Aira meraba ke samping kasur mencari sumber dering dari handphone nya, setelah itu aira langsung membuka pesan yg tertera si layar handphone
From : Windu
Ra, kamu keluar rumah dong, aku mau ajak kamu ke suatu tempat
Aira melihat keluar dari jendela kamarnya, segera lah dia bersiap siap untuk menemui windu di bawah. Dengan sweater, topi kupluk, celana jeans, sepatu cats dan syal yang melingkar di leher nya membuat aira tampak manis pagi ini.
"Hei....tumben pagi - pagi ngajak jalan" ujarnya sambil menghirup udara pagi dalam dalam
"Mau nebus janji janji nih, jarang - jarang kan di ajak jalan sama cowok sepagi ini?" ujar windu sambil menaik turun kan alis nya.
" Yup! mau kemana nih kita?!"
"Udahhh, naik aja dulu. nanti juga tau, gak aku culik kamu jauh jauh kok, kita bertiga kok, sama miko"
"Miko?" aira mengerutkan dahi sambil mendekatkan wajah nya
"Iya, miko. Nih vespa aku" ujar windu sambil menepuk vespanya
Aira tertawa begitu juga dengan windu. Aira duduk manis di belakang windu
"SIAP?!" Tanya windu meyakinkan. Aira menganggukan kepala nya semangat!
"WOHOOOOOO!!" teriak mereka di sela sela embun yang keluar membasahi bumi dan pagi mereka berdua.
Kabut yang agak tebal menyelimuti kota kembang ini, tepat nya daerah lembang. Aira nampak bahagia baru dia merasakan kembali tertawa lepas bersama orang yang bisa membuat nya nyaman selain putra, sampai lupa juga kapan dia terakhir menangis.
Terhentilah vespa yang di kendarai windu, di suatu tempat yang cukup asri untuk di lihat. membuat hati merasa tenang, kebun teh ...... bau khas dedaunan yang mengeluar kan embun pun masih melekat di hidung aira dan menghirup udara nya dalam - dalam. Rasa nya tak ingin dia menghembuskan kembali, aroma nya masih memutar mutar di benak nya.
"Ndu.... udah lama banget aku enggak ngerasain udara se sejuk ini" ujarnya sambil menghirup udara sejuk nya
"Sama, aku juga. Makanya aku ngajak kamu ke sini, suka kan?"
"Suka banget! biasa nya dulu dia yang ngajak aku ke tempat - tempat yang kayak gini" ujarnya kembali sambi mengarahkan pandangan nya ke windu
Windu mengerutkan dahi nya, ingin menanyakan siapa yang aira maksud, tetapi windu tampak ragu.
"Mungkin "Dia" yang aira maksud salah satu masa lalunya" pikir windu.
"Yuk, kita ke atas tuh" ajak windu sambil menunjuk ke arah kebun teh
***
Aira dan Windu berjalan diantara hamparan daun dan kabut yang masih menyelimuti udara pagi ini, tetesan embun membasahi daun dan tanah yang menghasilkan bau khas pagi hari.
Windu tampak senang melihat kegembiraan yang selama ini baru ia lihat setelah mengenal aira. Aira membasahi wajah dengan tangannya dari embun - embun yang menempel di daun daun, diikuti oleh windu yang sedari tadi mengikuti kegembiraan aira.
"Ndu..... kamu pernah ingat kapan terakhir kamu menangis?" tanya aira seraya mengambil posisi duduk di pinggiran kebun
"Nggg..... pernah, ketika merasa kehilangan dan rindu kepada seseorang, kamu?" jawab nya sambil tersenyum.
"Saat aku merasa kan rindu pada sesuatu yang jauh, tak bisa aku rasakan seluruhnya, tapi aku merasakan kalau rindu itu sedang aku rasakan, aneh rasanya"
"Kenapa kamu gak bisa menemukan jawaban dari rasa keanehan kamu itu? padahal kamu bisa, tapi kamu selalu tidak percaya dengan perasaan kamu, itu yang membuat rasa rindu kamu menjadi aneh, ra"
Aira menggosokan kedua tangan nya berusaha mendapatkan sedikit kehangatan untuk tubuh nya, windu yang melihat nya seperti itu meraih kedua tangan aira dan menggosokan tangan nya aira dengan tangan nya.
Aira tersenyum malu, sekilas aira melihat bayangan wajah putra ada pada windu, aira segera memeluk windu. Windu kaget, tetapi dia membalas pelukan aira dengan hangat. Aira merasakan windu adalah sosok laki laki yang membuatnya nyaman selain putra, tak lama aira melepas pelukan nya begitu juga dengan windu.
Windu mengambil sesuatu dari kantong jaket nya "Ra, aku mau kasih surat ini untuk kamu"
"Loh? kkamu kok aneh banget? kenapa gak bilang langsung aja?"
"Aku gak bisa kasih alasannya, nanti kamu juga tau, oh iya kamu boleh buka surat ini kalau aku udah kasih izin ke kamu" ujarnya
Aira semakin bingung, merasakan keanehan yang ada pada windu sekarang.
"Kamu kenapa bisa sih bikin aku bingung?" ujarbya sedikit kecewa
Windu tertawa kecil "Aku gak bermaksud buat kamu bingung ra, aku kayak gini mau ajarin kamu untuk membaca keadaan" ujarnya sambil mengelus rambut aira
"Tapi kamu gak bermaksud untuk ninggalin aku kan Ndu?" Tanya aira
Aira bersandar di bahu windu di balasnya windu dengan rangkulan seakan - akan itu jawaban windu kalau windu tak akan pergi meninggal kan aira. Windu segera menghapus airmata nya agar aira tak melihat kalau windu menangis saat itu.
***
"Makasih ya windu hari ini, aku bisa tertawa lepas tanpa ada sedikitpun beban di diri aku" ujar aira
"Sama - sama ra, aku juga senang hari ini udah bisa lihat kamu bahagia seperti sekarang" ujar windu sambil mengacak rambut nya aira
Disela pembicaraan aira dengan windu tiba - tiba saja ada yang memanggil nama aira, aira menoleh ke arah rumah nya. Tepat di teras depan ada sosok laki - laki yang melambaikan tangan nya seolah olah laki - laki itu benar benar orang terdekat aira.
Aira mengernyitkan dahinya "Sepertinya laki - laki itu tidak asing lagi bagi ku"
Laki - laki yang aira lihat itu nampak rapi dengan jaket baseball dan jeans birunya, sepertinya laki laki itu seumuran dengan aira. Aira mengajak windu untuk menghampiri laki - laki itu. Kaki aira terasa sangat lemas saat dia sudah berdiri di depan laki - laki itu, bibir nya gemetar, airmatanya sudah menggumpal di pelupuk matanya, berusaha untuk menggapai wajah laki - laki itu namun tangan nya sangat lemas untuk di gerakan.
"PUTRA?!" Ujar aira dengan suara gemetar
Laki - laki itu tersenyum dan menganggukan kepalanya, langsung saja aira memeluk erat laki - laki itu yang ternyata putra. Rasa rindu, haru sekaligus bahagia bercampur aduk di benak aira saat itu, windu yang melihat nya hanya bisa tersenyum dan mata ber kaca - kaca. Aira tak tau kalau windu menyimpan rasa cinta yang lebih besar daripada rasa rindu aira kepada putra.
Aira mengajak putra dan windu masuk kedalam rumah nya, untuk sedikit berbincang dengan putra dan memperkenalkan windu kepada putra juga.
"Kamu kapan sampai bandung ta?" tanya aira sambil membawa 3 cangkir teh dari dapur nya
"Kemarin, tapi aku sengaja gak kasih tau kamu ra" jawab putra
"Dari dulu ya kamu bikin aku kaget terus" ujar aira tertawa sambil menaruh cangkir - cangkir berisi teh ke meja
"Oh iya, sampai lupa aku mau kenalin windu sama kamu ta"
Windu tersenyum dan mengulur kan tangan nya seraya mengucapkan nama nya" Windu"
Putra pun membalas jabatan tangan windu sambil menyebutkan nama nya "Putra"
"Oh iya windu, thank's yah udah jagain sahabat gw yang cantik ini" ujar putra sambil mengacak rambut aira.
"Pasti, lo tenang aja ta. Dia gak pernah sedih kok selama sama gue" ujar windu kemudian menyeruput teh
Suasana yang cukup hening menemani obrolan mereka bertiga dengan secangkir teh yang membuat susana itu menjadi hangat, walau sebenarnya windu agak sedikit cemburu saat aira memeluk putra di teras tadi.
Tak lama putra dan windu berpamitan untuk pulang, aira pun mengantar mereka sampai depan teras rumah.
"Windu hati hati ya bawa motor nya jangan kencang - kencang" ujarnya meneriaki windu
"Kamu juga putra hati hati ya bawa mobil nya" ujar aira kembali meneriaki putra.
***
Aira merebahkan tubuh nya perlahan di balkon atas, sambil melihat langit - langit malam yang di hiasi bintang. Aira memegang dua foto yaitu foto putra dan foto windu, aira bingung dia harus kembali ke masa lalu nya untuk kembali mencintai putra tanpa sepengetahuan putra atau bersama windu untuk membuka hari yang baru dan menjalani rasa cinta yang baru.
Di peluk nya kedua foto itu sambil memejamkan matanya dan bergumam dalam hati "Tuhan, semoga salah satunya menjadi pilihan yang terbaik untuk ku"
Aira menolehkan pandangan nya kesamping kanan, di ambil nya surat berwarna amlop coklat yang tadi pagi di kasih oleh windu. Aira sangat ingin tahu apa yang di tuliskan oleh windu, surat cinta kah? atau surat kepergian windu?. Batin aira menampik itu semua, berusaha untuk tidak mengetahui kembali isi surat tersebut.
"Bintang, kalau kamu bisa menjawab semua kegundahan ku engkau akan pilih yang mana? memilih untuk kembali ke masa lalu? atau kah harus melangkah lebih maju dan meninggalkan sedikit rasa yang masih tersisa?" gumam nya kembali dalam hati.
Aira berusaha menghitung bintang - bintang yang masih bisa terlihat dengan mata telanjang nya menghiasi langit malam ini, namun tak bisa ia menemukan jumlah yang tepat berulang ulang kali ia mencoba menghitung sampai rasa kantuk nya datang, deru angin pun menghantar kan kantuk nya kedalam mimpi, dan berdoa agar esok dia bisa menemukan pilihan yang tepat.
***
Matahari pagi telah menampakan dirinya dari perpaduan, kali ini aira bangun lebih pagi dari biasa nya untuk membersihkan rumah, di buka nya gordyn yang setia dengan jendela matahari pun langsung mengenai wajah aira membuatnya harus melindungi matanya dengan sebelah tangan. Udara sejuk pegunungan pun menembus paru paru nya membuat sia bergairah untuk menghirupnya lebih dalam.
Aira mengambil handphone nya ternyata ada pesan masuk tertera di layar nya.
From : Putra
Ra, aku mau kembali ke bukit sama kamu, kamu mau kan?, sekitar jam 10.
See you my best, i hope you can attend :)
Aira langsung saja membalasnya tanpa ada sedikit keraguan
To : Putra
Iya, aku mau kok ta :)
Aira bergegas merapikan diri untuk bertemu dengan putra nanti, hal ini yang sangat ia rindukan setelah beberapa tahun yang lalu aira menghabiskan waktu di bukit dekat sekolah nya itu.
Pukul 10:00. Di bukit...
Terpaan angin, pemandangan kota yang masih sama serta suasana di bukit yang belum ada perubahan sama sekali, dingin nya masih sama saat putra terakhir kali mengunjungi tempat ini. Putra memejamkan matanya merasakan terpaan angin yang menembus dadanya, membentangkan tangan nya seakan - akan tubuhnya terbawa terpaan angin. Suara perempuan yang sangat khas di telinga nya memanggil nama nya ber ulang - ulang kali.
Putra pun menoleh wanita itu yang ternyata aira menghampiri dirinya dengan senyuman yang masih sama saat putra menghabiskan waktu bersama aira di tempat ini.
"Putra, maaf ya pasti kamu sudah nunggu lama"ujar aira
"Iya, aku maklumi kok" ujar putra seraya mengambil posisi duduk diikuti oleh aira.
"Aku seneng banget deh kembali lagi kesini semua keadaan nya masih sama, belum ada perubahan sama sekali" kata putra membuka pembicaraan
"Kata siapa gak ada perubahan? banyak banget perubahan nya" ujar aira tersenyum
Putra mengerutkan dahinya, melihat ke sekeliling nya tak menemukan perubahan yang aira maksud.
"Kamu cari apa putra? perubahan nya itu ada di kita, kita terakhir ke sini masih pakai seragam SMA tapi sekarang? kita tanpa seragam itu"
Putra tertawa "Ohiya... dan penampilan kita juga berbeda, dulu kamu sering banget di kuncir rambutnya? tapi sekarang kamu lebih suka di gerai yah rambutnya"
"Banyak banget ya kalau di sebutin satu - satu perbedaan dulu dan sekarang" ujar aira masih tertawa.
"Ra, windu yang kemarin kamu kenalin ke aku itu siapa kamu? " tanya putra sambil menatap aira
"Dia.... orang yang menjadi inspirasi ku saat ini putra"
Putra hanya menganggukan kepalanya mengalihkan pandangan nya dari aira, seperti ada sedikit kekecewaan yang tersirat di wajah putra.
"Aku harap kamu bisa bahagia bersama pilihan kamu sekarang aira, aku turut bahagia" ucap nya kemudian putra langsung memeluk aira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar