Di koridor sekolah...
"dorrr" putra mengagetkan aira dari belakang
"Yaampun putra! bikin gw kaget tau! kata aira membentak
" yeeee, gitu aja ngambek. Lagian sih lo serius banget" kata putra kemudian duduk di sebelah aira
Namun aira terus asik melanjutkan membaca novel yang baru dia beli kemarin
"Eh nanti mau nemenin gw gak?'' kata putra menawarkan
" kemana sih?" tanya nya bingung
" udah deh, ikut ajaaaaa, mau ya? pleaseeee" putra memohon
"gimana ya.....iya deh sahabat gw yang gantengggg" kata aira mengiyakan
***
Sepulang sekolah, mereka pun ke tempat yang putra maksud, ya! bukit yang tak jauh dr sekolah, yang tinggi bukit itu lumayan buat tempat menghilangkan kejenuhan dan pemandangan kota dari ujung ke ujung, apa lagi kalau malam di sini terlihat jelas bintang ber kelip kelip yang menghiasi langit kota. Mereka pergi ke sana masih lengkap dengan baju sekolah mereka.
"Eh ta, gw capek tau! masih jauh gak sih nanjak nya?!" kata aira dengan nafas ter engah engah
"Dikit lagi kok! gitu doang masa nyerah, capek lo gak sia sia deh pas udah nyampe atas" kata putra menyemangati
"Dikit lagi kok! gitu doang masa nyerah, capek lo gak sia sia deh pas udah nyampe atas" kata putra menyemangati
Sampai lah mereka di atas puncak bukit itu, pemandangan yang tak ada batas nya itu membuat aira kagum, walau sebenarnya dia takut akan ketinggian. Benar benar terbayar rasa capek mereka setelah melihat pemandangan yg jarang di lihat dan udara sore yang cukup sejuk menerpa wajah mereka yang penuh peluh.
"Lo lihat deh ai! keren banget kan?!" tanya putra kagum
"Iya sih, tapi kan tetep aja gw takut! ini masalah nya tinggi bgt!" jawab nya sambil mwngumpat di balik badan putra
"Sini deh, lo coba diri depan gw. Ini cuma shock terapi sementara kok buat org yg takut ke tinggian, santai aja" kata putra sambil menggandeng aira berdiri di depannya
"Tapi entar gw jatoh gimana? ini di pinggir loh!" kata aira ketakutan
"Udah! gak usah berisik deh lo, ikutin gw aja! coba lo tutup mata. Lo rasain setiap terpaan angin yang menembus wajah lo, sambil tarik nafas terus buang pelan pelan" kata putra menginstruksi
Aira pun mengikuti setiap ucapan dari putra, dan dia merasakan hal yang beda saat semua angin menerpa wajah nya dan menembus paru paru nya, saat dia menghirup udara sejuk dari bukit itu, sejenak fikiran yang takut akan ketinggian hilang begitu saja. tapi dari perintah menutup mata, dia tak merasakan kelebihan, hanya gelap yang dia rasakan dan dia lihat tak ada kepuasan tersendiri.
"Coba lo buka mata pelan pelan, tapi lo jangan ngelihat langsung ke bawah pandangan lo fokus aja ke depan"kata putra menyuruh. Aira pun membuka matanya pelan pelan, silau sinar pun membuat aira menyipitkan matanya
"Apa yang lo rasain tadi?" tanya putra yang berdiri di belakang aira
"Gw baru ngerasain kayak gini, gw ngerasa tenang banget, walaupun gw belum puas karna semua nya gelap" jawab aira
"Lo bisa gak ngambil kesimpulan nya dari pertama sampai terakhir?" tanya nya kembali
"Ya gw tau kok, kalau gw mejamkan mata terus gw cuma bisa merasakan dua kenikmatan, gw cuma bisa merasakan gak bisa melihat pemandangan setiap sudut kota" jawab aira yang terus memandang ke depan
"Gelap itu cuma membuat lo terperangkap, lo gak bisa keluar memandang luas setiap apa yang lo lihat, berarti penglihatan lo di batasi karna hanya ketakutan lo. Lo lebih milih mana? buka mata atau tutup mata?" kata putra meyakinkan
"Gw lebih memilih membuka mata, karna gw bisa melihat semua objek yang ingin gw lihat, termasuk gw bisa melihat senyuman dari seseorang yang gw kagumi" katanya masih menatap tajam ke depan
Putra hanya diam, aira pun begitu. entah apa yang aira katakan itu di tujukan untuk siapa.
Untuk mengakhiri sore mereka sebelum matahari terbenam, ada hal yang penting ingin aira tanya kan pada putra.
"Tra, kira kira nanti abis lulus lo mau kuliah dimana? kita gak pisah kan?" tanya aira sambil menatap putra.
"Hmm.....kayak nya sih gw gak disini lagi, ya mungkin luar kota, tapi tenang lo sahabat gw yang gak bakal gw lupain kok, kita bisa contact-an kan" jawab putra sambil tersenyum
"Kok? lo tinggalin gw? gw gak bisa nemuin sahabat yang kayak lo tra" kata aira dengan mata berkaca kaca
"Kan lo sendiri pernah bilang ke gue, hidup gak hanya di satu tempat, kita perlu beradaptasi lagi buat lebih maju lagi. Lo jangan sedih ya? " kata putra
" Gak kok, gw lebih seneng kalo alasan lo emg kayak gitu, gw dukung apa yang lo jalanin tra, gw kan sayang lo" kata aira sambil tersenyum
"Makasih ya ai, lo emg sahabat gw yang the best!" kata putra membalas senyum dan merangkul aira
Padahal dalam hati aira tak bisa membendung kesedihan untuk berpisah dengan putra, rasa nya airmatanya ingin pecah. Namun aira merasa bingung, mengapa dia bisa sesedih ini? adakah sedikit rasa yang terselip di dalam hatinya? dia terus mengelak dengan perasaan nya, mungkin ini hanya kesedihan biasa seorang sahabat yang ingin berpisah. mereka pun menghabis kan sore dengan melihat matahari terbenam, di selingi tawa kecil dari mereka.
Sampainya di rumah, aira langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dan hati nya masih bertanya tanya, mengapa dia merasa sangat kehilangan.
"Tuhan... Kenapa aku merasa aneh dengan diriku, merasa sangat amat tidak ingin kehilangan putra, apa ini cinta? kalau memang iya, kenapa harus ada. Ini sangat sakit, kenapa aku baru mencintai dia sekarang? ah....mungkin hanya perasaan sesaat" gumamnya dalam hati
***
Aira dan putra pun sudah melewati masa UN. Ini adalah waktu yang paling tak ku nanti, perpisahan aku dan dia tak lama lagi. Aku ingin menghabis kan waktu ku sebelu berpisah dengan dia. Membuat banyak kenangan yang nanti nya hanya bisa ku kenang. Seperti hari ini, aku ingin jalan jalan ke mall dengan dia.
"Eh kita photo box yuk ai!" ajak putra
" Yuk!
Satu persatu pose yang tak akan pernah mereka lupakan pun mereka buat, ya senyum dari putra yang membuat ku ingin menangis rasanya, karna kapan lagi aku bisa melihat senyum nya dia yang se-ceria ini. Tapi.....lagi lagi hati ku bertanya, kenapa rasanya beda ketika aku dekat dengan putra sekarang, tak seperti dulu. Dulu aku tak punya perasaan ini. Ah... apa ini cinta? Aku rasa tidak. Lagi - lagi aku mengelak.
"Eh lihat deh ini, lucu ya! gw gak bakal lupa sama ini, gw simpan satu ya ini" kata putra mengambil selembar foto mereka yang sudah tercetak
"Gak akan pernah lupa put! eh mau kemana lagi nih?"tanya aira
"Makan yuk! laper nih gw" kata putra mengajak sambil menggandeng tangan aira
Deg! ini yang aku rasakan, kenapa perasaan ku sangat tidak karuan saat putra menggandeng tangan ku? semakin banyak hal hal aneh yang aku rasakan, apa ini cinta? aku masih tak percaya.
"Yaampun! sedikit lagi kita jadi mahasiswa!" kata putra sambil menyeruput orange juice nya
"Iya" kata aira hanya mengiyakan. Seketika itu juga rasanya dia tak ada gairah untuk melanjutkan makan kalau membicarakan hal ini
Malamnya di balkon rumah...
Langit tak secerah malam malam sebelumnya, ya aira mencari bintang yang biasa menemani dia, langit begitu merah karna mendung. Angin dingin seperti ingin hujan menerpa wajah ku, satu persatu rintikan hujan membasahi tubuhku. Aku tak ingin beranjak dari balkon ku, aku biarkan rintikan hujan jatuh. Aku memejamkan mata, air hujan satu persatu semakin keras jatuh di tubuhku.
"Akankah rasa sakit yang aku rasa saat aku kehilangan putra sama dengan rasa sakit saat rintikan hujan yang satu persatu jatuh semakin deras membasahi tubuh ku?" gumam nya dalam hati.
***
Hari ini, hari pengumuman kelulusan! Aku berjalan menyusuri koridor menuju kelas ku. Tepat sampai depan kelas ada yang mengagetkan ku, tiba tiba saja putra ada di depan ku. Ya, seperti biasa dia suka sekali mengagetkan ku. Ah....kenapa aku harus melihat wajahnya lagi? Ini hari perpisahan kita putra! aku tak mau melihat mu. Rasanya sakit kalau aku akan berpisah dengan mu. Tanpa ada omongan panjang lebar, aku melewati putra tanpa menyapa nya seperti yang biasa dan memasuki kelas.
Putra masih bingung seketika diam berfikir, dia mengingat - ingat apa dia ada salah sama aira? dia fikir tidak ada sama sekali. Putra mencoba menghampiri nya untuk menanyakan keadaan aira.
"Lo kenapa sih ai?" tanya putra sambil duduk di samping aira
"Enggak kok, gw gak apa apa" kata nya sambil menyibukan diri membaca novel terbaru nya
" Tapi lo tuh beda! apa salah gw?! lihat gw ai, gw lagi ngmng sama lo!" kata nya agak membentak
" apa sih?! apa yang harus gw jawab?" kata nya kemudian pergi meninggal kan putra
Putra mencari - cari aira di sepanjang koridor, tapi tak ada sosok aira di situ, seketika dia ingat tempat favorite aira di sekolah ini. Ya! di perpustakaan, putra langsung bergegas kesana. Lagi - lagi dia tak temukan aira, ada yang bilang kata nya dia ada di atap gedung sekolah, putra masih tak percaya setau dia aira kan takut ketinggian kenapa dia berani kesana. Tanpa berpikir panjang dia lari bergegas ke atap gedung.
"Aira!" teriak putra.
"Jangan ganggu gw ta, please gw mau sendiri aja kali ini" kata aira yang ta menoleh ke arah putra sama sekali
"Tapi?!"
"Gw bilang jangan ganggu gw!!!" bentak aira pada putra
"Oke, tapi gw cuma mau ngasih kabar ini, gw bakal ngelanjutin kuliah gw di amerika"kata putra mempertegas kemudian pergi meninggalkan aira.
Lagi - lagi dia menangis mendengar kabar ini, rasanya aneh gak karuan entah kenapa seperti ini. Hal yang tak pernah ingin dia dengar itu akhirnya terdengar juga lewat mulut putra sendiri.
"Dia mau ninggalin gw? sejahat itu kah dia? gw harap dia gak membenarkan kata kata nya itu. Dia gak tau seberapa hancur nya gw tanpa dia?. Tuhan......kenapa ini semua begitu sangat cepat? tapi kalau saat saat aku bersama dia kenapa begitu lambat? sehingga aku bisa mengingat setiap detail nya saat dia merangkul aku, tertawa bersama ku dan setiap kenangan yang aku buat bersama dia" gumamnya dalam hati
Pengumuman kelulusan pun sudah di beritakan hari itu juga, Putra dan aira lulus! mereka teriak bersama sama walau berbeda jarak karna berdesakan di papan pengumuman bersama anak anak yang lain nya, dan kabar yang mengagetkan lagi putra mendapatkan posisi paling tinggi karna nilai nya. Di sela teriakan mereka dan sibuk satu sama lain karna saling meminta tanda tangan untuk baju mereka untuk kenang2an, aira menghampiri putra untuk meminta tanda tangan nya juga.
"tra, boleh gw minta tanda tangan lo juga?" tanya nya agak canggung tanpa mengingat kejadian tadi
"My pleasure sahabat!, tapi udah penuh tuh baju lo" kata putra sambil tersenyum
"Uhm....lo gak usah khawatir tra, masih ada tempat yang lain yang kosong buat lo kok" kata aira membalas senyum nya, kemudian membuka kerah belakang baju nya.
Putra pun langsung memberi tanda tangan nya itu, sebalik nya aira yang memberikan tanda tangan nya itu tepat di baju bagian dada sebelah kanan putra. Setelah itu putra langsung memeluk aira sahabat kesayangan nya dia itu, sangat erat seakan akan mereka tak mau berpisah, walaupun takdir mengharus kan mereka berpisah. Pulangnya, mereka langsung menuju bukit tempat mereka menghabiskan waktu, di tempat ini mereka menghabis kan masa masa selama masih memakai putih abu abu.
"tra, kita masih bisa sering ketemu kan?" tanya aira
"Bisalah, bahkan setelah gw sampai amerika nnti gw langsung kirim surat buat lo kok" jawab putra sambil menatap aira
"janji? gw takut lo lupa sama persahabatan kita. Takutnya juga pas lo balik kesini gw udah gak ada"
"Maksud kata kata terakhir lo apa tadi?"
" oh... maaf maaf gak gitu maksud nya, maksud gw tuh gw udah pindah tempat lain juga"
"Kalo gw lupa sama lo gimana?"
"ihhhhh jahat" kata aira lalu memukul bahu putra
"Eh lihat deh sunsetnya! suatu saat nanti kalo kita ketemu lagi kayak gini atau kita jodoh, kita pasti balik ketempat ini kok"
Aira pun melebarkan senyumnya dengan mata berkaca kaca langsung saja dia memeluk putra, putra pun membalas nya. pelukan ini sangat hangat seperti sinar lembayung natahari yang membias ke mereka. Romantis, Tapi sayang nya pelukan ini tak lebih dari pelukan seorang sahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar