"Nak, sudah kamu masuk saja sana" kata mama menyuruh
"Enggak ma, aku mau nunggu aira, aku mau peluk dia sebelum aku berangkat"
Sementara aira masih berlari di pinggir jalan, melihat kearah jam tangan nya ternyata waktu terus berjalan begitu cepat. Sementara putra, ia sudah harus masuk ke pesawat, putra pun memasuki pesawat karna pesawat nya sudah harus lepas landas. Ternyata aira sudah sampai bandara langsung saja ia menuju keberangkatan luar negri, Aira melihat ke sekeliling terminal tak ada sosok putra dilihatnya jam sudah tepat pukul 10:00 WIB. Tiba - tiba saja handphone nya bergetar, ternyata sms dari putra.
From : Putra
Aira, mungkin kamu baca sms ini setelah aku memasuki pesawat,
kamu tidak terlambat tapi kamu kurang beruntung aja, jangan sedih
aira ku sayang, aku gak mau melihat sahabat aku menangis ayo senyumnya
mana? Ada atau gak ada aku itu sama aja kok, aku akan selalu ada
sangat dekat dengan kamu, aku akan selalu jadi bintang yang selalu
menemani malam mu, aku akan selalu jadi gerimis yang jatuh tepat
di wajahmu, dan aku akan selalu jadi embun yang menyejukan pagimu
suatu saat nanti aku akan kembali membawa semua tawa yang pernah
kita jalanin bersama. Aku sayang kamu sahabat.
Airmata yang tak terbendung lagi satu persatu pun membasahi pipi nya aira saat dia meembaca pesan dari putra, apa lagi saat melihat kata terakhir di pesan sahabat. Ya, aku sadar kita selama ini hanya menjadi sahabat tapi kali ini aku sangat tak rela jika aku hanya di jadikan sbagai sahabat nya. Aku ingin lebih dari ini, aku ingin menjadi wanita satu satunya yang membuat dia merasa nyaman dan tenang, apa lagi menjadi alasan kamu tertawa itu membuat aku sangat bahagia.
Aira masih termenung melihat ke kaca satu persatu pesawat lepas landas termasuk pesawat keberangkatan putra baru saja ia lihat tadi. Aira menyeka air mata dengan sebelah tangan nya, ia berpikir terus lebih keras dan dia dapat menyimpulkan bahwa perasaan yang ia anggap aneh pun itu terungkap. Cinta, ia baru merasakan ini setelah putra pergi, apa ini terlambat? Atau aku kurang beruntung seperti yang di katakan putra?
***
3 Bulan aira mendekam memikirkan hal ini menyimpan sedikit rindu pada putra, tetapi kini dia di sibukan dengan aktivitas barunya sebagai mahasiswa, membuat langkah langkah baru disini tanpa putra dan mendapatkan teman baru tanpa dia melupakan putra. Sambil melamun jari lentik aira memutar di dinding mulut cangkir.
"aira!" panggil nya sambil menepuk pelan bahu aira. Maudy, adalah teman yang baru ia kenal di kampus, tapi kalo udh cerita sama dia tuh kayak udah lama bgt kenal sama dia. anak nya baik, cantik, dan pendengar setia.
"Hei! bikin kaget aja sih"
"Melamun ya? gak kelar kelar sih yg di lamunin, masih dia?" ejek maudy sambil mendekatkan wajah dan meyipitkan matanya
"Sok tau deh ah" jwab nya agak malu
"eh ini minuman gw ya? oh iya, dia apa kabar tuh? masih sering contact?"
"Buat sekarang sih enggak, ya mungkin dia sibuk"
"Eh drtd perasaan lo ngelihat ke sekeliling ruang cafe ini? ada apa? sebelum nya pernah kesini?"
Aira masih termenung melihat ke kaca satu persatu pesawat lepas landas termasuk pesawat keberangkatan putra baru saja ia lihat tadi. Aira menyeka air mata dengan sebelah tangan nya, ia berpikir terus lebih keras dan dia dapat menyimpulkan bahwa perasaan yang ia anggap aneh pun itu terungkap. Cinta, ia baru merasakan ini setelah putra pergi, apa ini terlambat? Atau aku kurang beruntung seperti yang di katakan putra?
***
3 Bulan aira mendekam memikirkan hal ini menyimpan sedikit rindu pada putra, tetapi kini dia di sibukan dengan aktivitas barunya sebagai mahasiswa, membuat langkah langkah baru disini tanpa putra dan mendapatkan teman baru tanpa dia melupakan putra. Sambil melamun jari lentik aira memutar di dinding mulut cangkir.
"aira!" panggil nya sambil menepuk pelan bahu aira. Maudy, adalah teman yang baru ia kenal di kampus, tapi kalo udh cerita sama dia tuh kayak udah lama bgt kenal sama dia. anak nya baik, cantik, dan pendengar setia.
"Hei! bikin kaget aja sih"
"Melamun ya? gak kelar kelar sih yg di lamunin, masih dia?" ejek maudy sambil mendekatkan wajah dan meyipitkan matanya
"Sok tau deh ah" jwab nya agak malu
"eh ini minuman gw ya? oh iya, dia apa kabar tuh? masih sering contact?"
"Buat sekarang sih enggak, ya mungkin dia sibuk"
"Eh drtd perasaan lo ngelihat ke sekeliling ruang cafe ini? ada apa? sebelum nya pernah kesini?"
"Ya, Sebagian masa masa gw sama dia ya pernah gw habis kan di sini, di tempat yang lagi kita dudukin" ujarnya sambil menyeruput cappucino nya kemudian melanjutkan kembali omongan nya.
"Kita suka bgt di tempat ini gak terlalu tertutup cuma di batasin kaca yang ngebuat kita masih bisa ngelihat keadaan diluar, kita juga sering ngeledekin orang yang lalu lalang. iseng aja sih biar suasana gak terlalu kaku"
Maudy mengerutkan dahi sambil menopang dagu. Dia masih tampak serius mendengarkan cerita aira.
"woy! Sok serius lo ah" sambil menepuk tangan yang menopang dagu maudy membuat maudy hampir terjatuh
"Yeee, dari pada gw sibuk sms-an, mau gak di dengar ceritanya? Kesimpulan gw dr cerita lo ini kayak nya udah pernah dialamin sama banyak kalangan, so? you must move on!"
"Gak bisa dy! rasa nya aneh"
"Mau sampai kapan lo gini? gak mau ngebuka hati? emang lo mau nunggu dia sampe balik kesini, tapi udah ngegandeng cewek lain?"
"Enggak lah! kayak nya sejauh ini dia belum dekat sama siapa siapa disana, dia masih fokus sama kuliah nya"
"Siapa tau kan kejadian?! Kita perlu hati hati ai buat hal kayak gini. Dia itu masih semu kan? emg lo tau dia bakalan bales juga cinta lo? selama ini kan dia memberi sekat buat lo hanya sebatas sahabat" ujar maudy meyakinkan aira
Aira terus berpikir keras, memutar balikan kata kata yang di ucap maudy. Berpikir lebih dalam untuk hal ini sangat sakit kalau memang nanti kejadian yang di ucap maudy itu kejadian. Aira tak ingin sakit lebih dalam, tapi hatinya tak bisa bohong kalau dia masih menaruh kasih pada putra tanpa sepengetahuan putra.
"Apa yang harus gw lakuin? mencintai orglain tapi masih menyimpan sedikit sayang untuk putra? hati gw bukan kue yang seenak nya di kasih dy! sama aja gw nyakitin "orang baru" itu dong?" kemudian aira menengguk habis cappucino yang sudah dingin itu.
"Lo gak harus langsung mencintai orang lain kalau mau move on, cukup berhenti mencintai si objek yang ada di hati lo aja, cinta gak pernah memaksa. Lo hanya butuh kesabaran untuk ikhlas disini". Suasana gerimis di luar menyita pandangan aira dari maudy, dia melihat tetesan air yang satu satu menyambar kaca dan keramaian orang lalu lalang.
Uap dari dingin nya gerimis membuat kaca buram sehingga bisa menulis kan kata kata, seperti hal yang biasa putra lakukan, apapun itu suasana hatinya selalu ia tulis walau hanya satu kata. Aira melakukan hal itu, jari nya menyentuh lapisan kaca yang dingin sambil ia menahan bendungan airmata yang telah mengumpul, dia menuliskan kata "Cinta".
Sedangkan maudy hanya bisa melihat, rasa nya lelah memberi wejangan wejangan nya untuk aira, dia fikir perlahan aira juga dapat lupa setelah mendapatkan "orang baru".
"Yah ai, mungkin nanti rasa sayang lo bisa berkurang setelah lo dapat penggantinya yang ngebuat lo merasa nyaman lebih dari putra, percaya deh". Aira hanya mengerutkan dahi, dia biar kan pikiran nya saat itu tertuju untuk objek yang ia rindu kan sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar