Aira terlihat sedang menyibukan dirinya dengan binder yang sedang ia tulis tulis. Satu kata demi kata tersusun rapi menjadi sebuah kalimat yang sangat jelas. Aira menuliskan kata kata kerinduan ia untuk putra.
Rindu ini akrab
Ketika aku melihat senyum mu
Ketika aku menggenggam tangan mu
Ketika aku bersandar di bahumu
Ketika aku melangkah bersama mu
Ketika semua itu pula....
aku hanya bisa merasakan di dalam mimpi ku
Rindu ini terlebih akrab....
Ketika aku tak dapat menyentuh mu
Namun aku hanya bisa memikirkan mu
Ketika aku melihat senyum mu
Ketika aku menggenggam tangan mu
Ketika aku bersandar di bahumu
Ketika aku melangkah bersama mu
Ketika semua itu pula....
aku hanya bisa merasakan di dalam mimpi ku
Rindu ini terlebih akrab....
Ketika aku tak dapat menyentuh mu
Namun aku hanya bisa memikirkan mu
Aira nampak sedang mengutak atik laptop nya, melihat layar yang ternyata sedang memainkan social media yaitu e-mail nya. Berharap ada email datang dari negara sebrang sana, beberapa menit ia merefresh ternyata memang tak ada e-mail baru untuk nya. Sesibuk apa putra? sampai dia lupa untuk kirim kabar, atau dia sibuk dengan teman baru nya smpai melupakan aku?. Aira menarik nafas sangat dalam "Aku terlupakan? kamu tidak tahu kalau aku sangat merindu mu putra?" dia terus memandangi layar laptop penuh harap ada e-mail dari putra, ia berkedip berkali kali, memang tak ada.
***
Malam ini langit begitu cerah, banyak bintang yang menghiasi alngit langit. seperti biasa merebahkan tubuhku di balkon sambil memandang dalam dalam bintang itu satu persatu, adakah kamu di sana?
Di sebrang sana, Pukul 08:00 waktu amerika.
Musim di sini sedang mengalami musim semi, bunga bunga bermekaran di setiap kebun termasuk kebun di dekat tempat tinggal putra di sana, terdapat sebuah bunga yang menyita perhatian nya. Anemone bisa di sebut juga bunga angin mempunyai tinggi dua sampai tiga kaki. Bunga ini sangat mencolok berwarna merah dengan mata bunga berwarna coklat dan di sekeliling mata bunga terdapat warna merah jambu. Sejenak bunga angin ini mengingatkan dia akan aira. Aira sama seperti bunga angin ini selalu memberikan rasa tenang dan nyaman ketika berada dekat.
Di waktu yang lain, aira sedang bergumam dalam hati "Kata kamu setiap ada bintang itu adalah kamu, aku bisa merasakan pada bintang yang paling terang itu, aku rasa itu kamu. Bintang kirim salam rindu aku untuknya".
***
Aira memasuki braga permai, suasana nostalgia yang sangat melekat pada interior braga permai ini tak sama sekali mengingatkan akan putra karna mereka sebelumnya tak pernah ke sini. menghampiri maudy dengan wjah yang tak enak "Kenapa ketemu nya disini? jalannya kan macet" kemudian duduk dan melanjutkan ocehan nya "ah lo dengerin gw gak sih?".
Maudy diam, matanya berjalan dari atas sampai bawah melihat aira.
"Udah ngoceh nya? gw gak mau ngebawa lo ketempat yang masih berbau tentang putra"
"Hmmm...."
Maudy menyeruput orange juice nya, lalu memutar mutarkan sedotannya, agar rasa orange juice itu merata. "Lo gak bisa jawab? masih nahan kangen?".
Aira hanya mengangkat bahu, memutar mutarkan sedotan di orange juice juga yang sudah di pesan maudy. Aira menghela nafas dan menghembuskan nya, mengingatkan rasa rindu ini semakin menempel seperti noda pada penggorengan yang susah di cuci.
Maudy melambaikan tangan nya tepat di wajah aira "Tuhkan.....ini nih jeleknya dari lo. tiba tiba galau, ngapain sih?! move on lah!".
"Yeeee kata siapa?! sok tau lo, melamun gak berarti galau kan?" aira membela diri seakan tak ingin terlihat seperti itu.
"Ah lama lama gw namain ratu galau sekampus juga lo, terus gw pajang deh di mading" maudy tertawa, aira hanya diam dengan tampang bete nya smbil menyedot kembali orange juice nya.
"Oh iya gw mau ke toko buku nih dy, di sekitar sini ada kan?"
Mudy mengangguk kan kepalanya "Ada di dekat persimpangan braga, namanya toko buku nusa cendana" ujarnya
"Yaudah yuk, mau lihat lihat novel terbaru" maudy dan aira beranjak keluar, sebelum itu maudy menaruh uang diatas bill untuk di bayar.
Jalan braga sangat ramai, turis dalam negri dan turis luar negri lalu lalang di antara maudy dan aira, ada juga penduduk asli bandung sekedar berwisata atau bersantai di cafe cafe sekitar sini.
"Gue gak terlalu suka braga, gak tau kenapa"
"gw tau! karna gak ada kenangan tentang putra disini kan?" sambar maudy
Aira menggelengkan kepalanya "Harus gw jawab kayak gitu? terlalu banyak aktivitas disini"
***
Sesampainya di Toko Nusa Cendana...
Aira melihat satu demi satu novel terbarunya, dia kelihatan bingung karna semua novel itu bagus ceritanya, tiba tiba saja ada sinar kamera yang membias ke aira, refleks ia langsung menoleh sambil mengerutkan dahi, dia minjinjitkan kaki nya melihat kearah sinar kamera yang datang tadi. melihat ke kanan dan kekiri ruangan, terasa sangat hening hanya ada beberapa pengunjung.
"maudy, maudy! sini deh" sambil melambaikan tangan nya memanggil maudy yang sedang asik memilih milih novel juga.
Maudy menoleh. "apaan sih?" kemudian berjalan menghampiri aira
"Lo ngerasa gak tadi kayak ada yang motret gw, ketara banget sinar kameranya"
Maudy sejenak berpikir, mengernyitkan dahinya "Ah, petir kali?!". "yeeee mengkhayal lihat dong diluar terang gitu" ujarnya sambil menunjuk kearah kaca
Maudy tertawa kecil. Menggaruk garuk kepalanya padahal tak terasa gatal sama sekali "iya juga sih ya. ah udah anggap aja fans. lihat besok lo ada di koran gak?" maudy menanggapi nya dengan nada serius namun agak bercanda dengan celotehannya.
Aira masih bingung, ia hanya mengangkat sebelah alis nya dan menggelengkan kepala. Menyingkirkan rasa penasaran nya sementara, dan menuju ke kasir untuk membayar salah stu novel yang ingin dia beli.
Di sebrang sana, Pukul 08:00 waktu amerika.
Musim di sini sedang mengalami musim semi, bunga bunga bermekaran di setiap kebun termasuk kebun di dekat tempat tinggal putra di sana, terdapat sebuah bunga yang menyita perhatian nya. Anemone bisa di sebut juga bunga angin mempunyai tinggi dua sampai tiga kaki. Bunga ini sangat mencolok berwarna merah dengan mata bunga berwarna coklat dan di sekeliling mata bunga terdapat warna merah jambu. Sejenak bunga angin ini mengingatkan dia akan aira. Aira sama seperti bunga angin ini selalu memberikan rasa tenang dan nyaman ketika berada dekat.
Di waktu yang lain, aira sedang bergumam dalam hati "Kata kamu setiap ada bintang itu adalah kamu, aku bisa merasakan pada bintang yang paling terang itu, aku rasa itu kamu. Bintang kirim salam rindu aku untuknya".
***
Aira memasuki braga permai, suasana nostalgia yang sangat melekat pada interior braga permai ini tak sama sekali mengingatkan akan putra karna mereka sebelumnya tak pernah ke sini. menghampiri maudy dengan wjah yang tak enak "Kenapa ketemu nya disini? jalannya kan macet" kemudian duduk dan melanjutkan ocehan nya "ah lo dengerin gw gak sih?".
Maudy diam, matanya berjalan dari atas sampai bawah melihat aira.
"Udah ngoceh nya? gw gak mau ngebawa lo ketempat yang masih berbau tentang putra"
"Hmmm...."
Maudy menyeruput orange juice nya, lalu memutar mutarkan sedotannya, agar rasa orange juice itu merata. "Lo gak bisa jawab? masih nahan kangen?".
Aira hanya mengangkat bahu, memutar mutarkan sedotan di orange juice juga yang sudah di pesan maudy. Aira menghela nafas dan menghembuskan nya, mengingatkan rasa rindu ini semakin menempel seperti noda pada penggorengan yang susah di cuci.
Maudy melambaikan tangan nya tepat di wajah aira "Tuhkan.....ini nih jeleknya dari lo. tiba tiba galau, ngapain sih?! move on lah!".
"Yeeee kata siapa?! sok tau lo, melamun gak berarti galau kan?" aira membela diri seakan tak ingin terlihat seperti itu.
"Ah lama lama gw namain ratu galau sekampus juga lo, terus gw pajang deh di mading" maudy tertawa, aira hanya diam dengan tampang bete nya smbil menyedot kembali orange juice nya.
"Oh iya gw mau ke toko buku nih dy, di sekitar sini ada kan?"
Mudy mengangguk kan kepalanya "Ada di dekat persimpangan braga, namanya toko buku nusa cendana" ujarnya
"Yaudah yuk, mau lihat lihat novel terbaru" maudy dan aira beranjak keluar, sebelum itu maudy menaruh uang diatas bill untuk di bayar.
Jalan braga sangat ramai, turis dalam negri dan turis luar negri lalu lalang di antara maudy dan aira, ada juga penduduk asli bandung sekedar berwisata atau bersantai di cafe cafe sekitar sini.
"Gue gak terlalu suka braga, gak tau kenapa"
"gw tau! karna gak ada kenangan tentang putra disini kan?" sambar maudy
Aira menggelengkan kepalanya "Harus gw jawab kayak gitu? terlalu banyak aktivitas disini"
***
Sesampainya di Toko Nusa Cendana...
Aira melihat satu demi satu novel terbarunya, dia kelihatan bingung karna semua novel itu bagus ceritanya, tiba tiba saja ada sinar kamera yang membias ke aira, refleks ia langsung menoleh sambil mengerutkan dahi, dia minjinjitkan kaki nya melihat kearah sinar kamera yang datang tadi. melihat ke kanan dan kekiri ruangan, terasa sangat hening hanya ada beberapa pengunjung.
"maudy, maudy! sini deh" sambil melambaikan tangan nya memanggil maudy yang sedang asik memilih milih novel juga.
Maudy menoleh. "apaan sih?" kemudian berjalan menghampiri aira
"Lo ngerasa gak tadi kayak ada yang motret gw, ketara banget sinar kameranya"
Maudy sejenak berpikir, mengernyitkan dahinya "Ah, petir kali?!". "yeeee mengkhayal lihat dong diluar terang gitu" ujarnya sambil menunjuk kearah kaca
Maudy tertawa kecil. Menggaruk garuk kepalanya padahal tak terasa gatal sama sekali "iya juga sih ya. ah udah anggap aja fans. lihat besok lo ada di koran gak?" maudy menanggapi nya dengan nada serius namun agak bercanda dengan celotehannya.
Aira masih bingung, ia hanya mengangkat sebelah alis nya dan menggelengkan kepala. Menyingkirkan rasa penasaran nya sementara, dan menuju ke kasir untuk membayar salah stu novel yang ingin dia beli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar