Lama dia menunggu windu di depan toko Nusa Cendana kurang lebih sudah setengah jam, melihat ke kanan dan kekiri jalan tak nampak windu dengan vespa nya. Apa windu lupa? atau sengaja dia ingin mengerjai ku?. Aira mengelak dengan pertanyaan pertanyaan yang memutar di dalam benak nya, pukul tepat sebelas siang, sudah satu jam dia menunggu namun tak nampang batang hidung nya windu. Aira mulai gelisah rasanya ingin dia pulang tapii lagi lagi dia tak ingin melangkahkan kaki nya dia yakin windu pasti datang. Aira memasuki toko buku Nusa Cendana untuk menghilangkan rasa kejenuhan nya, dia tengok kearah luar jendela namun tidak nampak juga windu disana.
Sampai matahari hampir menenggelam kan dirinya windu tak nampak juga, dengan rasa kesal yang bercampur itu membuat aira harus melangkah kan kaki nya untuk meninggalkan toko buku Nusa Cendana.
***
Sesampainya di rumah, ia bergegas memasuki kamar nya tak ingin terlalu lama lama di luar, hanya mengingatkan kejadian yang ia harapkan tak akan terulang lagi. Aira nampak sibuk dengan handphone nya yang sedari tadi terus menghubungi windu, tetapi windu tak bisa di hubungi, aira berpikir sepertinya windu lari dari janji nya.
"Apa sih maksud dari permainan windu? aku kira dia bakalan nepatin janji nya, nyata nya? dia lari" gerutunya dalam hati. Air mata nya dengan sendiri membasahi pipi tembam nya, dia menggerutu lagi dalam hati "Ah untuk apa aku menangisi ini, rasanya bodoh kalau harus mengeluarkan airmata untuk orang yang ingkar janji" gumam nya kembali.
Dilain tempat....
Di rumah yang minimalis ini yang masih terlihat nuansa elite dan suasana sepi karna hanya di tinggali oleh satu orang sangat terasa. Ruang tamu, dapur tak ada aktivitas di ruangan ini namun di kamar yang berdekorasi hitam dan putih dengan pola garis garis di tembok dan sangat tertata rapi benda benda yang ada di kamar itu, terbaringlah seorang laki laki yang terlihat dengan alat bantu oksigen dan wajah nya yang pucat terlihat dalam keadaan yang cukup mengkhawatir kan, siapakah laki - laki? apakah laki laki ini windu?
***
Untuk yang pertama kali lagi setelah lulus dari SMA aira baru menyambahi tempat ini, bukit dekat sekolah yang biasa ia datangi bersama putra dulu. Tempat nya masih sama, terpaan angin nya pun juga masih sama sangat kencang, pemandangan dari ujung ke ujung pun masih sama, namun yang tidak sama aira kali ini sendiri tanpa putra.
Aira sedang sibuk menulis kata kata di atas binder nya menjadi sebuah kalimat yang jelas.
***
Untuk yang pertama kali lagi setelah lulus dari SMA aira baru menyambahi tempat ini, bukit dekat sekolah yang biasa ia datangi bersama putra dulu. Tempat nya masih sama, terpaan angin nya pun juga masih sama sangat kencang, pemandangan dari ujung ke ujung pun masih sama, namun yang tidak sama aira kali ini sendiri tanpa putra.
Aira sedang sibuk menulis kata kata di atas binder nya menjadi sebuah kalimat yang jelas.
Aku Kembali
Aku kembali dengan semua ingatanku
Aku kembali dengan seluruh hasratku
Hanya pemandangan dan angin angin
yang kembali menemaniku di sini
Di tempat ini yang dulu di penuhi tawa
oleh dua orang sahabat yang saling
menaruh janji akan kembali ke tempat ini.
Aira tak dapat membendung kumpulan air di mata nya, satu persatu airmata nya terjatuh tepat di tulisan yang dia tulis di atas binder nya. Tak ingin mengingat - ingat adegan demi adegan yang dulu pernah mereka buat disini, di bukit ini yang sampai sekarang belum di beri nama. Aira beranjak dari tempat ia duduk tak ingin terlalu membuat kerinduan yang sangat amat dalam pada putra. Akhir nya dia mulai melangkah meninggalkan bukit ini.
"Aku sudah kembali kesini putra namun kamu belum juga kembali, aku rindu, sangat rindu kamu putra" gumam aira di sela tangisan nya.
***
Tepat seminggu windu menghilang tanpa menepati janji nya atau pun meminta maaf melalui handphone nya yang tak di sambahi pesan satupun dari windu. Hati nya masih bertanya tanya "Kemana windu? dia lupa atau ada urusan lain? atau dia sakit?" keluh nya dalam hati.
Braga Permai....
"Eh gimana date pertama nya sama windu?" tanya maudy
"Nggg..... dia gak datang dy" jawab aira dengan wajah murung
"Loh kenapa?"
Selang beberapa menit sang pramusaji datang mengantar kan pesanan maudy dan aira, aira memberi senyum saat sang pramusaji meletakan pesanan seraya memberikan ucapan terima kasih.
Maudy melanjutkan pertanyaannya kepada aira lagi "Kok? aneh ya cowok, kurang ajar banget!, Lo udah nunggu dia di toko buku berapa jam?"
Aira mengangkat bahunya "Hmm..... dari siang sampai hampir malam lah dy" ujar nya sambil menyeruput frozen cappucino nya.
Tiba tiba saja handphone aira berdering, ternyata ada pesan masuk.
From: Windu
Aira, maaf satu minggu yang lalu aku gak bisa tepati janji aku.
Pasti kecewa sama aku, sekali lagi aku mohon maaf aira :)
***
Tepat seminggu windu menghilang tanpa menepati janji nya atau pun meminta maaf melalui handphone nya yang tak di sambahi pesan satupun dari windu. Hati nya masih bertanya tanya "Kemana windu? dia lupa atau ada urusan lain? atau dia sakit?" keluh nya dalam hati.
Braga Permai....
"Eh gimana date pertama nya sama windu?" tanya maudy
"Nggg..... dia gak datang dy" jawab aira dengan wajah murung
"Loh kenapa?"
Selang beberapa menit sang pramusaji datang mengantar kan pesanan maudy dan aira, aira memberi senyum saat sang pramusaji meletakan pesanan seraya memberikan ucapan terima kasih.
Maudy melanjutkan pertanyaannya kepada aira lagi "Kok? aneh ya cowok, kurang ajar banget!, Lo udah nunggu dia di toko buku berapa jam?"
Aira mengangkat bahunya "Hmm..... dari siang sampai hampir malam lah dy" ujar nya sambil menyeruput frozen cappucino nya.
Tiba tiba saja handphone aira berdering, ternyata ada pesan masuk.
From: Windu
Aira, maaf satu minggu yang lalu aku gak bisa tepati janji aku.
Pasti kecewa sama aku, sekali lagi aku mohon maaf aira :)
Aira tak langsung membalas pesan nya karna ia sangat kecewa dengan windu, lamgsung saja ia letakan kembali handphone nya diatas meja.
"Dari siapa ra? tanya maudy sambil mengunyah spagetti nya.
"Windu" jawab aira datar.
***
Sesampai nya aira di rumah dia langsung saja menghempaskan tubuh nya di ranjang nya, mengutak atik handphone nya merangkai kata kata untuk membalas pesan dari windu yang sedari siang belum dia balas. Sudah terangkai kata untuk di kirim namun aira menghapus nya dan itu berkali kali dia lakukan, karna kesal langsung saja dia banting hapenya di ranjang.
"Arghhhhh kenapa coba sama gue?! gue kan baru kenal sama windu! apa hak gw coba buat kayak gini" gumam nya dalam hati
Aira pun mencoba merileks kan fikiran dan tubuh nya, dengan cara memejamkan mata dan berkali kali menarik nafas yang dalam kemudian membuangnya di lakukan berulang ulang.
Setelah itu aira mencoba membuat hot chocolate yang biasa dia buat saat keadaan nya suntuk seperti saat ini.
Aira menyeruput sedikit hot chocholate nya, sambil menikmati aroma coklat yang mulai menusuk kedalam hidung nya dan berkumpul ke dalam angan angan nya berputar putar membua nya sedikit rileks karna aroma tersebut, malam ini dingin sama seperti pikiran nya yang terus memikirkan windu.
Tiba - tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah nya dari luar, bergegas lah aira menghampiri ketukan yang memanggil manggil nya. Aira membuka nya pelan pelan, ternyata windu. Aira kaget sampai ia membuka mata nya lebar lebar, padahal keadaan diluar dingin dan sedang gerimis. Aira pun terus memutar kan pikiran nya dan berusaha menjawab pertanyaan yang menanyakan batin nya.
"Du, kamu? ayo masuk dulu, gak enak bicara di depan pintu" aira mempersilahkan
Windu tersenyum dan melangkah masuk kedalam, windu malam ini tampak pucat dan memakai jaket dan jeans serta topi kupluk nya.
"Maaf ya ra, aku datang semalam ini. Ya, aku takut kamu marah atau bahkan benci sama aku" ujar windu memulai topik pembicaraan
"Awal nya sih aku kecewa karna kamu gak bisa commite sama rencana kamu, aku udah maafin kok walaupun masih ada sedikit kecewa"
"Aku minta maaf bgt ra, makasih sebelum nya udah maafin aku" ujar windu sambil memegang tangan aira
Aira kaget, terus menatap dalam mata nya sampai mereka berdua tak sadar kalau mereka saling bertatapan. seketika aira sadar, membuyarkan pandangan nya begitu pula dengan windu.
"Aku kira, kamu gak bakal lagi ketemu sama aku, tiba tiba sih hilang nya" ujar nya sambil membawa hot chocolate untuk windu
"Kan gak selama nya yang tiba tiba bisa jadi selama nya kan ra"
"Iya sih du, emg kamu kenapa gak bisa dateng waktu itu?" tanya aira sambil meletakan segelas hot chocolate di atas meja
"Aku ada urusan sama keluarga aku yang ada di melbourne"
Aira hanya menganggukan kepalanya sambil meminum kembali hot chocholate nya, begitu juga windu ia mencicipi hot chocolate buatan aira.
"Hmm.... enak ya ternyata hot chocolate buatan kamu, kamu suka banget sama coklat?"
Aira tertawa kecil "hmmm....gak terlalu sih, agak pahit sih sebenernya coklat. Tapi. kalo pikiran lagi pahit gini jadi enak, sedikit manis"
Aira mengerutkan dahi nya melihat ada yang aneh dari windu, dari hidung windu seperti ada darah yang keluar "Ndu.... hidung kamu berdarah, kamu sakit?!" tanya nya, aira segera menyeka nya dengan tangan nya sendiri.
Windu memegang tangan aira yang sedang membersihkan darah yang menyisa dari hidung nya. "Aku gak apa apa ra, cuma mimisan biasa kayak gini kok. Cuma kecapekan aja"
"Kamu yakin ndu? muka kamu pucat loh"
"Nggak kok, oh iya.....kayak nya aku harus pulang deh"
"Tapi, kamu...."
Windu menyelak omongan aira
"Aku pulang ya" ujarnya sambil menuju ke arah pintu begitu juga aira menemani windu sampai luar.
Setelah windu sudah tak terlihat lagi dengan pandangan nya, aira segera masuk ke dalam lagi sambil bertanya- tanya dalam hati.
"Tuhan....ada apa dengan windu? sakit apa dia?"
Banyak pertanyaan yang berputar putar di dalam pikiran nya, tapi dia tak menemukan satu jawaban pun yang dapat meyakini hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar