ia duduk tak ingin terlalu membuat kerinduan yang sangat amat dalam pada putra. Akhir nya dia mulai melangkah meninggalkan bukit ini.
"Aku sudah kembali kesini putra namun kamu belum juga kembali, aku rindu, sangat rindu kamu putra" gumam aira di sela tangisan nya.
***
Tepat seminggu windu menghilang tanpa menepati janji nya atau pun meminta maaf melalui handphone nya yang tak di sambahi pesan satupun dari windu. Hati nya masih bertanya tanya "Kemana windu? dia lupa atau ada urusan lain? atau dia sakit?" keluh nya dalam hati.
Braga Permai....
"Eh gimana date pertama nya sama windu?" tanya maudy
"Nggg..... dia gak datang dy" jawab aira dengan wajah murung
"Loh kenapa?"
Selang beberapa menit sang pramusaji datang mengantar kan pesanan maudy dan aira, aira memberi senyum saat sang pramusaji meletakan pesanan seraya memberikan ucapan terima kasih.
Maudy melanjutkan pertanyaannya kepada aira lagi "Kok? aneh ya cowok, kurang ajar banget!, Lo udah nunggu dia di toko buku berapa jam?"
Aira mengangkat bahunya "Hmm..... dari siang sampai hampir malam lah dy" ujar nya sambil menyeruput frozen cappucino nya.
Tiba tiba saja handphone aira berdering, ternyata ada pesan masuk.
From: Windu
Aira, maaf satu minggu yang lalu aku gak bisa tepati janji aku.
Pasti kecewa sama aku, sekali lagi aku mohon maaf aira :)
***
Tepat seminggu windu menghilang tanpa menepati janji nya atau pun meminta maaf melalui handphone nya yang tak di sambahi pesan satupun dari windu. Hati nya masih bertanya tanya "Kemana windu? dia lupa atau ada urusan lain? atau dia sakit?" keluh nya dalam hati.
Braga Permai....
"Eh gimana date pertama nya sama windu?" tanya maudy
"Nggg..... dia gak datang dy" jawab aira dengan wajah murung
"Loh kenapa?"
Selang beberapa menit sang pramusaji datang mengantar kan pesanan maudy dan aira, aira memberi senyum saat sang pramusaji meletakan pesanan seraya memberikan ucapan terima kasih.
Maudy melanjutkan pertanyaannya kepada aira lagi "Kok? aneh ya cowok, kurang ajar banget!, Lo udah nunggu dia di toko buku berapa jam?"
Aira mengangkat bahunya "Hmm..... dari siang sampai hampir malam lah dy" ujar nya sambil menyeruput frozen cappucino nya.
Tiba tiba saja handphone aira berdering, ternyata ada pesan masuk.
From: Windu
Aira, maaf satu minggu yang lalu aku gak bisa tepati janji aku.
Pasti kecewa sama aku, sekali lagi aku mohon maaf aira :)
Aira tak langsung membalas pesan nya karna ia sangat kecewa dengan windu, lamgsung saja ia letakan kembali handphone nya diatas meja.
"Dari siapa ra? tanya maudy sambil mengunyah spagetti nya.
"Windu" jawab aira datar.
***
Sesampai nya aira di rumah dia langsung saja menghempaskan tubuh nya di ranjang nya, mengutak atik handphone nya merangkai kata kata untuk membalas pesan dari windu yang sedari siang belum dia balas. Sudah terangkai kata untuk di kirim namun aira menghapus nya dan itu berkali kali dia lakukan, karna kesal langsung saja dia banting hapenya di ranjang.
"Arghhhhh kenapa coba sama gue?! gue kan baru kenal sama windu! apa hak gw coba buat kayak gini" gumam nya dalam hati
Aira pun mencoba merileks kan fikiran dan tubuh nya, dengan cara memejamkan mata dan berkali kali menarik nafas yang dalam kemudian membuangnya di lakukan berulang ulang.
Setelah itu aira mencoba membuat hot chocolate yang biasa dia buat saat keadaan nya suntuk seperti saat ini.
Aira menyeruput sedikit hot chocholate nya, sambil menikmati aroma coklat yang mulai menusuk kedalam hidung nya dan berkumpul ke dalam angan angan nya berputar putar membua nya sedikit rileks karna aroma tersebut, malam ini dingin sama seperti pikiran nya yang terus memikirkan windu.
Tiba - tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah nya dari luar, bergegas lah aira menghampiri ketukan yang memanggil manggil nya. Aira membuka nya pelan pelan, ternyata windu. Aira kaget sampai ia membuka mata nya lebar lebar, padahal keadaan diluar dingin dan sedang gerimis. Aira pun terus memutar kan pikiran nya dan berusaha menjawab pertanyaan yang menanyakan batin nya.
"Du, kamu? ayo masuk dulu, gak enak bicara di depan pintu" aira mempersilahkan
Windu tersenyum dan melangkah masuk kedalam, windu malam ini tampak pucat dan memakai jaket dan jeans serta topi kupluk nya.
"Maaf ya ra, aku datang semalam ini. Ya, aku takut kamu marah atau bahkan benci sama aku" ujar windu memulai topik pembicaraan
"Awal nya sih aku kecewa karna kamu gak bisa commite sama rencana kamu, aku udah maafin kok walaupun masih ada sedikit kecewa"
"Aku minta maaf bgt ra, makasih sebelum nya udah maafin aku" ujar windu sambil memegang tangan aira
Aira kaget, terus menatap dalam mata nya sampai mereka berdua tak sadar kalau mereka saling bertatapan. seketika aira sadar, membuyarkan pandangan nya begitu pula dengan windu.
"Aku kira, kamu gak bakal lagi ketemu sama aku, tiba tiba sih hilang nya" ujar nya sambil membawa hot chocolate untuk windu
"Kan gak selama nya yang tiba tiba bisa jadi selama nya kan ra"
"Iya sih du, emg kamu kenapa gak bisa dateng waktu itu?" tanya aira sambil meletakan segelas hot chocolate di atas meja
"Aku ada urusan sama keluarga aku yang ada di melbourne"
Aira hanya menganggukan kepalanya sambil meminum kembali hot chocholate nya, begitu juga windu ia mencicipi hot chocolate buatan aira.
"Hmm.... enak ya ternyata hot chocolate buatan kamu, kamu suka banget sama coklat?"
Aira tertawa kecil "hmmm....gak terlalu sih, agak pahit sih sebenernya coklat. Tapi. kalo pikiran lagi pahit gini jadi enak, sedikit manis"
Aira mengerutkan dahi nya melihat ada yang aneh dari windu, dari hidung windu seperti ada darah yang keluar "Ndu.... hidung kamu berdarah, kamu sakit?!" tanya nya, aira segera menyeka nya dengan tangan nya sendiri.
Windu memegang tangan aira yang sedang membersihkan darah yang menyisa dari hidung nya. "Aku gak apa apa ra, cuma mimisan biasa kayak gini kok. Cuma kecapekan aja"
"Kamu yakin ndu? muka kamu pucat loh"
"Nggak kok, oh iya.....kayak nya aku harus pulang deh"
"Tapi, kamu...."
Windu menyelak omongan aira
"Aku pulang ya" ujarnya sambil menuju ke arah pintu begitu juga aira menemani windu sampai luar.
Setelah windu sudah tak terlihat lagi dengan pandangan nya, aira segera masuk ke dalam lagi sambil bertanya- tanya dalam hati.
"Tuhan....ada apa dengan windu? sakit apa dia?"
Banyak pertanyaan yang berputar putar di dalam pikiran nya, tapi dia tak menemukan satu jawaban pun yang dapat meyakini hatinya.
Rabu, 22 Agustus 2012
Orang baru (Kata di balik rindu 4)
Dikantin kampus...
Aira melihat ke arah jam tangannya, seperti nya ada yang dia tunggu. Seperti biasa menunggu maudy "Ah lama nih anak, udah keluar kelas belum sih? keburu dingin aja ini makanan".
Dari jauh nampak maudy jalan terburu buru dengan membawa laptop dan buku buku materi kuliah nya, kedua tangan nya nampak penuh dengan itu.
"Aduhhh, sorry yah ra tadi ada presentasi novel bahasa inggris gw" ujarnya seraya memberi alasan agar aira percaya. Maudy adalah anak fakultas dari sastra inggris di Universitas padjajaran yang juga tempat aku menuntut ilmu,aku berbeda fakultas dengan dia, kalau aku fakultas Psikologi.
"Iya iya maudyyyy, percaya gw percaya"
Maudy nampak haus, di seruputnya ice cappucino di depannya sampai setengah gelas.
"Selow mbak minum nya kayak kuli" ujarnya membisikan ke arah maudy sambil menahan tawa
Maudy melirik sinis aira, seakan akan jengkel dengan ledekan aira tadi. Sedangkan aira nampak sangat terbahak bahak.
Sejenak aira memberhentikan tawa nya pelan " Haduhhh, jangan ngambek dong maudy sayangggg" aira mendekatkan wajah nya sambil memelas kearah maudy
"Lagian sih lo gak ngertiin temen banget" maudy memanyunkan bibir nya.
Aira memulai membuka topik pembicaraan " Eh gw masih penasaran banget sama yang motret gw kemarin".
"Jadi topik nya ganti nih? bukan si itu lagi tuhhhh" ledek maudy sambil menertawai balik aira.
"Menurut lo? Jadi gw kok serbasalah ya? serbasalah kalo cantik, serbasalah kalo galau" ujarnya seraya meledek maudy
Tiba tiba saja maudy mengagetkan dengan apa yang ingin dia sampai kan " aha! gw tau cara nya biar lo ketemu lagi sama yang motret lo"
Aira melipat bibir mungilnya kedalam "Hmm.....". "Ahhhh udah gak usah banyak pikir! biar gw atur nanti".
"Kapan?" aira nampak bingung
"Sekaranglah nonaaaaa"
***
Braga.....
"Kita mau ketoko buku lagi dy?!"
"Iyalah, kemana lagi coba?. Maudy dan aira agak mempercepat langkah nya agar sampai toko buku pada saat orang itu ada
Sesampai nya di toko buku Nusa Cendana. mereka berdua memulai "drama" dadakan mereka, di tempat yang sama aira berdiri, aira pura pura memilih milih novel, pura pra membaca juga padahal tak ada yang ingin dia beli. Sedangkan maudy mengumpat di titik paling strategis apabila cahaya itu tertangkap olehnya. Tak lama kemudian ada cahaya kamera dari samping membias ke arah aira. langsung saja maudy kearah sinar itu berasal, ternyata di rak novel yang tak jauh dari tempat aira berdiri.
Maudy menjambak jaket dari orang yang memotret aira tadi. Langsung saja aira menghampiri maudy. "Nah....ini dia pengagum rahasia lo ra!"
"Eh udah udah baru kenal masa udah kasar"
Sedangkan orang itu nampak tak ada ekspresi marah atau apapun. "Udah puas? gw pergi ya" dengan tampak jutek dan sinis orang itu pun langsung bergegas keluar sambil membawa kamera SLR nya.
Maudy dan aira nampak keheranan hanya bisa mengerutkan dahi dan mata mengikuti langkah org itu.
"kok ada sih cowok gitu?!" ujar maudy keheranan
"adalah manusia yang kayak lo juga banyak" sambar aira kemudian melangkah keluar toko
Maudy mengikuti aira dr belakang "eh sialan lo, tungguin gw mblo"
***
Malam ini maudy menginap di rumah aira, ya seperti biasa kalau sudah betah di rumah aira, maudy malas pulang ke kost-an nya. Seperti biasa mereka duduk duduk di balkon atas rumah aira.
"eh....tapi tadi orang itu di lihat lihat kece juga sih ra" ujar maudy ambil mengunyah makanan. Entah aira sedang menghayal apa sampai senyum senyum. " yeeee, di ajak ngomong malah senyum senyum, lagi mengkhayal cowok itu ya?" ujar maudy sambil melempar chiki ke arah aira
"Lo lebih sok tau dari hati gue ya dy?" ujar aira sambil menga,bil majalah yang ada di dekatnya
"Gak sok tau kok, kan gue cuma nebak ra" ujarnya masih sibuk dgn camilan dan majalah
"Awas ya kalo sampe kepo" ujarnya kemudian tertawa
Maudy melempar bantal emote yang ada di samping nya.
"ah gw mau tdr ya, ngantuk"
Keesokannya, sore hari aira balik ke toko buku, rasa penasaran yang membelenggu hatinya memaksakan langkah nya ke toko buku Nusa Cendana. Di balik balik buku novel yang ada di toko, dia sengaja berdiri di tempat yang berbeda, apa kah orang itu memotret dia lagi?. Hampir satu jam ia tunggu di dalam toko, sepertinya di luar matahari telah menenggelamkan diri nya, dengan sedikit rasa kesal dan kecewa ia keluar dari toko.
"Kenapa coba itu cowok gak ada pas gw tunggu tunggu?"gumamnya dalam hati.
Aira menunggu taksi yang lewat di depan toko tersebut, namun bukan taksi yang berhenti. tetapi seorang laki laki yang memakai vespa berhenti di depannya, aira hanya mengerutkan dahinya. Laki laki ini yang memakai helm yang terbuka, jaket jeans,dalaman kaus putih dan celana jeans yang sebelumnya tak pernah ia kenal mungkin salah orang. Kemudian laki laki ini membuka helm nya, membuat aira kaget, ternyata laki laki yang memotret ia di toko buku.
"Ayo naik, mau aku anterin gak?" ujar laki laki itu
"Kamu lagi?!"
"Mau aku anterin gak nih? apa aku tinggalin aja kali ya" ledek laki laki itu dengan tampang sinis seraya ingin mengambil gas motornya
" Eittttt bentar bentar" aira menengok ke kanan dan kekiri, tampak sepi hanya ada mobil pribadi dan motor saja yang lewat, tak ada taksi sedari tadi yang lewat.
Aira menarik napas nya dalam dalam "Iyadeh aku terima tawaran kamu" jawab nya dengan tampang jutek.
Di perjalanan tak ada kata kata yang keluar dari laki laki itu, hanya deru angin dan kendaraan saja yang terdengar, untuk membuat suasana tidak kaku aira pun membuka pembicaraan.
"eh, kamu kok waktu itu motret aku sih?" tanya aira agak ragu
"Iseng aja" jawab nya dengan datar tak menoleh sedikit pun ke belakang
"Cuma itu?"
"Ya, terus aku mau jawab apa? aku fans kamu gitu? kepedean bgt sih" jawabnya sambil tertawa sinis
Aira mengoceh dalam hati, tak terima laki laki itu menjawab seperti itu "ih! ini cowok atau apa sih? jutek nya ngalahin bapak gw, amit amit!"
"Kenapa? salah aku jawab gitu? mau bilang aku sinis? atau aku jutek?"
"ngggg... nggak kok, nggak. oh iya nama aku aira, kamu?" jawabnya sambil mesem mesem
"Windu, windu permana jelas nya"jawab laki laki itu, kali ini dia jawab tak sedatar tadi.
***
Braga permai...
"Lo tau gak sih?! kemarin gw ketemu siapa?!" ujar aira emosi
"Siapa siapa?!" jawab maudy kaget sambil menutup mulut nya dengan kedua tangan
"Windu!" jawab aira dengan nada keras dan kesal
Maudy bingung, hanya menaikan sebelah alis nya.
"hah? siapa tuh?"
"Oh iya gw belum jelasin ya, laki laki yang lo tarik jaket nya pas di toko buku"
Maudy yang sedang meminum frozen cappucino nya tampak kaget dan tersedak.
"Apa?! dia?! kok bisa sihhhh? ciye aira, nge-date pertama tuh" ujarnya sambil menaikan kedua alis nya.
"Sok tau lo!". Aira mengalihkan pandang nya ke arah luar, tak lama terlihat sosok windu yang berjalan melewati Braga Permai Restaurant. "Eh ada windu!" ujarnya sambil menunjuk ke arah luar.
"Mana mana?!" maudy berusaha melihat nya namun windu sudah tak terlihat, aira buru buru beranjak dari bangku nya dan keluar mengejar langkah kaki windu.
Aira berlari sambil memanggil windu. Windu berhenti sejenak mencari arah yang memanggil, windu menoleh ke belakang terlihat aira sedang berlari menghampiri windu.
"Aduh windu aku manggil manggil kamu dari tadi" ujarnya dengan nafas terengah engah
Windu tertawa "Emang kamu mau ngapain ngejar aku?"
"Ya, Iseng aja" jawab nya dengan tampang jutek
Windu menggelengkan kepala sambil tertawa kecil "Hah?! Sorry ya aku buru buru ada urusan" windu pun beranjak melanjut kan langkah nya
Aira mencegah windu "Eh, bentar dong, kamu ikut aku ya?" ujar aira seraya memohon
Windu menganggukan kepala nya, aira tersenyum lebar. Kemudian mereka membalikan langkah nya ke Braga Permai Restaurant.
***
Sesampai nya di braga, aira dan windu menghampiri maudy yang sedari tadi menunggu mereka.
"Eh dy, sorry ya lama tadi, ngejar nya juga capek" ujar aira kemudian mengambil posisi untuk duduk.
"Hmm.....ngapain dulu sih lo? main drama kejar kejaran ala india?"
Windu menahan tawa.
"Oh iya, dy kenalin ini nih windu"
"Windu" kata windu sambil mengulurkan tangannya. "Maudy" ujar maudy sambil membalas uluran tangan windu
"Ini nih yang waktu itu jambak jaket kamu du"
"Ya, maaf kan gw kesel waktu itu" ujar maudy sambil mengalih kan pandangan nya
"Oh iya, santai aja kok" ujar windu sambil tertawa kecil.
Aira sejenak memandangi windu yang sedang tersenyum. Ini awal pertama kali dia melihat windu tersenyum, di balik kejutekan dan ke sinisan dia ternyata windu tak sejutek dan sesinis yang aira kira, ternyata masih ada sisi lembut di balik sifat nya windu itu.
Malamnya, aira sedang bersantai bersama laptop nya di atas kasur, dia masih terbayang bayang dengan sosok windu, windu mulai terlihat ramah dengan aira. Tidak seperti pertama kali dia bertemu, senyum nya windu tak sejutek sifat dia ternyata, senyum nya hangat. Lamunan nya seketika buyar karna getar dari handphone nya aira, ternyata ada pesan masuk.
From : Windu
Aira, kamu besok ada acara gak?
Aira kaget, dia kira windu tak akan menghubungi dia. Di ketik nya balasan pesan untuk windu.
Uhm...gak ada kok, kebetulan besok juga free kuliah
Kemudian aira memencet tombol send dan menaruh handphone nya tepat di sampingnya. Tak lama ada pesan masuk, ternyata masih dari windu.
From: Windu
Oke, ketemu di depan toko buku Nusa Cendana ya :)
Aira tersenyum lebar, ternyata windu ingin bertemu dengan nya lagi setelah pertemuannya tadi. Rasanya malam ingin ia percepat menjadi pagi.
"Menurut lo? Jadi gw kok serbasalah ya? serbasalah kalo cantik, serbasalah kalo galau" ujarnya seraya meledek maudy
Tiba tiba saja maudy mengagetkan dengan apa yang ingin dia sampai kan " aha! gw tau cara nya biar lo ketemu lagi sama yang motret lo"
Aira melipat bibir mungilnya kedalam "Hmm.....". "Ahhhh udah gak usah banyak pikir! biar gw atur nanti".
"Kapan?" aira nampak bingung
"Sekaranglah nonaaaaa"
***
Braga.....
"Kita mau ketoko buku lagi dy?!"
"Iyalah, kemana lagi coba?. Maudy dan aira agak mempercepat langkah nya agar sampai toko buku pada saat orang itu ada
Sesampai nya di toko buku Nusa Cendana. mereka berdua memulai "drama" dadakan mereka, di tempat yang sama aira berdiri, aira pura pura memilih milih novel, pura pra membaca juga padahal tak ada yang ingin dia beli. Sedangkan maudy mengumpat di titik paling strategis apabila cahaya itu tertangkap olehnya. Tak lama kemudian ada cahaya kamera dari samping membias ke arah aira. langsung saja maudy kearah sinar itu berasal, ternyata di rak novel yang tak jauh dari tempat aira berdiri.
Maudy menjambak jaket dari orang yang memotret aira tadi. Langsung saja aira menghampiri maudy. "Nah....ini dia pengagum rahasia lo ra!"
"Eh udah udah baru kenal masa udah kasar"
Sedangkan orang itu nampak tak ada ekspresi marah atau apapun. "Udah puas? gw pergi ya" dengan tampak jutek dan sinis orang itu pun langsung bergegas keluar sambil membawa kamera SLR nya.
Maudy dan aira nampak keheranan hanya bisa mengerutkan dahi dan mata mengikuti langkah org itu.
"kok ada sih cowok gitu?!" ujar maudy keheranan
"adalah manusia yang kayak lo juga banyak" sambar aira kemudian melangkah keluar toko
Maudy mengikuti aira dr belakang "eh sialan lo, tungguin gw mblo"
***
Malam ini maudy menginap di rumah aira, ya seperti biasa kalau sudah betah di rumah aira, maudy malas pulang ke kost-an nya. Seperti biasa mereka duduk duduk di balkon atas rumah aira.
"eh....tapi tadi orang itu di lihat lihat kece juga sih ra" ujar maudy ambil mengunyah makanan. Entah aira sedang menghayal apa sampai senyum senyum. " yeeee, di ajak ngomong malah senyum senyum, lagi mengkhayal cowok itu ya?" ujar maudy sambil melempar chiki ke arah aira
"Lo lebih sok tau dari hati gue ya dy?" ujar aira sambil menga,bil majalah yang ada di dekatnya
"Gak sok tau kok, kan gue cuma nebak ra" ujarnya masih sibuk dgn camilan dan majalah
"Awas ya kalo sampe kepo" ujarnya kemudian tertawa
Maudy melempar bantal emote yang ada di samping nya.
"ah gw mau tdr ya, ngantuk"
Keesokannya, sore hari aira balik ke toko buku, rasa penasaran yang membelenggu hatinya memaksakan langkah nya ke toko buku Nusa Cendana. Di balik balik buku novel yang ada di toko, dia sengaja berdiri di tempat yang berbeda, apa kah orang itu memotret dia lagi?. Hampir satu jam ia tunggu di dalam toko, sepertinya di luar matahari telah menenggelamkan diri nya, dengan sedikit rasa kesal dan kecewa ia keluar dari toko.
"Kenapa coba itu cowok gak ada pas gw tunggu tunggu?"gumamnya dalam hati.
Aira menunggu taksi yang lewat di depan toko tersebut, namun bukan taksi yang berhenti. tetapi seorang laki laki yang memakai vespa berhenti di depannya, aira hanya mengerutkan dahinya. Laki laki ini yang memakai helm yang terbuka, jaket jeans,dalaman kaus putih dan celana jeans yang sebelumnya tak pernah ia kenal mungkin salah orang. Kemudian laki laki ini membuka helm nya, membuat aira kaget, ternyata laki laki yang memotret ia di toko buku.
"Ayo naik, mau aku anterin gak?" ujar laki laki itu
"Kamu lagi?!"
"Mau aku anterin gak nih? apa aku tinggalin aja kali ya" ledek laki laki itu dengan tampang sinis seraya ingin mengambil gas motornya
" Eittttt bentar bentar" aira menengok ke kanan dan kekiri, tampak sepi hanya ada mobil pribadi dan motor saja yang lewat, tak ada taksi sedari tadi yang lewat.
Aira menarik napas nya dalam dalam "Iyadeh aku terima tawaran kamu" jawab nya dengan tampang jutek.
Di perjalanan tak ada kata kata yang keluar dari laki laki itu, hanya deru angin dan kendaraan saja yang terdengar, untuk membuat suasana tidak kaku aira pun membuka pembicaraan.
"eh, kamu kok waktu itu motret aku sih?" tanya aira agak ragu
"Iseng aja" jawab nya dengan datar tak menoleh sedikit pun ke belakang
"Cuma itu?"
"Ya, terus aku mau jawab apa? aku fans kamu gitu? kepedean bgt sih" jawabnya sambil tertawa sinis
Aira mengoceh dalam hati, tak terima laki laki itu menjawab seperti itu "ih! ini cowok atau apa sih? jutek nya ngalahin bapak gw, amit amit!"
"Kenapa? salah aku jawab gitu? mau bilang aku sinis? atau aku jutek?"
"ngggg... nggak kok, nggak. oh iya nama aku aira, kamu?" jawabnya sambil mesem mesem
"Windu, windu permana jelas nya"jawab laki laki itu, kali ini dia jawab tak sedatar tadi.
***
Braga permai...
"Lo tau gak sih?! kemarin gw ketemu siapa?!" ujar aira emosi
"Siapa siapa?!" jawab maudy kaget sambil menutup mulut nya dengan kedua tangan
"Windu!" jawab aira dengan nada keras dan kesal
Maudy bingung, hanya menaikan sebelah alis nya.
"hah? siapa tuh?"
"Oh iya gw belum jelasin ya, laki laki yang lo tarik jaket nya pas di toko buku"
Maudy yang sedang meminum frozen cappucino nya tampak kaget dan tersedak.
"Apa?! dia?! kok bisa sihhhh? ciye aira, nge-date pertama tuh" ujarnya sambil menaikan kedua alis nya.
"Sok tau lo!". Aira mengalihkan pandang nya ke arah luar, tak lama terlihat sosok windu yang berjalan melewati Braga Permai Restaurant. "Eh ada windu!" ujarnya sambil menunjuk ke arah luar.
"Mana mana?!" maudy berusaha melihat nya namun windu sudah tak terlihat, aira buru buru beranjak dari bangku nya dan keluar mengejar langkah kaki windu.
Aira berlari sambil memanggil windu. Windu berhenti sejenak mencari arah yang memanggil, windu menoleh ke belakang terlihat aira sedang berlari menghampiri windu.
"Aduh windu aku manggil manggil kamu dari tadi" ujarnya dengan nafas terengah engah
Windu tertawa "Emang kamu mau ngapain ngejar aku?"
"Ya, Iseng aja" jawab nya dengan tampang jutek
Windu menggelengkan kepala sambil tertawa kecil "Hah?! Sorry ya aku buru buru ada urusan" windu pun beranjak melanjut kan langkah nya
Aira mencegah windu "Eh, bentar dong, kamu ikut aku ya?" ujar aira seraya memohon
Windu menganggukan kepala nya, aira tersenyum lebar. Kemudian mereka membalikan langkah nya ke Braga Permai Restaurant.
***
Sesampai nya di braga, aira dan windu menghampiri maudy yang sedari tadi menunggu mereka.
"Eh dy, sorry ya lama tadi, ngejar nya juga capek" ujar aira kemudian mengambil posisi untuk duduk.
"Hmm.....ngapain dulu sih lo? main drama kejar kejaran ala india?"
Windu menahan tawa.
"Oh iya, dy kenalin ini nih windu"
"Windu" kata windu sambil mengulurkan tangannya. "Maudy" ujar maudy sambil membalas uluran tangan windu
"Ini nih yang waktu itu jambak jaket kamu du"
"Ya, maaf kan gw kesel waktu itu" ujar maudy sambil mengalih kan pandangan nya
"Oh iya, santai aja kok" ujar windu sambil tertawa kecil.
Aira sejenak memandangi windu yang sedang tersenyum. Ini awal pertama kali dia melihat windu tersenyum, di balik kejutekan dan ke sinisan dia ternyata windu tak sejutek dan sesinis yang aira kira, ternyata masih ada sisi lembut di balik sifat nya windu itu.
Malamnya, aira sedang bersantai bersama laptop nya di atas kasur, dia masih terbayang bayang dengan sosok windu, windu mulai terlihat ramah dengan aira. Tidak seperti pertama kali dia bertemu, senyum nya windu tak sejutek sifat dia ternyata, senyum nya hangat. Lamunan nya seketika buyar karna getar dari handphone nya aira, ternyata ada pesan masuk.
From : Windu
Aira, kamu besok ada acara gak?
Aira kaget, dia kira windu tak akan menghubungi dia. Di ketik nya balasan pesan untuk windu.
Uhm...gak ada kok, kebetulan besok juga free kuliah
Kemudian aira memencet tombol send dan menaruh handphone nya tepat di sampingnya. Tak lama ada pesan masuk, ternyata masih dari windu.
From: Windu
Oke, ketemu di depan toko buku Nusa Cendana ya :)
Aira tersenyum lebar, ternyata windu ingin bertemu dengan nya lagi setelah pertemuannya tadi. Rasanya malam ingin ia percepat menjadi pagi.
Rindu ini akrab (Kata di balik rindu part 3)
Di teras rumah....
Aira terlihat sedang menyibukan dirinya dengan binder yang sedang ia tulis tulis. Satu kata demi kata tersusun rapi menjadi sebuah kalimat yang sangat jelas. Aira menuliskan kata kata kerinduan ia untuk putra.
Rindu ini akrab
Ketika aku melihat senyum mu
Ketika aku menggenggam tangan mu
Ketika aku bersandar di bahumu
Ketika aku melangkah bersama mu
Ketika semua itu pula....
aku hanya bisa merasakan di dalam mimpi ku
Rindu ini terlebih akrab....
Ketika aku tak dapat menyentuh mu
Namun aku hanya bisa memikirkan mu
Ketika aku melihat senyum mu
Ketika aku menggenggam tangan mu
Ketika aku bersandar di bahumu
Ketika aku melangkah bersama mu
Ketika semua itu pula....
aku hanya bisa merasakan di dalam mimpi ku
Rindu ini terlebih akrab....
Ketika aku tak dapat menyentuh mu
Namun aku hanya bisa memikirkan mu
Aira nampak sedang mengutak atik laptop nya, melihat layar yang ternyata sedang memainkan social media yaitu e-mail nya. Berharap ada email datang dari negara sebrang sana, beberapa menit ia merefresh ternyata memang tak ada e-mail baru untuk nya. Sesibuk apa putra? sampai dia lupa untuk kirim kabar, atau dia sibuk dengan teman baru nya smpai melupakan aku?. Aira menarik nafas sangat dalam "Aku terlupakan? kamu tidak tahu kalau aku sangat merindu mu putra?" dia terus memandangi layar laptop penuh harap ada e-mail dari putra, ia berkedip berkali kali, memang tak ada.
***
Malam ini langit begitu cerah, banyak bintang yang menghiasi alngit langit. seperti biasa merebahkan tubuhku di balkon sambil memandang dalam dalam bintang itu satu persatu, adakah kamu di sana?
Di sebrang sana, Pukul 08:00 waktu amerika.
Musim di sini sedang mengalami musim semi, bunga bunga bermekaran di setiap kebun termasuk kebun di dekat tempat tinggal putra di sana, terdapat sebuah bunga yang menyita perhatian nya. Anemone bisa di sebut juga bunga angin mempunyai tinggi dua sampai tiga kaki. Bunga ini sangat mencolok berwarna merah dengan mata bunga berwarna coklat dan di sekeliling mata bunga terdapat warna merah jambu. Sejenak bunga angin ini mengingatkan dia akan aira. Aira sama seperti bunga angin ini selalu memberikan rasa tenang dan nyaman ketika berada dekat.
Di waktu yang lain, aira sedang bergumam dalam hati "Kata kamu setiap ada bintang itu adalah kamu, aku bisa merasakan pada bintang yang paling terang itu, aku rasa itu kamu. Bintang kirim salam rindu aku untuknya".
***
Aira memasuki braga permai, suasana nostalgia yang sangat melekat pada interior braga permai ini tak sama sekali mengingatkan akan putra karna mereka sebelumnya tak pernah ke sini. menghampiri maudy dengan wjah yang tak enak "Kenapa ketemu nya disini? jalannya kan macet" kemudian duduk dan melanjutkan ocehan nya "ah lo dengerin gw gak sih?".
Maudy diam, matanya berjalan dari atas sampai bawah melihat aira.
"Udah ngoceh nya? gw gak mau ngebawa lo ketempat yang masih berbau tentang putra"
"Hmmm...."
Maudy menyeruput orange juice nya, lalu memutar mutarkan sedotannya, agar rasa orange juice itu merata. "Lo gak bisa jawab? masih nahan kangen?".
Aira hanya mengangkat bahu, memutar mutarkan sedotan di orange juice juga yang sudah di pesan maudy. Aira menghela nafas dan menghembuskan nya, mengingatkan rasa rindu ini semakin menempel seperti noda pada penggorengan yang susah di cuci.
Maudy melambaikan tangan nya tepat di wajah aira "Tuhkan.....ini nih jeleknya dari lo. tiba tiba galau, ngapain sih?! move on lah!".
"Yeeee kata siapa?! sok tau lo, melamun gak berarti galau kan?" aira membela diri seakan tak ingin terlihat seperti itu.
"Ah lama lama gw namain ratu galau sekampus juga lo, terus gw pajang deh di mading" maudy tertawa, aira hanya diam dengan tampang bete nya smbil menyedot kembali orange juice nya.
"Oh iya gw mau ke toko buku nih dy, di sekitar sini ada kan?"
Mudy mengangguk kan kepalanya "Ada di dekat persimpangan braga, namanya toko buku nusa cendana" ujarnya
"Yaudah yuk, mau lihat lihat novel terbaru" maudy dan aira beranjak keluar, sebelum itu maudy menaruh uang diatas bill untuk di bayar.
Jalan braga sangat ramai, turis dalam negri dan turis luar negri lalu lalang di antara maudy dan aira, ada juga penduduk asli bandung sekedar berwisata atau bersantai di cafe cafe sekitar sini.
"Gue gak terlalu suka braga, gak tau kenapa"
"gw tau! karna gak ada kenangan tentang putra disini kan?" sambar maudy
Aira menggelengkan kepalanya "Harus gw jawab kayak gitu? terlalu banyak aktivitas disini"
***
Sesampainya di Toko Nusa Cendana...
Aira melihat satu demi satu novel terbarunya, dia kelihatan bingung karna semua novel itu bagus ceritanya, tiba tiba saja ada sinar kamera yang membias ke aira, refleks ia langsung menoleh sambil mengerutkan dahi, dia minjinjitkan kaki nya melihat kearah sinar kamera yang datang tadi. melihat ke kanan dan kekiri ruangan, terasa sangat hening hanya ada beberapa pengunjung.
"maudy, maudy! sini deh" sambil melambaikan tangan nya memanggil maudy yang sedang asik memilih milih novel juga.
Maudy menoleh. "apaan sih?" kemudian berjalan menghampiri aira
"Lo ngerasa gak tadi kayak ada yang motret gw, ketara banget sinar kameranya"
Maudy sejenak berpikir, mengernyitkan dahinya "Ah, petir kali?!". "yeeee mengkhayal lihat dong diluar terang gitu" ujarnya sambil menunjuk kearah kaca
Maudy tertawa kecil. Menggaruk garuk kepalanya padahal tak terasa gatal sama sekali "iya juga sih ya. ah udah anggap aja fans. lihat besok lo ada di koran gak?" maudy menanggapi nya dengan nada serius namun agak bercanda dengan celotehannya.
Aira masih bingung, ia hanya mengangkat sebelah alis nya dan menggelengkan kepala. Menyingkirkan rasa penasaran nya sementara, dan menuju ke kasir untuk membayar salah stu novel yang ingin dia beli.
Di sebrang sana, Pukul 08:00 waktu amerika.
Musim di sini sedang mengalami musim semi, bunga bunga bermekaran di setiap kebun termasuk kebun di dekat tempat tinggal putra di sana, terdapat sebuah bunga yang menyita perhatian nya. Anemone bisa di sebut juga bunga angin mempunyai tinggi dua sampai tiga kaki. Bunga ini sangat mencolok berwarna merah dengan mata bunga berwarna coklat dan di sekeliling mata bunga terdapat warna merah jambu. Sejenak bunga angin ini mengingatkan dia akan aira. Aira sama seperti bunga angin ini selalu memberikan rasa tenang dan nyaman ketika berada dekat.
Di waktu yang lain, aira sedang bergumam dalam hati "Kata kamu setiap ada bintang itu adalah kamu, aku bisa merasakan pada bintang yang paling terang itu, aku rasa itu kamu. Bintang kirim salam rindu aku untuknya".
***
Aira memasuki braga permai, suasana nostalgia yang sangat melekat pada interior braga permai ini tak sama sekali mengingatkan akan putra karna mereka sebelumnya tak pernah ke sini. menghampiri maudy dengan wjah yang tak enak "Kenapa ketemu nya disini? jalannya kan macet" kemudian duduk dan melanjutkan ocehan nya "ah lo dengerin gw gak sih?".
Maudy diam, matanya berjalan dari atas sampai bawah melihat aira.
"Udah ngoceh nya? gw gak mau ngebawa lo ketempat yang masih berbau tentang putra"
"Hmmm...."
Maudy menyeruput orange juice nya, lalu memutar mutarkan sedotannya, agar rasa orange juice itu merata. "Lo gak bisa jawab? masih nahan kangen?".
Aira hanya mengangkat bahu, memutar mutarkan sedotan di orange juice juga yang sudah di pesan maudy. Aira menghela nafas dan menghembuskan nya, mengingatkan rasa rindu ini semakin menempel seperti noda pada penggorengan yang susah di cuci.
Maudy melambaikan tangan nya tepat di wajah aira "Tuhkan.....ini nih jeleknya dari lo. tiba tiba galau, ngapain sih?! move on lah!".
"Yeeee kata siapa?! sok tau lo, melamun gak berarti galau kan?" aira membela diri seakan tak ingin terlihat seperti itu.
"Ah lama lama gw namain ratu galau sekampus juga lo, terus gw pajang deh di mading" maudy tertawa, aira hanya diam dengan tampang bete nya smbil menyedot kembali orange juice nya.
"Oh iya gw mau ke toko buku nih dy, di sekitar sini ada kan?"
Mudy mengangguk kan kepalanya "Ada di dekat persimpangan braga, namanya toko buku nusa cendana" ujarnya
"Yaudah yuk, mau lihat lihat novel terbaru" maudy dan aira beranjak keluar, sebelum itu maudy menaruh uang diatas bill untuk di bayar.
Jalan braga sangat ramai, turis dalam negri dan turis luar negri lalu lalang di antara maudy dan aira, ada juga penduduk asli bandung sekedar berwisata atau bersantai di cafe cafe sekitar sini.
"Gue gak terlalu suka braga, gak tau kenapa"
"gw tau! karna gak ada kenangan tentang putra disini kan?" sambar maudy
Aira menggelengkan kepalanya "Harus gw jawab kayak gitu? terlalu banyak aktivitas disini"
***
Sesampainya di Toko Nusa Cendana...
Aira melihat satu demi satu novel terbarunya, dia kelihatan bingung karna semua novel itu bagus ceritanya, tiba tiba saja ada sinar kamera yang membias ke aira, refleks ia langsung menoleh sambil mengerutkan dahi, dia minjinjitkan kaki nya melihat kearah sinar kamera yang datang tadi. melihat ke kanan dan kekiri ruangan, terasa sangat hening hanya ada beberapa pengunjung.
"maudy, maudy! sini deh" sambil melambaikan tangan nya memanggil maudy yang sedang asik memilih milih novel juga.
Maudy menoleh. "apaan sih?" kemudian berjalan menghampiri aira
"Lo ngerasa gak tadi kayak ada yang motret gw, ketara banget sinar kameranya"
Maudy sejenak berpikir, mengernyitkan dahinya "Ah, petir kali?!". "yeeee mengkhayal lihat dong diluar terang gitu" ujarnya sambil menunjuk kearah kaca
Maudy tertawa kecil. Menggaruk garuk kepalanya padahal tak terasa gatal sama sekali "iya juga sih ya. ah udah anggap aja fans. lihat besok lo ada di koran gak?" maudy menanggapi nya dengan nada serius namun agak bercanda dengan celotehannya.
Aira masih bingung, ia hanya mengangkat sebelah alis nya dan menggelengkan kepala. Menyingkirkan rasa penasaran nya sementara, dan menuju ke kasir untuk membayar salah stu novel yang ingin dia beli.
Senin, 20 Agustus 2012
Aku mengakui nya (Kata di balik rindu part 2)
Aira nampak terburu buru, di lihatnya jam tangan menunjukan pukul 09:30 WIB setengah jam lagi putra berangkat jalanan nampak tak berpihak pada aira, macet sekali padahal lokasi macet tak jauh dari bandara. Karna terburu buru terpaksa dia turun dari taksi dan berlari menuju bandara. Sedangkan di lain tempat, putra nampak sedang menunggu kedatangan aira padahal putra seharusnya sudah masuk ke pesawat.
"Ya, Sebagian masa masa gw sama dia ya pernah gw habis kan di sini, di tempat yang lagi kita dudukin" ujarnya sambil menyeruput cappucino nya kemudian melanjutkan kembali omongan nya.
"Kita suka bgt di tempat ini gak terlalu tertutup cuma di batasin kaca yang ngebuat kita masih bisa ngelihat keadaan diluar, kita juga sering ngeledekin orang yang lalu lalang. iseng aja sih biar suasana gak terlalu kaku"
Maudy mengerutkan dahi sambil menopang dagu. Dia masih tampak serius mendengarkan cerita aira.
"woy! Sok serius lo ah" sambil menepuk tangan yang menopang dagu maudy membuat maudy hampir terjatuh
"Yeee, dari pada gw sibuk sms-an, mau gak di dengar ceritanya? Kesimpulan gw dr cerita lo ini kayak nya udah pernah dialamin sama banyak kalangan, so? you must move on!"
"Gak bisa dy! rasa nya aneh"
"Mau sampai kapan lo gini? gak mau ngebuka hati? emang lo mau nunggu dia sampe balik kesini, tapi udah ngegandeng cewek lain?"
"Enggak lah! kayak nya sejauh ini dia belum dekat sama siapa siapa disana, dia masih fokus sama kuliah nya"
"Siapa tau kan kejadian?! Kita perlu hati hati ai buat hal kayak gini. Dia itu masih semu kan? emg lo tau dia bakalan bales juga cinta lo? selama ini kan dia memberi sekat buat lo hanya sebatas sahabat" ujar maudy meyakinkan aira
Aira terus berpikir keras, memutar balikan kata kata yang di ucap maudy. Berpikir lebih dalam untuk hal ini sangat sakit kalau memang nanti kejadian yang di ucap maudy itu kejadian. Aira tak ingin sakit lebih dalam, tapi hatinya tak bisa bohong kalau dia masih menaruh kasih pada putra tanpa sepengetahuan putra.
"Apa yang harus gw lakuin? mencintai orglain tapi masih menyimpan sedikit sayang untuk putra? hati gw bukan kue yang seenak nya di kasih dy! sama aja gw nyakitin "orang baru" itu dong?" kemudian aira menengguk habis cappucino yang sudah dingin itu.
"Lo gak harus langsung mencintai orang lain kalau mau move on, cukup berhenti mencintai si objek yang ada di hati lo aja, cinta gak pernah memaksa. Lo hanya butuh kesabaran untuk ikhlas disini". Suasana gerimis di luar menyita pandangan aira dari maudy, dia melihat tetesan air yang satu satu menyambar kaca dan keramaian orang lalu lalang.
Uap dari dingin nya gerimis membuat kaca buram sehingga bisa menulis kan kata kata, seperti hal yang biasa putra lakukan, apapun itu suasana hatinya selalu ia tulis walau hanya satu kata. Aira melakukan hal itu, jari nya menyentuh lapisan kaca yang dingin sambil ia menahan bendungan airmata yang telah mengumpul, dia menuliskan kata "Cinta".
Sedangkan maudy hanya bisa melihat, rasa nya lelah memberi wejangan wejangan nya untuk aira, dia fikir perlahan aira juga dapat lupa setelah mendapatkan "orang baru".
"Yah ai, mungkin nanti rasa sayang lo bisa berkurang setelah lo dapat penggantinya yang ngebuat lo merasa nyaman lebih dari putra, percaya deh". Aira hanya mengerutkan dahi, dia biar kan pikiran nya saat itu tertuju untuk objek yang ia rindu kan sekarang.
"Nak, sudah kamu masuk saja sana" kata mama menyuruh
"Enggak ma, aku mau nunggu aira, aku mau peluk dia sebelum aku berangkat"
Sementara aira masih berlari di pinggir jalan, melihat kearah jam tangan nya ternyata waktu terus berjalan begitu cepat. Sementara putra, ia sudah harus masuk ke pesawat, putra pun memasuki pesawat karna pesawat nya sudah harus lepas landas. Ternyata aira sudah sampai bandara langsung saja ia menuju keberangkatan luar negri, Aira melihat ke sekeliling terminal tak ada sosok putra dilihatnya jam sudah tepat pukul 10:00 WIB. Tiba - tiba saja handphone nya bergetar, ternyata sms dari putra.
From : Putra
Aira, mungkin kamu baca sms ini setelah aku memasuki pesawat,
kamu tidak terlambat tapi kamu kurang beruntung aja, jangan sedih
aira ku sayang, aku gak mau melihat sahabat aku menangis ayo senyumnya
mana? Ada atau gak ada aku itu sama aja kok, aku akan selalu ada
sangat dekat dengan kamu, aku akan selalu jadi bintang yang selalu
menemani malam mu, aku akan selalu jadi gerimis yang jatuh tepat
di wajahmu, dan aku akan selalu jadi embun yang menyejukan pagimu
suatu saat nanti aku akan kembali membawa semua tawa yang pernah
kita jalanin bersama. Aku sayang kamu sahabat.
Airmata yang tak terbendung lagi satu persatu pun membasahi pipi nya aira saat dia meembaca pesan dari putra, apa lagi saat melihat kata terakhir di pesan sahabat. Ya, aku sadar kita selama ini hanya menjadi sahabat tapi kali ini aku sangat tak rela jika aku hanya di jadikan sbagai sahabat nya. Aku ingin lebih dari ini, aku ingin menjadi wanita satu satunya yang membuat dia merasa nyaman dan tenang, apa lagi menjadi alasan kamu tertawa itu membuat aku sangat bahagia.
Aira masih termenung melihat ke kaca satu persatu pesawat lepas landas termasuk pesawat keberangkatan putra baru saja ia lihat tadi. Aira menyeka air mata dengan sebelah tangan nya, ia berpikir terus lebih keras dan dia dapat menyimpulkan bahwa perasaan yang ia anggap aneh pun itu terungkap. Cinta, ia baru merasakan ini setelah putra pergi, apa ini terlambat? Atau aku kurang beruntung seperti yang di katakan putra?
***
3 Bulan aira mendekam memikirkan hal ini menyimpan sedikit rindu pada putra, tetapi kini dia di sibukan dengan aktivitas barunya sebagai mahasiswa, membuat langkah langkah baru disini tanpa putra dan mendapatkan teman baru tanpa dia melupakan putra. Sambil melamun jari lentik aira memutar di dinding mulut cangkir.
"aira!" panggil nya sambil menepuk pelan bahu aira. Maudy, adalah teman yang baru ia kenal di kampus, tapi kalo udh cerita sama dia tuh kayak udah lama bgt kenal sama dia. anak nya baik, cantik, dan pendengar setia.
"Hei! bikin kaget aja sih"
"Melamun ya? gak kelar kelar sih yg di lamunin, masih dia?" ejek maudy sambil mendekatkan wajah dan meyipitkan matanya
"Sok tau deh ah" jwab nya agak malu
"eh ini minuman gw ya? oh iya, dia apa kabar tuh? masih sering contact?"
"Buat sekarang sih enggak, ya mungkin dia sibuk"
"Eh drtd perasaan lo ngelihat ke sekeliling ruang cafe ini? ada apa? sebelum nya pernah kesini?"
Aira masih termenung melihat ke kaca satu persatu pesawat lepas landas termasuk pesawat keberangkatan putra baru saja ia lihat tadi. Aira menyeka air mata dengan sebelah tangan nya, ia berpikir terus lebih keras dan dia dapat menyimpulkan bahwa perasaan yang ia anggap aneh pun itu terungkap. Cinta, ia baru merasakan ini setelah putra pergi, apa ini terlambat? Atau aku kurang beruntung seperti yang di katakan putra?
***
3 Bulan aira mendekam memikirkan hal ini menyimpan sedikit rindu pada putra, tetapi kini dia di sibukan dengan aktivitas barunya sebagai mahasiswa, membuat langkah langkah baru disini tanpa putra dan mendapatkan teman baru tanpa dia melupakan putra. Sambil melamun jari lentik aira memutar di dinding mulut cangkir.
"aira!" panggil nya sambil menepuk pelan bahu aira. Maudy, adalah teman yang baru ia kenal di kampus, tapi kalo udh cerita sama dia tuh kayak udah lama bgt kenal sama dia. anak nya baik, cantik, dan pendengar setia.
"Hei! bikin kaget aja sih"
"Melamun ya? gak kelar kelar sih yg di lamunin, masih dia?" ejek maudy sambil mendekatkan wajah dan meyipitkan matanya
"Sok tau deh ah" jwab nya agak malu
"eh ini minuman gw ya? oh iya, dia apa kabar tuh? masih sering contact?"
"Buat sekarang sih enggak, ya mungkin dia sibuk"
"Eh drtd perasaan lo ngelihat ke sekeliling ruang cafe ini? ada apa? sebelum nya pernah kesini?"
"Ya, Sebagian masa masa gw sama dia ya pernah gw habis kan di sini, di tempat yang lagi kita dudukin" ujarnya sambil menyeruput cappucino nya kemudian melanjutkan kembali omongan nya.
"Kita suka bgt di tempat ini gak terlalu tertutup cuma di batasin kaca yang ngebuat kita masih bisa ngelihat keadaan diluar, kita juga sering ngeledekin orang yang lalu lalang. iseng aja sih biar suasana gak terlalu kaku"
Maudy mengerutkan dahi sambil menopang dagu. Dia masih tampak serius mendengarkan cerita aira.
"woy! Sok serius lo ah" sambil menepuk tangan yang menopang dagu maudy membuat maudy hampir terjatuh
"Yeee, dari pada gw sibuk sms-an, mau gak di dengar ceritanya? Kesimpulan gw dr cerita lo ini kayak nya udah pernah dialamin sama banyak kalangan, so? you must move on!"
"Gak bisa dy! rasa nya aneh"
"Mau sampai kapan lo gini? gak mau ngebuka hati? emang lo mau nunggu dia sampe balik kesini, tapi udah ngegandeng cewek lain?"
"Enggak lah! kayak nya sejauh ini dia belum dekat sama siapa siapa disana, dia masih fokus sama kuliah nya"
"Siapa tau kan kejadian?! Kita perlu hati hati ai buat hal kayak gini. Dia itu masih semu kan? emg lo tau dia bakalan bales juga cinta lo? selama ini kan dia memberi sekat buat lo hanya sebatas sahabat" ujar maudy meyakinkan aira
Aira terus berpikir keras, memutar balikan kata kata yang di ucap maudy. Berpikir lebih dalam untuk hal ini sangat sakit kalau memang nanti kejadian yang di ucap maudy itu kejadian. Aira tak ingin sakit lebih dalam, tapi hatinya tak bisa bohong kalau dia masih menaruh kasih pada putra tanpa sepengetahuan putra.
"Apa yang harus gw lakuin? mencintai orglain tapi masih menyimpan sedikit sayang untuk putra? hati gw bukan kue yang seenak nya di kasih dy! sama aja gw nyakitin "orang baru" itu dong?" kemudian aira menengguk habis cappucino yang sudah dingin itu.
"Lo gak harus langsung mencintai orang lain kalau mau move on, cukup berhenti mencintai si objek yang ada di hati lo aja, cinta gak pernah memaksa. Lo hanya butuh kesabaran untuk ikhlas disini". Suasana gerimis di luar menyita pandangan aira dari maudy, dia melihat tetesan air yang satu satu menyambar kaca dan keramaian orang lalu lalang.
Uap dari dingin nya gerimis membuat kaca buram sehingga bisa menulis kan kata kata, seperti hal yang biasa putra lakukan, apapun itu suasana hatinya selalu ia tulis walau hanya satu kata. Aira melakukan hal itu, jari nya menyentuh lapisan kaca yang dingin sambil ia menahan bendungan airmata yang telah mengumpul, dia menuliskan kata "Cinta".
Sedangkan maudy hanya bisa melihat, rasa nya lelah memberi wejangan wejangan nya untuk aira, dia fikir perlahan aira juga dapat lupa setelah mendapatkan "orang baru".
"Yah ai, mungkin nanti rasa sayang lo bisa berkurang setelah lo dapat penggantinya yang ngebuat lo merasa nyaman lebih dari putra, percaya deh". Aira hanya mengerutkan dahi, dia biar kan pikiran nya saat itu tertuju untuk objek yang ia rindu kan sekarang.
Sabtu, 18 Agustus 2012
Masih ada kamu
Deburan ombak menemani sore hari ku disini, dulu....aku rangkul kamu aku genggam tangan mu, aku belai wajah mungil mu, aku peluk kamu. Ya, itu hanya kenangan yang hanya bisa aku kenang sampai sekarang. Rasa sesal ku masih berkecamuk di hati, rasa nya ingin ku ulang waktu ke masa itu, dimasa kita masih bersama. Aku masih ingat senyum mu, senyum mungil yang menghiasi lekukan wajah mu.
"Kita putus!" kata fadhil membentak
"Oke! kita putus, kamu egois!" sambar annisa
Air ombak yang membasahi kaki ku, membuyarkan lamunanku, emosi yang mengalahkan semua nya. Aku benci diriku. Kenapa ego ku lebih besar? sama saja itu menjatuh kan ku pada lubang yg dalam. Ingin aku kembali pada mu. Tapi sekarang sudah terlambat, saat aku datang ada tangan lain yang mengisi sela jari mu. kamu lebih tertawa lepas bersama dia kebanding aku?
"Fadhil....jangan pernah kamu tinggalin aku ya" kata anisa sambil memeluk erat tubuh fadhil
"Aku sayang sama kamu, lebih dari yang kamu tau"kata fadhil sambil membalas pelukan erat annisa
Aku pulang dengan semua rasa sesal ku, di pantai ini, kita pernah menaruh kasih tapi sekarang kamu disini membawa orglain bukan aku. Aku hanya bisa melihat setiap kamu dan dia di sini. Kenapa aku bodoh dulu? Ya semua nya hanya penyesalan yang tak ada hasil nya, untuk apa? tapi hatiku tak bisa bohong.
***
Tergeletak banyak foto foto di ranjangku, ya ini bukan foto masa kecil ku atau yang lain, ini foto kenangan kita. KITA!
"siap ya? 1...2...3!" sang photographer menginstruksi dan sinar kamera pun membias kemereka
Annisa dan fadhil mengubah pose nya dengan pose yang lain. Ya, acara ini di hadiah kan untuk hari Anniversary mereka yang ke 9 bulan. suatu hubungan yang masih romantis ini membuat teman2 kuliah mereka merasa iri
"Disini kamu lucu ya, lihat deh. tapi tetep dong kamu ganteng bgt" kata annisa sambil melihat hasil foto foto mereka
"Kamu cantik banget disini, semoga kita langgeng ya sampai waktu tunangan tiba nanti" kata fadhil sambil mengkecup kening annisa
fadhil memeluk annisa, dibalas nya lagi dengan pelukan yang erat. Lamunan itu pun buyar seketika saat aku menengguk hot chocolate minuman kesukaan annisa, yang menghangatkan tubuhku dari dingin nya hujan di luar. Aku masih memandang foto itu. manis.....tapi sekarang tidak ini hanya impian ku yang tertunda.Hari sudah malam, aku tertidur bersama semua kenangan itu, kenangan yang hanya bisa di kenang, kenangan yg manis menjadi hambar begitu saja.
Ketukan pintu di luar membuat fadhil terbangun, ya hari sudah cukup siang. Fadhil langsung menuju bawah, fadhil sedikit mengintip dari jendela. Wanita?! siapa dia? hatinya terus bertanya tanya, apa kah dia annisa? dari belakang memang mirip. langsung saja dia buka pintu, tanpa menunggu sang wanita menoleh fadhil langsung memeluk sangat erat sang wanita itu, entah itu siapa.
Silau nya matahari membuyarkan semua itu! Aku hanya mimpi! Lagi lagi hanya khayalan, di dengar nya ketukan pintu dari luar, ilustrasi ini mirip sekali dengan mimpinya tadi. langsung saja dia beranjak dari ranjang dan berlari ke bawah. ya! dia intip dari jendela wanita itu mirip sekali dengan wanita di mimpinya tadi. Apa dia annisa?! lalu dia buka pelan pelan pintu, wanita itu langsung menoleh, dan apa yang fadhil lihat?! dia ANNISA!. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluk anisa.
"Maafkan aku annisa, aku gak mau kehilangan kamu lagi untuk yang ke dua kali nya" kata fadhil sambil memeluk erat annisa. Tapi annisa tak membalas pelukan itu seperti dulu.
Langganan:
Postingan (Atom)