Sabtu, 25 Agustus 2012

Sementara (Kata di balik rindu part 5)

Siang ini aira sangat semangat karna ia ingin bertemu windu di Toko Buku Nusa Cendana. Memakai kemeja berwarna putih yang lengan baju nya di gulung sampai siku dan dalaman tank top berwarna hitam, memakai celana jeans pendek se-lutut, dan sepatu cats cream nya dengan rambut panjang nya di biarkan tergerai membuat dia terlihat lebih cantik dari yang biasa.

Lama dia menunggu windu di depan toko Nusa Cendana kurang lebih sudah setengah jam, melihat ke kanan dan kekiri jalan tak nampak windu dengan vespa nya. Apa windu lupa? atau sengaja dia ingin mengerjai ku?. Aira mengelak dengan pertanyaan pertanyaan yang memutar di dalam benak nya, pukul tepat sebelas siang, sudah satu jam dia menunggu namun tak nampang batang hidung nya windu. Aira mulai gelisah rasanya ingin dia pulang tapii lagi lagi dia tak ingin melangkahkan kaki nya dia yakin windu pasti datang. Aira memasuki toko buku Nusa Cendana untuk menghilangkan rasa kejenuhan nya, dia tengok  kearah luar jendela namun tidak nampak juga windu disana.

Sampai matahari hampir menenggelam kan dirinya windu tak nampak juga, dengan rasa kesal yang bercampur itu membuat aira harus melangkah kan kaki nya untuk meninggalkan toko buku Nusa Cendana.

***
Sesampainya di rumah, ia bergegas memasuki kamar nya tak ingin terlalu lama lama di luar, hanya mengingatkan kejadian yang ia harapkan tak akan terulang lagi. Aira nampak sibuk dengan handphone nya yang sedari tadi terus menghubungi windu, tetapi windu tak bisa di hubungi, aira berpikir sepertinya windu lari dari janji nya. 

"Apa sih maksud dari permainan windu? aku kira dia bakalan nepatin janji nya, nyata nya? dia lari" gerutunya dalam hati. Air mata nya dengan sendiri membasahi pipi tembam nya, dia menggerutu lagi dalam hati "Ah untuk apa aku menangisi ini, rasanya bodoh kalau harus mengeluarkan airmata untuk orang yang ingkar janji" gumam nya kembali.

Dilain tempat....
Di rumah yang minimalis ini yang masih terlihat nuansa elite dan suasana sepi karna hanya di tinggali oleh satu orang sangat terasa. Ruang tamu, dapur tak ada aktivitas di ruangan ini namun di kamar yang berdekorasi hitam dan putih dengan pola garis garis di tembok dan sangat tertata rapi benda benda yang ada di kamar itu, terbaringlah seorang laki laki yang terlihat dengan alat bantu oksigen dan wajah nya yang pucat terlihat dalam keadaan yang cukup mengkhawatir kan, siapakah laki - laki? apakah laki laki ini windu?

***
Untuk yang pertama kali lagi setelah lulus dari SMA aira baru menyambahi tempat ini, bukit dekat sekolah yang biasa ia datangi bersama putra dulu. Tempat nya masih sama, terpaan angin nya pun juga masih sama sangat kencang, pemandangan dari ujung ke ujung pun masih sama, namun yang tidak sama aira kali ini sendiri tanpa putra.

Aira sedang sibuk menulis kata kata di atas binder nya menjadi sebuah kalimat yang jelas.


Aku Kembali
Aku kembali dengan semua ingatanku
Aku kembali dengan seluruh hasratku
Hanya pemandangan dan angin angin
yang kembali menemaniku di sini
Di tempat ini yang dulu di penuhi tawa 
oleh dua orang sahabat  yang saling
menaruh janji akan kembali ke tempat ini.

Aira tak dapat membendung kumpulan air di mata nya, satu persatu airmata nya terjatuh tepat di tulisan yang dia tulis di atas binder nya. Tak ingin mengingat - ingat adegan demi adegan yang dulu pernah mereka buat disini, di bukit ini yang sampai sekarang belum di beri nama. Aira beranjak dari tempat ia duduk tak ingin terlalu membuat kerinduan yang sangat amat dalam pada putra. Akhir nya dia mulai melangkah meninggalkan bukit ini.

"Aku sudah kembali kesini putra namun kamu belum juga kembali, aku rindu, sangat rindu kamu putra" gumam aira di sela tangisan nya.
***
Tepat seminggu windu menghilang tanpa menepati janji nya atau pun meminta maaf melalui handphone  nya yang tak di sambahi pesan satupun dari windu. Hati nya masih bertanya tanya "Kemana windu? dia lupa atau ada urusan lain? atau dia sakit?" keluh nya dalam hati.

Braga Permai....

"Eh gimana date pertama nya sama windu?" tanya maudy

"Nggg..... dia gak datang dy" jawab aira dengan wajah murung

"Loh kenapa?"

Selang beberapa menit sang pramusaji datang mengantar kan pesanan maudy dan aira, aira memberi senyum saat sang pramusaji meletakan pesanan seraya memberikan ucapan terima kasih.

Maudy melanjutkan pertanyaannya kepada aira lagi "Kok? aneh ya cowok, kurang ajar banget!, Lo udah nunggu dia di toko buku berapa jam?"

Aira mengangkat bahunya "Hmm..... dari siang sampai hampir malam lah dy" ujar nya sambil menyeruput frozen cappucino nya.

Tiba tiba saja handphone aira berdering, ternyata ada pesan masuk.

From: Windu
Aira, maaf satu minggu yang lalu aku gak bisa tepati janji aku.
Pasti kecewa sama aku, sekali lagi aku mohon maaf aira :)

Aira tak langsung membalas pesan nya karna ia sangat kecewa dengan windu, lamgsung saja ia letakan kembali handphone nya diatas meja.

"Dari siapa ra? tanya maudy sambil mengunyah spagetti nya.

"Windu" jawab aira datar. 

***

Sesampai nya aira di rumah dia langsung saja menghempaskan tubuh  nya di ranjang nya, mengutak atik handphone nya merangkai kata kata untuk membalas pesan dari windu yang sedari siang belum dia balas. Sudah terangkai kata untuk di kirim namun aira menghapus nya dan itu berkali kali dia lakukan, karna kesal langsung saja dia banting hapenya di ranjang.

"Arghhhhh kenapa coba sama gue?! gue kan baru kenal sama windu! apa hak gw coba buat kayak gini" gumam nya dalam hati

Aira pun mencoba merileks kan fikiran dan tubuh nya, dengan cara memejamkan mata dan berkali kali menarik nafas yang dalam kemudian membuangnya di lakukan berulang ulang.
Setelah itu aira mencoba membuat hot chocolate yang biasa dia buat saat keadaan nya suntuk seperti saat ini.

Aira menyeruput sedikit hot chocholate nya, sambil menikmati aroma coklat yang mulai menusuk kedalam hidung nya dan berkumpul ke dalam angan angan nya berputar putar membua nya sedikit rileks karna aroma tersebut, malam ini dingin sama seperti pikiran nya yang terus memikirkan windu.

Tiba - tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah nya dari luar, bergegas lah aira menghampiri ketukan yang memanggil manggil nya. Aira membuka nya pelan pelan, ternyata windu. Aira kaget sampai ia membuka mata nya lebar lebar, padahal keadaan diluar dingin dan sedang gerimis. Aira pun terus memutar kan pikiran nya dan berusaha menjawab pertanyaan yang menanyakan batin nya.

"Du, kamu? ayo masuk dulu, gak enak bicara di depan pintu" aira mempersilahkan

Windu tersenyum dan melangkah masuk kedalam, windu malam ini tampak pucat dan memakai jaket dan jeans serta topi kupluk nya. 

"Maaf ya ra, aku datang semalam ini. Ya, aku takut kamu marah atau bahkan benci sama aku" ujar windu memulai topik pembicaraan

"Awal nya sih aku kecewa karna kamu gak bisa commite  sama rencana kamu, aku udah maafin kok walaupun masih ada sedikit kecewa"

"Aku minta maaf bgt ra, makasih sebelum nya udah maafin aku" ujar windu sambil memegang tangan aira

Aira kaget, terus menatap dalam mata nya sampai mereka berdua tak sadar kalau mereka saling bertatapan. seketika aira sadar, membuyarkan pandangan nya begitu pula dengan windu.

"Aku kira, kamu gak bakal lagi ketemu sama aku, tiba tiba sih hilang nya" ujar nya sambil membawa hot chocolate untuk windu 

"Kan gak selama nya yang tiba tiba bisa jadi selama nya kan ra" 

"Iya sih du, emg kamu kenapa gak bisa dateng waktu itu?" tanya aira sambil meletakan segelas hot chocolate di atas meja

"Aku ada urusan sama keluarga aku yang ada di melbourne"

Aira hanya menganggukan kepalanya sambil meminum kembali hot chocholate nya, begitu juga windu ia mencicipi hot chocolate buatan aira.

"Hmm.... enak ya ternyata hot chocolate buatan kamu, kamu suka banget sama coklat?"

Aira tertawa kecil "hmmm....gak terlalu sih, agak pahit sih sebenernya coklat. Tapi. kalo pikiran lagi pahit gini jadi enak, sedikit manis" 

Aira mengerutkan dahi nya melihat  ada yang aneh dari windu, dari hidung windu seperti ada darah yang keluar "Ndu.... hidung kamu berdarah, kamu sakit?!" tanya nya, aira segera menyeka nya dengan tangan nya sendiri.

Windu memegang tangan aira yang sedang membersihkan darah yang menyisa dari hidung nya. "Aku gak apa apa ra, cuma mimisan biasa kayak gini kok. Cuma kecapekan aja"

"Kamu yakin ndu? muka kamu pucat loh"

"Nggak kok, oh iya.....kayak nya aku harus pulang deh"

"Tapi, kamu...." 

Windu menyelak omongan aira

"Aku pulang ya" ujarnya sambil menuju ke arah pintu begitu juga aira menemani windu  sampai luar.

Setelah windu sudah tak terlihat lagi dengan pandangan nya, aira segera masuk ke dalam lagi sambil bertanya- tanya dalam hati.

"Tuhan....ada apa dengan windu? sakit apa dia?"

Banyak pertanyaan yang berputar putar di dalam pikiran nya, tapi dia tak menemukan satu jawaban pun yang dapat meyakini hatinya.

Rabu, 22 Agustus 2012

Orang baru (Kata di balik rindu 4)

Dikantin kampus...

Aira melihat ke arah jam tangannya, seperti nya ada yang dia tunggu. Seperti biasa menunggu maudy "Ah lama nih anak, udah keluar kelas belum sih? keburu dingin aja ini makanan". 

Dari jauh nampak maudy jalan terburu buru dengan membawa laptop dan buku buku materi kuliah nya, kedua tangan nya nampak penuh dengan itu. 
"Aduhhh, sorry yah ra tadi ada presentasi novel bahasa inggris gw" ujarnya seraya memberi alasan agar aira percaya. Maudy adalah anak fakultas dari sastra inggris di Universitas padjajaran yang juga tempat aku menuntut ilmu,aku berbeda fakultas dengan dia, kalau aku fakultas Psikologi.

"Iya iya maudyyyy, percaya gw percaya"

Maudy nampak haus, di seruputnya ice cappucino di depannya sampai setengah gelas.

"Selow mbak minum nya kayak kuli" ujarnya membisikan ke arah maudy sambil menahan tawa

Maudy melirik sinis aira, seakan akan jengkel dengan ledekan aira tadi. Sedangkan aira nampak sangat terbahak bahak. 

Sejenak aira memberhentikan tawa nya pelan " Haduhhh, jangan ngambek dong maudy sayangggg" aira mendekatkan wajah nya sambil memelas kearah maudy

"Lagian sih lo gak ngertiin temen banget" maudy memanyunkan bibir nya.

Aira memulai membuka topik pembicaraan " Eh gw masih penasaran banget sama yang motret gw kemarin".

"Jadi topik nya ganti nih? bukan si itu lagi tuhhhh" ledek maudy sambil menertawai balik aira.

"Menurut lo? Jadi gw kok serbasalah ya? serbasalah kalo cantik, serbasalah kalo galau" ujarnya seraya meledek maudy

Tiba tiba saja maudy mengagetkan dengan apa yang ingin dia sampai kan " aha! gw tau cara nya biar lo ketemu lagi sama yang motret lo" 

Aira melipat bibir mungilnya kedalam "Hmm.....". "Ahhhh udah gak usah banyak pikir! biar gw atur nanti". 

"Kapan?" aira nampak bingung

"Sekaranglah nonaaaaa"
***
Braga.....

"Kita mau ketoko buku lagi dy?!"

"Iyalah, kemana lagi coba?. Maudy dan aira agak mempercepat langkah nya agar sampai toko buku pada saat orang itu ada

Sesampai nya di toko buku Nusa Cendana. mereka berdua memulai "drama" dadakan mereka, di tempat yang sama aira berdiri, aira pura pura memilih milih novel, pura pra membaca juga padahal tak ada yang ingin dia beli. Sedangkan maudy mengumpat di titik paling strategis apabila cahaya itu tertangkap olehnya. Tak lama kemudian ada cahaya kamera dari samping membias ke arah aira. langsung saja maudy kearah sinar itu berasal, ternyata di rak novel yang tak jauh dari tempat aira berdiri.

Maudy menjambak jaket dari orang yang memotret aira tadi. Langsung saja aira menghampiri maudy. "Nah....ini dia pengagum rahasia lo ra!"

"Eh udah udah baru kenal masa udah kasar"

Sedangkan orang itu nampak tak ada ekspresi marah atau apapun. "Udah puas? gw pergi ya" dengan tampak jutek dan sinis orang itu pun langsung bergegas keluar sambil membawa kamera SLR nya.

Maudy dan aira nampak keheranan hanya  bisa mengerutkan dahi dan mata mengikuti langkah org itu. 

"kok ada sih cowok gitu?!" ujar maudy keheranan

"adalah manusia yang kayak lo juga banyak" sambar aira kemudian melangkah keluar toko

Maudy mengikuti aira dr belakang "eh sialan lo, tungguin gw mblo"
***
Malam ini maudy menginap di rumah aira, ya seperti biasa kalau sudah betah di rumah aira, maudy malas pulang ke kost-an nya. Seperti biasa mereka duduk duduk di balkon atas rumah aira.

"eh....tapi tadi orang itu di lihat lihat kece juga sih ra" ujar maudy ambil mengunyah makanan. Entah aira sedang menghayal apa sampai senyum senyum. " yeeee, di ajak ngomong  malah senyum senyum, lagi mengkhayal cowok itu ya?" ujar maudy sambil melempar chiki ke arah aira

"Lo lebih sok tau dari hati gue ya dy?" ujar aira sambil menga,bil majalah yang ada di dekatnya

"Gak sok tau kok, kan gue cuma nebak ra" ujarnya masih sibuk dgn camilan dan majalah

"Awas ya kalo sampe kepo" ujarnya kemudian tertawa

Maudy melempar bantal emote yang ada di samping nya.

"ah gw mau tdr ya, ngantuk"

Keesokannya, sore hari aira balik ke toko buku, rasa penasaran yang membelenggu hatinya memaksakan langkah nya ke toko buku Nusa Cendana. Di balik balik buku novel yang ada di toko, dia sengaja berdiri di tempat yang berbeda, apa kah orang itu memotret dia lagi?. Hampir satu jam ia tunggu di dalam toko, sepertinya di luar matahari telah menenggelamkan diri nya, dengan sedikit rasa kesal dan kecewa ia keluar dari toko.

"Kenapa coba itu cowok gak ada pas gw tunggu tunggu?"gumamnya dalam hati.

Aira menunggu taksi yang lewat di depan toko tersebut, namun bukan taksi yang berhenti. tetapi seorang laki laki yang memakai vespa berhenti di depannya, aira hanya mengerutkan dahinya. Laki laki ini yang memakai helm yang terbuka, jaket jeans,dalaman kaus putih dan celana jeans yang sebelumnya tak pernah ia kenal mungkin salah orang. Kemudian laki laki ini membuka helm nya, membuat aira kaget, ternyata laki laki yang memotret ia di toko buku.

"Ayo naik, mau aku anterin gak?" ujar laki laki itu

"Kamu lagi?!"

"Mau aku anterin gak nih? apa aku tinggalin aja kali ya" ledek laki laki itu dengan tampang sinis seraya ingin mengambil gas motornya

" Eittttt bentar bentar" aira menengok ke kanan dan kekiri, tampak sepi hanya ada mobil pribadi dan motor saja yang lewat, tak ada taksi sedari tadi yang lewat.

Aira menarik napas nya dalam dalam "Iyadeh aku terima tawaran kamu" jawab nya dengan tampang jutek.

Di perjalanan tak ada kata kata yang keluar dari laki laki itu, hanya deru angin dan kendaraan saja yang terdengar, untuk membuat suasana tidak kaku aira pun membuka pembicaraan.

"eh, kamu kok waktu itu motret aku sih?" tanya aira agak ragu

"Iseng aja" jawab nya dengan datar tak menoleh sedikit pun ke belakang

"Cuma itu?"

"Ya, terus aku mau jawab apa? aku fans kamu gitu? kepedean bgt sih" jawabnya sambil tertawa sinis

Aira mengoceh dalam hati, tak terima laki laki itu menjawab seperti itu "ih! ini cowok atau apa sih? jutek nya ngalahin bapak gw, amit amit!"

"Kenapa? salah aku jawab gitu? mau bilang aku sinis? atau aku jutek?"

"ngggg... nggak kok, nggak. oh iya nama aku aira, kamu?" jawabnya sambil mesem mesem

"Windu, windu permana jelas nya"jawab laki laki itu, kali ini dia jawab tak sedatar tadi.
***
Braga permai...

"Lo tau gak sih?! kemarin gw ketemu siapa?!" ujar aira emosi

"Siapa siapa?!" jawab maudy kaget sambil menutup mulut nya dengan kedua tangan

"Windu!" jawab aira dengan nada keras dan kesal

              Maudy bingung, hanya menaikan sebelah alis nya. 

"hah? siapa tuh?"

"Oh iya gw belum jelasin ya, laki laki yang lo tarik jaket nya pas di toko buku" 

Maudy yang sedang meminum frozen cappucino nya tampak kaget dan tersedak.

"Apa?! dia?! kok bisa sihhhh? ciye aira, nge-date pertama tuh" ujarnya sambil menaikan kedua alis nya.

"Sok tau lo!". Aira mengalihkan pandang nya ke arah luar, tak lama terlihat sosok windu yang berjalan melewati Braga Permai Restaurant. "Eh ada windu!" ujarnya sambil menunjuk ke arah luar. 

"Mana mana?!" maudy berusaha melihat nya namun windu sudah tak terlihat, aira buru buru beranjak dari bangku nya dan keluar mengejar langkah kaki windu.

Aira berlari sambil memanggil windu. Windu berhenti sejenak mencari arah yang memanggil, windu menoleh ke belakang terlihat aira sedang berlari menghampiri windu.

"Aduh windu aku manggil manggil kamu dari tadi" ujarnya dengan nafas terengah engah

Windu tertawa "Emang kamu mau ngapain ngejar aku?"

"Ya, Iseng aja" jawab nya dengan tampang jutek

Windu menggelengkan kepala sambil tertawa kecil "Hah?! Sorry ya aku buru buru ada urusan" windu pun beranjak melanjut kan langkah nya

Aira mencegah windu "Eh, bentar dong, kamu ikut aku ya?" ujar aira seraya memohon

Windu menganggukan kepala nya, aira tersenyum lebar. Kemudian mereka membalikan langkah nya ke Braga Permai Restaurant.
***

Sesampai nya di braga, aira dan windu menghampiri maudy yang sedari tadi menunggu mereka.

"Eh dy, sorry ya lama tadi, ngejar nya juga capek" ujar aira kemudian mengambil posisi untuk duduk.

"Hmm.....ngapain dulu sih lo? main drama kejar kejaran ala india?" 

        Windu menahan tawa.
"Oh iya, dy kenalin ini nih windu"

"Windu" kata windu sambil mengulurkan tangannya. "Maudy" ujar maudy sambil membalas uluran tangan windu

"Ini nih yang waktu itu jambak jaket kamu du"

"Ya, maaf kan gw kesel waktu itu" ujar maudy sambil mengalih kan pandangan nya

"Oh iya, santai aja kok" ujar windu sambil tertawa kecil.

Aira sejenak memandangi windu yang sedang tersenyum. Ini awal pertama kali dia melihat windu tersenyum, di balik kejutekan dan ke sinisan dia ternyata windu tak sejutek dan sesinis yang aira kira, ternyata masih ada sisi lembut di balik sifat nya windu itu.

Malamnya, aira sedang bersantai bersama laptop nya di atas kasur, dia masih terbayang bayang dengan sosok windu, windu mulai terlihat ramah dengan aira. Tidak seperti pertama kali dia bertemu, senyum nya windu tak sejutek sifat dia ternyata, senyum nya hangat. Lamunan nya seketika buyar karna getar dari handphone nya aira, ternyata ada pesan masuk.

From : Windu 

Aira, kamu besok ada acara gak?

Aira kaget, dia kira windu tak akan menghubungi dia. Di ketik nya balasan pesan untuk windu.

Uhm...gak ada kok, kebetulan besok juga free kuliah

Kemudian aira memencet tombol send dan menaruh handphone nya tepat di sampingnya. Tak lama ada pesan masuk, ternyata masih dari windu.

From: Windu

Oke, ketemu di depan toko buku Nusa Cendana ya :)

Aira tersenyum lebar, ternyata windu ingin bertemu dengan nya lagi setelah pertemuannya tadi. Rasanya malam ingin ia percepat menjadi pagi.

Rindu ini akrab (Kata di balik rindu part 3)

Di teras rumah....
Aira terlihat sedang menyibukan dirinya dengan binder yang sedang ia tulis tulis. Satu kata demi kata tersusun rapi menjadi sebuah kalimat yang sangat jelas. Aira menuliskan kata kata kerinduan ia untuk putra.

Rindu ini akrab
Ketika aku melihat senyum mu
Ketika aku menggenggam tangan mu
Ketika aku bersandar di bahumu
Ketika aku melangkah bersama mu
Ketika semua itu pula....
aku hanya bisa merasakan di dalam mimpi ku
Rindu ini terlebih akrab....
Ketika aku tak dapat menyentuh mu
Namun aku hanya bisa memikirkan mu

Aira nampak sedang mengutak atik laptop nya, melihat layar yang ternyata sedang memainkan social media yaitu e-mail nya. Berharap ada email datang dari negara sebrang sana, beberapa menit ia merefresh ternyata memang tak ada e-mail baru untuk nya. Sesibuk apa putra? sampai dia lupa untuk kirim kabar, atau dia sibuk dengan teman baru nya smpai melupakan aku?. Aira menarik nafas sangat dalam "Aku terlupakan? kamu tidak tahu kalau aku sangat merindu mu putra?" dia terus memandangi layar laptop penuh harap ada e-mail dari putra, ia berkedip berkali kali, memang tak ada.
***
Malam ini langit begitu cerah, banyak bintang yang menghiasi alngit langit. seperti biasa merebahkan tubuhku di balkon sambil memandang dalam dalam bintang itu satu persatu, adakah kamu di sana?

Di sebrang sana, Pukul 08:00 waktu amerika.
Musim di sini sedang mengalami musim semi, bunga bunga bermekaran di setiap kebun termasuk kebun di dekat tempat tinggal putra di sana, terdapat sebuah bunga yang menyita perhatian nya. Anemone bisa di sebut juga bunga angin mempunyai tinggi dua sampai tiga kaki. Bunga ini sangat mencolok berwarna merah dengan mata bunga berwarna coklat dan di sekeliling mata bunga terdapat warna merah jambu. Sejenak bunga angin ini mengingatkan dia akan aira. Aira sama seperti bunga angin ini selalu memberikan rasa tenang dan nyaman ketika berada dekat.

Di waktu yang lain, aira sedang bergumam dalam hati "Kata kamu setiap ada bintang itu adalah kamu, aku bisa merasakan pada bintang yang paling terang itu, aku rasa itu kamu. Bintang kirim salam rindu aku untuknya".
***
Aira memasuki braga permai, suasana nostalgia yang sangat melekat pada interior braga permai ini tak sama sekali mengingatkan akan putra karna mereka sebelumnya tak pernah ke sini. menghampiri maudy dengan wjah yang tak enak "Kenapa ketemu nya disini? jalannya kan macet" kemudian duduk dan melanjutkan ocehan nya "ah lo dengerin gw gak sih?".
            Maudy diam, matanya berjalan dari atas sampai bawah melihat aira.

"Udah ngoceh nya? gw gak mau ngebawa lo ketempat yang masih berbau tentang putra"

"Hmmm...."

Maudy menyeruput orange juice nya, lalu memutar mutarkan sedotannya, agar rasa orange juice itu merata. "Lo gak bisa jawab? masih nahan kangen?".

               Aira hanya mengangkat bahu, memutar mutarkan sedotan di orange juice juga yang sudah di pesan maudy. Aira menghela nafas dan menghembuskan nya, mengingatkan rasa rindu ini semakin menempel seperti noda pada penggorengan yang susah di cuci.

Maudy melambaikan tangan nya tepat di wajah aira "Tuhkan.....ini nih jeleknya dari lo. tiba tiba galau, ngapain sih?! move on lah!".

"Yeeee kata siapa?! sok tau lo, melamun gak berarti galau kan?" aira membela diri seakan tak ingin terlihat seperti itu.

"Ah lama lama gw namain ratu galau sekampus juga lo, terus gw pajang deh di mading" maudy tertawa, aira hanya diam dengan tampang bete nya smbil menyedot kembali orange juice nya.

"Oh iya gw mau ke toko buku nih dy, di sekitar sini ada kan?"

Mudy mengangguk kan kepalanya "Ada di dekat persimpangan braga, namanya toko buku nusa cendana" ujarnya 

"Yaudah yuk, mau lihat lihat novel terbaru" maudy dan aira beranjak keluar, sebelum itu maudy menaruh uang diatas bill untuk di bayar.

Jalan braga sangat ramai, turis dalam negri dan turis luar negri lalu lalang di antara maudy dan aira, ada juga penduduk asli bandung sekedar berwisata atau bersantai di cafe cafe sekitar sini. 

"Gue gak terlalu suka braga,  gak tau kenapa"

"gw tau! karna gak ada kenangan tentang putra disini kan?" sambar maudy

Aira menggelengkan kepalanya "Harus gw jawab kayak gitu? terlalu banyak aktivitas disini"
***
Sesampainya di Toko Nusa Cendana...
Aira melihat satu demi satu novel terbarunya, dia kelihatan bingung karna semua novel itu bagus ceritanya, tiba tiba saja ada sinar kamera yang membias ke aira, refleks ia langsung menoleh sambil mengerutkan dahi, dia minjinjitkan kaki nya melihat kearah sinar kamera yang datang tadi. melihat ke kanan dan kekiri ruangan, terasa sangat hening hanya ada beberapa pengunjung.

"maudy, maudy! sini deh" sambil melambaikan tangan nya memanggil maudy yang sedang asik memilih milih novel juga.

Maudy menoleh. "apaan sih?" kemudian berjalan menghampiri aira

"Lo ngerasa gak tadi kayak ada yang motret gw, ketara banget sinar kameranya"

Maudy sejenak berpikir, mengernyitkan dahinya "Ah, petir kali?!". "yeeee mengkhayal lihat dong diluar terang gitu" ujarnya sambil menunjuk kearah kaca 

Maudy tertawa kecil. Menggaruk garuk kepalanya padahal tak terasa gatal sama sekali "iya juga sih ya. ah udah anggap aja fans. lihat besok lo ada di koran gak?" maudy menanggapi nya dengan nada serius namun agak bercanda dengan celotehannya.

Aira masih bingung, ia hanya mengangkat sebelah alis nya dan menggelengkan kepala. Menyingkirkan rasa penasaran nya sementara, dan menuju ke kasir untuk membayar salah stu novel yang ingin dia beli.

Senin, 20 Agustus 2012

Aku mengakui nya (Kata di balik rindu part 2)

Aira nampak terburu buru, di lihatnya jam tangan menunjukan pukul 09:30 WIB setengah jam lagi putra berangkat jalanan nampak tak berpihak pada aira, macet sekali padahal lokasi macet tak jauh dari bandara. Karna terburu buru terpaksa dia turun dari taksi dan berlari menuju bandara. Sedangkan di lain tempat, putra nampak sedang menunggu kedatangan aira padahal putra seharusnya sudah masuk ke pesawat.

"Nak, sudah kamu masuk saja sana" kata mama menyuruh

"Enggak ma, aku mau nunggu aira, aku mau peluk dia sebelum aku berangkat"

Sementara aira masih berlari di pinggir jalan, melihat kearah jam tangan nya ternyata waktu terus berjalan begitu cepat. Sementara putra, ia sudah harus masuk ke pesawat, putra pun memasuki pesawat karna pesawat nya sudah harus lepas landas. Ternyata aira sudah sampai bandara langsung saja ia menuju keberangkatan luar negri, Aira melihat ke sekeliling terminal tak ada sosok putra dilihatnya jam sudah tepat pukul 10:00 WIB. Tiba - tiba saja handphone nya bergetar, ternyata sms dari putra.

From : Putra

Aira, mungkin kamu baca sms ini setelah aku memasuki pesawat, 
kamu tidak terlambat tapi kamu kurang beruntung aja, jangan sedih 
aira ku sayang, aku gak mau melihat sahabat aku menangis ayo senyumnya
mana? Ada atau gak ada aku itu sama aja kok, aku akan selalu ada 
sangat dekat dengan kamu, aku akan selalu jadi bintang yang selalu 
menemani malam mu, aku akan selalu jadi gerimis yang jatuh tepat 
di wajahmu, dan aku akan selalu jadi embun yang menyejukan pagimu
suatu saat nanti aku akan kembali membawa semua tawa yang pernah
kita jalanin bersama. Aku sayang kamu sahabat.

Airmata yang tak terbendung lagi satu persatu pun membasahi pipi nya aira saat dia meembaca pesan dari putra, apa lagi saat melihat kata terakhir di pesan sahabat. Ya, aku sadar kita selama ini hanya menjadi sahabat tapi kali ini aku sangat tak rela jika aku hanya di jadikan sbagai sahabat nya. Aku ingin lebih dari ini, aku ingin menjadi wanita satu satunya yang membuat dia merasa nyaman dan tenang, apa lagi menjadi alasan kamu tertawa itu membuat aku sangat bahagia.

Aira masih termenung melihat ke kaca satu persatu pesawat lepas landas termasuk pesawat keberangkatan putra baru saja ia lihat tadi. Aira menyeka air mata dengan sebelah tangan nya, ia berpikir terus lebih keras dan dia dapat menyimpulkan bahwa perasaan yang ia anggap aneh pun itu terungkap. Cinta, ia baru merasakan ini setelah putra pergi, apa ini terlambat? Atau aku kurang beruntung seperti yang di katakan putra?
***

3 Bulan aira mendekam memikirkan hal ini menyimpan sedikit rindu pada putra, tetapi kini dia di sibukan dengan aktivitas barunya sebagai mahasiswa, membuat langkah langkah baru disini tanpa putra dan mendapatkan teman baru tanpa dia melupakan putra. Sambil melamun jari lentik aira memutar di dinding mulut cangkir.

"aira!" panggil nya sambil menepuk pelan bahu aira. Maudy, adalah teman yang baru ia kenal di kampus, tapi kalo udh cerita sama dia tuh kayak udah lama bgt kenal sama dia. anak nya baik, cantik, dan pendengar setia.

"Hei! bikin kaget aja sih"

"Melamun ya? gak kelar kelar sih yg di lamunin, masih dia?" ejek maudy sambil mendekatkan wajah dan meyipitkan matanya

"Sok tau deh ah" jwab nya agak malu

"eh ini minuman gw ya? oh iya, dia apa kabar tuh? masih sering contact?"

"Buat sekarang sih enggak, ya mungkin dia sibuk"

"Eh drtd perasaan lo ngelihat ke sekeliling ruang cafe ini? ada apa? sebelum nya pernah kesini?"

"Ya, Sebagian masa masa gw sama dia ya pernah gw habis kan di sini, di tempat yang lagi kita dudukin" ujarnya sambil menyeruput cappucino nya kemudian melanjutkan kembali omongan nya.

"Kita suka bgt di tempat ini gak terlalu tertutup cuma di batasin kaca yang ngebuat kita masih bisa ngelihat keadaan diluar, kita juga sering ngeledekin orang yang lalu lalang. iseng aja sih biar suasana gak terlalu kaku"

Maudy mengerutkan dahi sambil menopang dagu. Dia masih tampak serius mendengarkan cerita aira.
"woy! Sok serius lo ah" sambil menepuk tangan yang menopang dagu maudy membuat maudy hampir terjatuh

"Yeee, dari pada gw sibuk sms-an, mau gak di dengar ceritanya? Kesimpulan gw dr cerita lo ini kayak nya udah pernah dialamin sama banyak kalangan, so? you must move on!"

"Gak bisa dy! rasa nya aneh"

"Mau sampai kapan lo gini? gak mau ngebuka hati? emang lo mau nunggu dia sampe balik kesini, tapi udah ngegandeng cewek lain?"

"Enggak lah! kayak nya sejauh ini dia belum dekat sama siapa siapa disana, dia masih fokus sama kuliah nya"

"Siapa tau kan kejadian?! Kita perlu hati hati ai buat hal kayak gini. Dia itu masih semu kan? emg lo tau dia bakalan bales juga cinta lo? selama ini kan dia memberi sekat buat lo hanya sebatas sahabat" ujar maudy meyakinkan aira

Aira terus berpikir keras, memutar balikan kata kata yang di ucap maudy. Berpikir lebih dalam untuk hal ini sangat sakit kalau memang nanti kejadian yang di ucap maudy itu kejadian. Aira tak ingin sakit lebih dalam, tapi hatinya tak bisa bohong kalau dia masih menaruh kasih pada putra tanpa sepengetahuan putra.

"Apa yang harus gw lakuin? mencintai orglain tapi masih menyimpan sedikit sayang untuk putra? hati gw bukan kue yang seenak nya di kasih dy! sama aja gw nyakitin "orang baru" itu dong?" kemudian aira menengguk habis cappucino yang sudah dingin itu.

"Lo gak harus langsung mencintai orang lain kalau mau move on, cukup berhenti mencintai si objek yang ada di hati lo aja, cinta gak pernah memaksa. Lo hanya butuh kesabaran untuk ikhlas disini". Suasana gerimis di luar menyita pandangan aira dari maudy, dia melihat tetesan air yang satu satu menyambar kaca dan keramaian orang lalu lalang.

Uap dari dingin nya gerimis membuat kaca buram sehingga bisa menulis kan kata kata, seperti hal yang biasa putra lakukan, apapun itu suasana hatinya selalu ia tulis walau hanya satu kata. Aira melakukan hal itu, jari nya menyentuh lapisan kaca yang dingin sambil ia menahan bendungan airmata yang telah mengumpul, dia menuliskan kata "Cinta".

Sedangkan maudy hanya bisa melihat, rasa nya lelah memberi wejangan wejangan nya untuk aira, dia fikir perlahan aira juga dapat lupa setelah mendapatkan "orang baru".

"Yah ai, mungkin nanti rasa sayang lo bisa berkurang setelah lo dapat penggantinya yang ngebuat lo merasa nyaman lebih dari putra, percaya deh". Aira hanya mengerutkan dahi, dia biar kan pikiran nya saat itu tertuju untuk objek yang ia rindu kan sekarang.


Sabtu, 18 Agustus 2012

Masih ada kamu

Deburan ombak menemani sore hari ku disini, dulu....aku rangkul kamu aku genggam tangan mu, aku belai wajah mungil mu, aku peluk kamu. Ya, itu hanya kenangan yang hanya bisa aku kenang sampai sekarang. Rasa sesal ku masih berkecamuk di hati, rasa nya ingin ku ulang waktu ke masa itu, dimasa kita masih bersama. Aku masih ingat senyum mu, senyum mungil yang menghiasi lekukan wajah mu. 

"Kita putus!" kata fadhil membentak

"Oke! kita putus, kamu egois!" sambar annisa

Air ombak yang membasahi kaki ku, membuyarkan lamunanku, emosi yang mengalahkan semua nya. Aku benci diriku. Kenapa ego ku lebih besar? sama saja itu menjatuh kan ku pada lubang yg dalam. Ingin aku kembali pada mu. Tapi sekarang sudah terlambat, saat aku datang ada tangan lain yang mengisi sela jari mu. kamu lebih tertawa lepas bersama dia kebanding aku?

"Fadhil....jangan pernah kamu tinggalin aku ya" kata anisa sambil memeluk erat tubuh fadhil

"Aku sayang sama kamu, lebih dari yang kamu tau"kata fadhil sambil membalas pelukan erat annisa

Aku pulang dengan semua rasa sesal ku, di pantai ini, kita pernah menaruh kasih tapi sekarang kamu disini membawa orglain bukan aku. Aku hanya bisa melihat setiap kamu dan dia di sini. Kenapa aku bodoh dulu? Ya semua nya hanya penyesalan yang tak ada hasil nya, untuk apa? tapi hatiku tak bisa bohong.
***

Tergeletak banyak foto foto di ranjangku, ya ini bukan foto masa kecil ku atau yang lain, ini foto kenangan kita. KITA! 

"siap ya? 1...2...3!" sang photographer menginstruksi dan sinar kamera pun membias kemereka

Annisa dan fadhil mengubah pose nya dengan pose yang lain. Ya, acara ini di hadiah kan untuk hari Anniversary mereka yang ke 9 bulan. suatu hubungan yang masih romantis ini membuat teman2 kuliah mereka merasa iri

"Disini kamu lucu ya, lihat deh. tapi tetep dong kamu ganteng bgt" kata annisa sambil melihat hasil foto foto mereka

"Kamu cantik banget disini, semoga kita langgeng ya sampai waktu tunangan tiba nanti" kata fadhil sambil mengkecup kening annisa

fadhil memeluk annisa, dibalas nya lagi dengan pelukan yang erat. Lamunan itu pun buyar seketika saat aku menengguk hot chocolate minuman kesukaan annisa, yang menghangatkan tubuhku dari dingin nya hujan di luar. Aku masih memandang foto itu. manis.....tapi sekarang tidak ini hanya impian ku yang tertunda.Hari sudah malam, aku tertidur bersama semua kenangan itu, kenangan yang hanya bisa di kenang, kenangan yg manis menjadi hambar begitu saja.

Ketukan pintu di luar membuat fadhil terbangun, ya hari sudah cukup siang. Fadhil langsung menuju bawah, fadhil sedikit mengintip dari jendela. Wanita?! siapa dia? hatinya terus bertanya tanya, apa kah dia annisa? dari belakang memang mirip. langsung saja dia buka pintu, tanpa menunggu sang wanita menoleh fadhil langsung memeluk sangat erat sang wanita itu, entah itu siapa. 

Silau nya matahari membuyarkan semua itu! Aku hanya mimpi! Lagi lagi hanya khayalan, di dengar nya ketukan pintu dari luar, ilustrasi ini mirip sekali dengan mimpinya tadi. langsung saja dia beranjak dari ranjang dan berlari ke bawah. ya! dia intip dari jendela wanita itu mirip sekali dengan wanita di mimpinya tadi. Apa dia annisa?! lalu dia buka pelan pelan pintu, wanita itu langsung menoleh, dan apa yang fadhil lihat?! dia ANNISA!. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluk anisa.

"Maafkan aku annisa, aku gak mau kehilangan kamu lagi untuk yang ke dua kali nya" kata fadhil sambil memeluk erat annisa. Tapi annisa tak membalas pelukan itu seperti dulu.

Kamis, 16 Agustus 2012

Aku suka senyum kamu (Kata di balik rindu)

Wajah dia yang masih teringat dalam benak ku, wajah itu yang selalu menjadi alasan ku untuk tetap bersemangat. Matanya...... yang memancarkan akan semangat dia, dan senyum nya yang membuat bibir tipis nya terlihat manis. Aku suka senyum nya. Sebut saja dia PUTRA. Dia laki laki yang setia menemani ku kala senang atau pun sedih dia sumber semangat ku karna motivasi yang dia berikan. Tepat nya, dia hanya sahabat aku yang aku sayang.

Di koridor sekolah...
"dorrr" putra mengagetkan aira dari belakang  
"Yaampun putra! bikin gw kaget tau! kata aira membentak
" yeeee, gitu aja ngambek. Lagian sih lo serius banget" kata putra kemudian duduk di sebelah aira
Namun aira terus asik melanjutkan membaca novel yang baru dia beli kemarin
"Eh nanti mau nemenin gw gak?'' kata putra menawarkan

" kemana sih?" tanya nya bingung

" udah deh, ikut ajaaaaa, mau ya? pleaseeee" putra memohon

"gimana ya.....iya deh sahabat gw yang gantengggg" kata aira mengiyakan
***
Sepulang sekolah, mereka pun ke tempat yang putra maksud, ya! bukit yang tak jauh dr sekolah, yang tinggi bukit itu lumayan buat tempat menghilangkan kejenuhan dan pemandangan kota dari ujung ke ujung, apa lagi kalau malam di sini terlihat jelas bintang ber kelip kelip yang menghiasi langit kota. Mereka pergi ke sana masih lengkap dengan baju sekolah mereka.

"Eh ta,  gw capek tau! masih jauh gak sih nanjak nya?!" kata aira dengan nafas ter engah engah

"Dikit lagi kok! gitu doang masa nyerah, capek lo gak sia sia deh pas udah nyampe atas" kata putra menyemangati

Sampai lah mereka di atas puncak bukit itu, pemandangan yang tak ada batas nya itu membuat aira kagum, walau sebenarnya dia takut akan ketinggian. Benar benar terbayar rasa capek mereka setelah melihat pemandangan yg jarang di lihat dan udara sore yang cukup sejuk menerpa wajah mereka yang penuh peluh.

"Lo lihat deh ai! keren banget kan?!" tanya putra kagum

"Iya sih, tapi kan tetep aja gw takut! ini masalah nya tinggi bgt!" jawab nya sambil mwngumpat di balik badan putra

"Sini deh, lo coba diri depan gw. Ini cuma shock terapi sementara kok buat org yg takut ke tinggian, santai aja" kata putra sambil menggandeng aira berdiri di depannya

"Tapi entar gw jatoh  gimana? ini di pinggir loh!" kata aira ketakutan

"Udah! gak usah berisik deh lo, ikutin gw aja! coba lo tutup mata. Lo rasain setiap terpaan angin yang menembus wajah lo, sambil tarik nafas terus buang pelan pelan" kata putra menginstruksi

Aira pun mengikuti setiap ucapan dari putra, dan dia merasakan hal yang beda saat semua angin menerpa wajah nya dan menembus paru paru nya, saat dia menghirup udara sejuk dari bukit itu, sejenak fikiran yang takut akan ketinggian hilang begitu saja. tapi dari perintah menutup mata, dia tak merasakan kelebihan, hanya gelap yang dia rasakan dan dia lihat tak ada kepuasan tersendiri.

"Coba lo buka mata pelan pelan, tapi lo jangan ngelihat langsung ke bawah pandangan lo fokus aja ke depan"kata putra menyuruh. Aira pun membuka matanya pelan pelan, silau sinar pun membuat aira menyipitkan matanya

"Apa yang lo rasain tadi?" tanya putra yang berdiri di belakang aira

"Gw baru ngerasain kayak gini, gw ngerasa tenang banget, walaupun gw belum puas karna semua nya gelap" jawab aira

"Lo bisa gak ngambil kesimpulan nya dari pertama sampai terakhir?" tanya nya kembali

"Ya gw tau kok, kalau gw mejamkan mata terus gw cuma bisa merasakan dua kenikmatan, gw cuma bisa merasakan gak bisa melihat pemandangan setiap sudut kota" jawab aira yang terus memandang ke depan

"Gelap itu cuma membuat lo terperangkap, lo gak bisa keluar memandang luas setiap apa yang lo lihat, berarti penglihatan lo di batasi karna hanya ketakutan lo. Lo lebih milih mana? buka mata atau tutup mata?" kata putra meyakinkan

"Gw lebih memilih membuka mata, karna gw bisa melihat semua objek yang ingin gw lihat, termasuk gw bisa melihat senyuman dari seseorang yang gw kagumi" katanya masih menatap tajam ke depan

Putra hanya diam, aira pun begitu. entah apa yang aira katakan itu di tujukan untuk siapa.
Untuk mengakhiri sore mereka sebelum matahari terbenam, ada hal yang penting ingin aira tanya kan pada putra.

"Tra, kira kira nanti abis lulus lo mau kuliah dimana? kita gak pisah kan?" tanya aira sambil menatap putra.

"Hmm.....kayak nya sih gw gak disini lagi, ya mungkin luar kota, tapi tenang lo sahabat gw yang gak bakal gw lupain kok, kita bisa contact-an kan" jawab putra sambil tersenyum

"Kok? lo tinggalin gw? gw gak bisa nemuin sahabat yang kayak lo tra" kata aira dengan mata berkaca kaca

"Kan lo sendiri pernah bilang ke gue, hidup gak hanya di satu tempat, kita perlu beradaptasi lagi buat lebih maju lagi. Lo jangan sedih ya? " kata putra

" Gak kok, gw lebih seneng kalo alasan lo emg kayak gitu, gw dukung apa yang lo jalanin tra, gw kan sayang lo" kata aira sambil tersenyum

"Makasih ya ai, lo emg sahabat gw yang the best!" kata putra membalas senyum dan merangkul aira

Padahal dalam hati aira tak bisa membendung kesedihan untuk berpisah dengan putra, rasa nya airmatanya ingin pecah. Namun aira merasa bingung, mengapa dia bisa sesedih ini? adakah sedikit rasa yang terselip di dalam hatinya? dia terus mengelak dengan perasaan nya, mungkin ini hanya kesedihan biasa seorang sahabat yang ingin berpisah. mereka pun menghabis kan sore dengan melihat matahari terbenam, di selingi tawa kecil dari mereka.

Sampainya di rumah, aira langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dan hati nya masih bertanya tanya, mengapa dia merasa sangat kehilangan.

"Tuhan... Kenapa aku merasa aneh dengan diriku, merasa sangat amat tidak ingin kehilangan putra, apa ini cinta? kalau memang iya, kenapa harus ada. Ini sangat sakit, kenapa aku baru mencintai dia sekarang? ah....mungkin hanya perasaan sesaat" gumamnya dalam hati 
***

Aira dan putra pun sudah melewati masa UN. Ini adalah waktu yang paling tak ku nanti, perpisahan aku dan dia tak lama lagi. Aku ingin menghabis kan waktu ku sebelu berpisah dengan dia. Membuat banyak kenangan yang nanti nya hanya bisa ku kenang. Seperti hari ini, aku ingin jalan jalan ke mall dengan dia.

"Eh kita photo box yuk ai!" ajak putra
" Yuk! 

Satu persatu pose yang tak akan pernah mereka lupakan pun mereka buat, ya senyum dari putra yang membuat ku ingin menangis rasanya, karna kapan lagi aku bisa melihat senyum nya dia yang se-ceria ini. Tapi.....lagi lagi hati ku bertanya, kenapa rasanya beda ketika aku dekat dengan putra sekarang, tak seperti dulu. Dulu aku tak punya perasaan ini. Ah... apa ini cinta? Aku rasa tidak. Lagi - lagi aku mengelak.

"Eh lihat deh ini, lucu ya! gw gak bakal lupa sama ini, gw simpan satu ya ini" kata putra mengambil selembar foto mereka yang sudah tercetak

"Gak akan pernah lupa put! eh mau kemana lagi nih?"tanya aira

"Makan yuk! laper nih  gw" kata putra mengajak sambil menggandeng tangan aira

Deg! ini yang aku rasakan, kenapa perasaan ku sangat tidak karuan saat putra menggandeng tangan ku? semakin banyak hal hal aneh yang aku rasakan, apa ini cinta? aku masih tak percaya. 

"Yaampun! sedikit lagi kita jadi mahasiswa!" kata putra sambil menyeruput orange juice nya

"Iya" kata aira hanya mengiyakan. Seketika itu juga rasanya dia tak ada gairah untuk melanjutkan makan kalau membicarakan hal ini

Malamnya di balkon rumah...
Langit tak secerah malam malam sebelumnya, ya aira mencari bintang yang biasa menemani dia, langit begitu merah karna mendung. Angin dingin seperti ingin hujan menerpa wajah ku, satu persatu rintikan hujan membasahi tubuhku. Aku tak ingin beranjak dari balkon ku, aku biarkan rintikan hujan jatuh. Aku memejamkan mata, air hujan satu persatu semakin keras jatuh di tubuhku.

"Akankah rasa sakit yang aku rasa saat aku kehilangan putra sama dengan rasa sakit saat  rintikan hujan yang satu persatu jatuh semakin deras membasahi tubuh ku?" gumam nya dalam hati.
***

Hari ini, hari pengumuman kelulusan! Aku berjalan menyusuri koridor menuju kelas ku. Tepat sampai depan kelas ada yang mengagetkan ku, tiba tiba saja putra ada di depan ku. Ya, seperti biasa dia suka sekali mengagetkan ku. Ah....kenapa aku harus melihat wajahnya lagi? Ini hari perpisahan kita putra! aku tak mau melihat mu. Rasanya sakit kalau aku akan berpisah dengan mu. Tanpa ada omongan panjang lebar, aku melewati putra tanpa menyapa nya seperti yang biasa dan memasuki kelas.

Putra masih bingung seketika diam berfikir, dia mengingat - ingat apa dia ada salah sama aira? dia fikir tidak ada sama sekali. Putra mencoba menghampiri nya untuk menanyakan keadaan aira.

"Lo kenapa sih ai?" tanya putra sambil duduk di samping aira

"Enggak kok, gw gak apa apa" kata nya sambil menyibukan diri membaca novel terbaru nya

" Tapi lo tuh beda! apa salah gw?! lihat gw ai, gw lagi ngmng sama lo!" kata nya agak membentak

" apa sih?! apa yang harus gw jawab?" kata nya kemudian pergi meninggal kan putra

Putra mencari - cari aira di sepanjang koridor, tapi tak ada sosok aira di situ, seketika dia ingat tempat favorite aira di sekolah ini. Ya! di perpustakaan, putra langsung bergegas kesana. Lagi - lagi dia tak temukan aira, ada yang bilang kata nya dia ada di atap gedung sekolah, putra masih tak percaya setau dia aira kan takut ketinggian kenapa dia berani kesana. Tanpa berpikir panjang dia lari bergegas ke atap gedung.

"Aira!" teriak putra.

"Jangan ganggu gw ta, please gw mau sendiri aja kali ini" kata aira yang ta menoleh ke arah putra sama sekali

"Tapi?!"

"Gw bilang jangan ganggu gw!!!" bentak aira pada putra

"Oke, tapi gw cuma mau ngasih kabar ini, gw bakal ngelanjutin kuliah gw di amerika"kata putra mempertegas kemudian pergi meninggalkan aira.

Lagi - lagi dia menangis mendengar kabar ini, rasanya aneh gak karuan entah kenapa seperti ini. Hal yang tak pernah ingin dia dengar itu akhirnya terdengar juga lewat mulut putra sendiri. 

"Dia mau ninggalin gw? sejahat itu kah dia? gw harap dia gak membenarkan kata kata nya itu. Dia gak tau seberapa hancur nya gw tanpa dia?. Tuhan......kenapa ini semua begitu sangat cepat? tapi kalau saat saat aku bersama dia kenapa begitu lambat? sehingga aku bisa mengingat setiap detail nya saat dia merangkul aku, tertawa bersama ku dan setiap kenangan yang aku buat bersama dia" gumamnya dalam hati

Pengumuman kelulusan pun sudah di beritakan hari itu juga, Putra dan aira lulus! mereka teriak bersama sama walau berbeda jarak karna berdesakan di papan pengumuman bersama anak anak yang lain nya, dan kabar yang mengagetkan lagi putra mendapatkan posisi paling tinggi karna nilai nya. Di sela teriakan mereka dan sibuk satu sama lain karna saling meminta tanda tangan untuk baju mereka untuk kenang2an, aira menghampiri putra untuk meminta tanda tangan nya juga.

"tra, boleh gw minta tanda tangan lo juga?" tanya nya agak canggung tanpa mengingat kejadian tadi

"My pleasure sahabat!, tapi udah penuh tuh baju lo" kata putra sambil tersenyum

"Uhm....lo gak usah khawatir tra, masih ada tempat yang lain yang kosong buat lo kok" kata aira membalas senyum nya, kemudian membuka kerah belakang baju nya.

Putra pun langsung memberi tanda tangan nya itu, sebalik nya aira yang memberikan tanda tangan nya itu tepat di baju bagian dada sebelah kanan putra. Setelah itu putra langsung memeluk aira sahabat kesayangan nya dia itu, sangat erat seakan akan mereka tak mau berpisah, walaupun takdir mengharus kan mereka berpisah. Pulangnya, mereka langsung menuju bukit tempat mereka menghabiskan waktu, di tempat ini mereka menghabis kan masa masa selama masih memakai putih abu abu.

"tra, kita masih bisa sering ketemu kan?" tanya aira

"Bisalah, bahkan setelah gw sampai amerika nnti gw langsung kirim surat buat lo kok" jawab putra sambil menatap aira

"janji? gw takut lo lupa sama persahabatan kita. Takutnya juga pas lo balik kesini gw udah gak ada"

"Maksud kata kata terakhir lo apa tadi?"

" oh... maaf maaf gak gitu maksud nya, maksud gw tuh gw udah pindah tempat lain juga"

"Kalo gw lupa sama lo gimana?"

"ihhhhh jahat" kata aira lalu memukul bahu putra

"Eh lihat deh sunsetnya! suatu saat nanti kalo kita ketemu lagi kayak gini atau kita jodoh, kita pasti balik ketempat ini kok"

Aira pun melebarkan senyumnya dengan mata berkaca kaca langsung saja dia memeluk putra, putra pun membalas nya. pelukan ini sangat hangat seperti sinar lembayung natahari yang membias ke mereka. Romantis, Tapi sayang nya pelukan ini tak lebih dari pelukan seorang sahabat.