"Kemana windu? aku harus memastikan hati aku sekarang juga" ujarnya dalam hati
Dengan gerak terburu - buru langsung saja aira keluar dari taksi dan memasuki rumah windu, sangat sepi di dalam sepertinya tidak ada satu orang pun di sana. Namun saat aku memencet bel untuk yang ke tiga kali nya baru lah seorang perempuan paruh baya yang seperti nya asisten rumah tangga menghampiri pintu.
"Maaf de cari siapa ya? kebetulang orang rumah lagi tidak ada di rumah" ujar wanita ini dengan senyum
"Oh iya bu, maaf ya. saya mau cari windu"
"Oh mas windu? kasihan sekali dia de....." tak sempat ibu itu menyelesaikan bicara nya, aira langsung saja menyambar.
"Kenapa bu?! windu kenapa?!" ujar aira sambil menahan airmata
"Dia baru saja dilarikan ke rumah sakit bhayangkara bersama ayah dan ibu nya, baru saja penyakit nya semakin parah"
"Apa?! windu sakit? sakit apa bu?"
"Maaf de, bukan nya ibu tidak mau memberi tahu, tapi saya kurang tau"
Tanpa berkata kata apapun lagi aira langsung lari keluar rumah windu dan bergegas ke rumah sakit. Aira nampak khawatir dengan hal yang sedang terjadi pada windu, tak henti dia menggenggam erat tangan nya sendiri. detak jantung nya semakin kencang, entah apa yang terjadi otak nya langsung terputar dengan hal - hal yang pernah terjadi antara windu dan aira. Airmata pun keluar tanpa dia sadar, rasa cemas nya pun semakin menghalangi nya seperti awan mendung yang ingin mengeluarkan hujan, namun aira tak mampu menyibaknya.
"Aku gak tahu apa yang terjadi kalau ada apa - apa dengan kamu windu, dan aku gak tahu juga keadaan aku setelah tahu kamu kenapa - kenapa" cemas nya dalam hati
Sesampainya di rumah sakit, aira langsung menuju tempat recepsionist, dengan napas tergopoh - gopoh dan kosakata yang keluar dari mulutnya dengan nada gemetar dan airmata yang tak henti henti nya keluar sedari tadi.
"Suster! suster!Ada pasien yang baru masuk tadi bernama windu?!"
"Sebentar ibu, saya cari datanya terlebih dahulu" ujar suster
"Yang bernama windu aditya, dia berada di ruang ICU, 1 jam yang lalu baru saja masuk"
Aira pun langsung bergegas mencari ruang ICU "Ya tuhan, jangan engkau ambil dia sebelum dia tahu bagaimana aku mencintai dia, bagaimana sayang dan cinta ini yang semakin besar untuknya" gumamnya dalam hati.
Kaki nya gemetar, tak sanggup melihat keadaan windu yang dipenuhi oleh alat alat medis dan dokter serta asisten nya yang sedang mengecek keadaan nya.
"Separah inikah yang selama ini kamu rasakan tanpa aku mengetahui windu?"
Ayah dan ibu nya windu keluar dengan isak tangis, aira semakin khawatir dengan keadaan ini. Aira pun langsung menghampiri orangtua windu.
"Maaf ibu, kalau saya lancang ingin menanyakan keadaan windu. ohiya sebelumnya saya teman dekatnya windu sekarang"
Ibu windu mengerutkan kening dan tangis pun tiba tiba berhenti "Kamu aira?"
Aira hanya mengangguk pelan. "Windu sering cerita tentang kamu nak dengan ibu, windu mengidap kanker otak stadium lanjut "
Langsung saja aira memeluk erat ibu windu, tangis pun pecah. "Aku gak tahu sesering apa windu menceritakan aku kepada orang tua nya. Dan rasa sakit yang sering juga dia tahan. Apa ini tanda kalau dia juga mencintai ku?" gumamnya.
***
Pagi ini aira membawa sepaket bunga untuk windu yang belum sadar kan diri dan masih tergulai lemas diatas tempat tidur yang seharusnya dia tak pantas untuk tidur disana. Setiap langkah dan semangat yang aira lakukan mulai hari ini, dia meyakini pasti ada titik kebaikan untuk kesembuhan windu. Sesampainya di kamar ICU pun aira langsung duduk di samping windu, mengenggam tangan windu berharap windu sadar saat itu juga.
"Hai windu, kamu lihat? aku bawa bunga mawar putih untuk kamu. andaikan kalau kamu sadar, aku pasti bisa melihat senyum kamu lagi"
Tangan windu bergerak, membuat aira kaget namun ada perkembangan untuk windu.
"Windu, tangan kamu gerak! aku yakin pasti kamu sadar" ujarnya sambil menahan tangis.
5 hari sudah hal ini sudah di lakukan oleh aira, namun belum ada banyak perkembangan dari windu, windu masih koma dan tergulai lemas dengan alat alat medis yang menempel di badan nya yang tak aira suka sejak dia kecil. Aira putus asa, semakin tak tega melihat keadaan windu.
"Kamu bodoh aira, bagaimana dia ingin sadar tapi setelah sadar harus melihat kamu menangis seperti ini, ayo semangat aira, kalahkan kesedihan dan keadaan buruk ini" ujarnya dalam hati
Aira pun langsung memasuki ruang ICU, melihat ibu windu yang terus menangis membuatnya tak tega dan ingin mengeluarkan airmata. Aira pun harus ingat janji nya dengan diri nya sendiri,tidak boleh ada sedikit airmata pun saat aira melihat kondisi windu.
"Windu, kamu tidur lama banget, aku kangen kamu. aku kangen ketawa dan senyum kamu. aku kangen hal - hal yang kita lakukan bersama. kamu gak pantas ada di sini windu" kata aira sambil memegang tangan windu
Perlahan mata yang gagah ini pun terbuka pelan pelan, Dengan penglihatan yang agak buram. Mata ini mencoba mengenali setiap ornamen yang ada di kamar. Tangan yang kaku ini pun mulai bergerak. Mencoba melemasjan sendi sendi kaku yang telah istirahat selama lebih dari satu minggu. Dari luar kamar ada sosok wanita yaitu aira yang ingin memasuki kamar. Aira yang membawa satu bucket mawar putih pun tercengang melihat windu telah sadar. Aira pun langsung memegang tangan windu.
"Windu. Kamu benar benar sadar kan?" tanya aira Windu hanya mengerutkan kening, penglihatan nya buram dan mencoba mengenali wajah aira.
"Keluar.....aku tidak kenal kamu" jawab windu sambil menunjuk kearah pintu.
Aira tercengang mendengar kata kata yang keluar dari mulut windu, bibir nya terasa kaku dan gemetar. Tetes demi tetes air mata pun keluar seperti kupukupu yang baru keluar dari kepompongnya.
"windu! Ini aku aira! Kamu gak mungkin lupa secepat ini!..."
"Keluar. Aku tidak ingin melihat mu" ujarnya lemas sambil mengalihkan pandangan.
Aira pun langsung keluar tanpa harus mencoba dirinya membuat windu mengingat kembali padanya.
"Maaf aira,aku tidak membenci mu tapi aku membenci diriku yang lemah seperti ini. Yang tidak mampu sebagai sandaran saat kamu sedang membutuhkanku" katanya dalam hati
Sementara aira berlari menerobos hujan, menginginkan kata kata yang di ucapkan windu hanyalah mimpi, namun aira tidak sedang mimpi tubuh nya masih menyentuh tanah. Semua yang dilihat masih nyata. Aira memberhentikan taksi kemudian meninggalkan tempat yang sangat tidak bersahabat ini. Didalam taksi pikiran nya pun masih di kelilingi pernyataan yang keluar dr windu. Aira hanya bisa menggigit bibir nya dan meremas tangan nya. Untuk bisa mendapatkan jawaban dari pikiran nya. Namun dingin mengalahkan segalanya, pikiran nya beku. Namun airmata yamg kini mencair.
"Tuhan. Takdir apa lagi yang akan engkau berikan untukku. Atau takdir ini sedang memainkan peran nya? Apakah ini akhir dari sebuah rasa? Atau rasa ini yang sedang mencari celahnya sendiri?"
***
"Aku harus menemukan jawaban dari pernyataan windu kemarin" Aira melangkahkan kaki nya menuju ruang ICU masih penuh dengan tanya. Namun sesampainya disana tak didapatkan sosok windu terbaring lagi. "Windu sudah pulang? Ah tidak mungkin aku harus mencarinya".
Langkah pertama yang ia pastikan adalah taman rumah sakit, aira melihat sosok laki laki memakai kursi roda dan warna kulit yang masih pucat, tanpa ragu aira pun menghampiri laki laki itu.
"Windu...." katanya sambil menepuk bahu laki laki itu.
"Aku ingin kamu pergi"
"Kenapa?! Kamu membenci ku windu?" tanya aira menghadap windu.
Windu menatap mata aira yang berair dalam dalam " Bukan aku yang membenci mu. Tapi aku membenci diriku"jeritnya dalam hati.
"Atau kamu tidak mampu bertemu dengan ku dengan keadaan seperti ini?" Tanpa menjawab pertanyaan aira. windu langsung memeluknya dan tangis pun pecah dari mata windu.
"Maaf aira, aku terlalu lemah berhadapan dengan mu. Aku tidak membenci mu tapi aku membenci diriku"
"Hey...kamu gak boleh bicara seperti ini. semua ini takdir. akudan kamu berdiri disini pun karna takdir. dan......" kata aira sambil melepas pelukan
"Dan aku mencintai mu karna takdir" sambung windu.
Aira hanya tersenyum lebar dan memeluk windu. Akhir dari sebuah rasa antara windu dan aira pun sudah jelas. Hanya perlu waktu untuk memgembalikan fisik windu seperti semula. Aira dan windu pun sepeeti burung yang lepas dari sangkar. tak ada yg perlu di sembunyikan antara dua hati ini.
***
Hot chocolate, manis. Seperti perasaan aira saat ini.
"Hmmm... manis. Terimakasih tuhan, aku sudah benar benar yakin dengan perasaan ku kepada windu" gumamnya sambil menyeruput kembali hot chocolate. Tiba - tiba saja ada yang mengetuk pintu dari luar. aira langsung meletakan gelas nya. Dibuka nya pintu ternyata tamu yang sedari tadi mengetuk itu putra. aira langsung mengajak nya ke ruang tamu.
"Deg! perasaan ku kenapa berdebar seperti ini" gumamnya dalan hati.
"Hai aira, maaf ya aku ngerepotin kamu sore ini"
"Oh...iya, santai aja kok. ada apa? kok tumben kamu put. oh iya aku ambil hot chocolate dulu ya"
"eh gak usah... aku juga mau buru buru kok" aira duduk kembali. perasaan nya makin tidak karuan. gugup sekali.
"Aira... sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sedari aku sampai di indonesia" kata putra sambil meraih tangan aira
"Aku mencintai mu, aira" Aira kaget. ingin rasanya dia menyalah kan putra. tapi disini tidak ada yang perlu di salahkan.
"Maaf putra. Kamu tidak terlambat tapi kamu hanya kurang cepat" kata aira melepas genggaman putra.
"Kenapa?! bukan nya kamu mencintaiku sedari SMA dulu?"
"Itu dulu putra, Aku mati-matian untuk move-on dari kamu. Aku menyembunyikan perasaan ini juga untuk menjaga persahabatan kita" ujar aira mengalihkan pandangan.
Angin dari luar pun berhembus kencang seolah olah mengusir masa lalu dari tempat ini. "Aku sudah bersama windu" ujarnya mantap.
Putra tercengang. dan merasa dia tidak secepat windu.
"Aira. maafkan aku kalau aku sudah membuat kamu menunggu lama"
"Aku yakin putra kamu dan aku bisa untuk takdir ini. Takdir yang awalnya aku yakin saat kamu pulang ke indonesia aku bisa bersama kamu. Tapi takdir aku bukan di kamu"
Putra hanya tersenyum, senyum kecewa yang di dapat.
Kemudian beranjak dari tempat nya di ikuti aira. Mereka berhadapan, bibir yang selama ini aira ingin kan untuk mengecup keningnya pun sudah sangat berbeda. Tanpa mengucapkan apa -apa putra langsung pergi meninggalkan aira.
"Tuhan, Aku sedang tidak bermimpi? Bukan nya aku ingin menyakiti kamu putra tapi aku dan kamu hanya masa lalu. Perasaan aku untuk kamu pun hanya masa lalu yang telah aku tinggalkan" gumamnya dalam hati.
Masa lalu hanyalah masa lalu. Tidak ada yang perlu dibawa kembali dari masa lalu ketika perasaan mu sudah sangat jauh dengan masa lalu itu. THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar