Sabtu, 12 Januari 2013

Serintik Cinta Di Kota Cahaya

Aku mematutkan diri di depan cermin sambil merapikan sisa lipstik yang ada di bibir ku dan rambut ku yang sudah rapi dengan sanggulan nya.
Hari ini,bulan ini, dan tahun ini tepat tahun ke 2 saat kamu ingin menyusulku ke paris, kota penuh cinta, banyak moment cinta bersama keluarga,sahabat,dan kekasih di abadikan di sini. Kota sejuta cahaya yang terus menyala, serta icon yang di dambakan setiap orang yang pasti ingin mengunjungi kota ini adalah menara Eiffel. Dan kota pendidikan fashion pun sangat ternama disini. Banyak orang dari negara lain yang ingin mengabadikan cinta mereka di sini. Paris. Termasuk aku dan reza.
Hujan di luar dan angin yang menerpa hordeng dan jendela ku seketika membawa ku pada lamunan ku.
Aku menunggu lebih dari 1 jam di bawah menara Eiffel, bulan ini musim dingin sehingga aku harus mengenakan kostum musim dingin ini. Tiba - tiba saja dari belakang ada yang menutup mata ku, aku belum mengenal tangan ini. Tangan ini pun membuka eratan nya, mata ku masih belum jelas aku berusaha meraba penglihatan ku semakin semuanya jelas aku langsung memeluk badan gagah ini yang aku rindukan selama aku di paris.
"hai rain, erat sekali peluk kan mu, kita bertemu lagi kan?!" ujarnya sambil tersenyum
"Iya za, kita bertemu di kota cahaya ini, kota romantis ini"kata rain masih dalam pelukan
Begitu kejadian saat aku bertemu kembali di paris dengan reza, keesokan harinya aku mengajak reza ke Seine River entah sugesti apa yang memaksa ku untuk ke sungai ini, aku merasa seperti terpanggil untuk berada di sini.
Aku dan reza menyusuri seine yang romantis ini, Aku dan reza mulai berjalan dari Eiffel Tower,
melewati Grand Palais, sampai du
Louvre, dan melewati Museum
d’Orsay sampai Kathedral Notre-
Dame. Dengan suhu yang sejuk dan dingin dimana mulai musim dingin disana, hatiku benar2 merasakan ‘kesejukkan’ yang lama aku nantikan.
Angin kencang berhembus kemudian di susul rintikan air hujan, moment ini aku seperti rose dan reza seperti jack pada film 'Titanic'. Aku membentangkan tangan ku di susul dengan dia di belakang ku. Lalu reza membisikan aku sesuatu hal.
"Aku siap menjadi pangeran hujan mu, Rain"
"Aku lebih siap dari mu, Reza"
"Je T'aime" ucap nya bersamaan
Seine River menjadi sangat hangat untuk ku, 'i'm lucky girl' kata ini yg terucap pertama kali dalam hati ku setelah kejadian ini.
Belum selesai sampai di sini, sambil menikmati rintikan hujan di bawah payung reza mengajak ku ke jembatan Pont des Arts, untuk mengabadikan cinta kita reza telah membawa gembok cinta yang sudah ada tulisan 'R love R' kemudian menggantungnya di sisi jembatan.
"Aku sudah menunggu lama hal ini pangeran hujan ku"
"Maaf rain, kalau aku buat kamu menunggu terlalu lama"
***
Place de la Concorde, sore ini aku dan reza merasa tertarik angin untuk mengunjungi alun - alun terluas di kota paris. Banyak keceriaan antar keluarga, sahabat dan kekasih disini, aku merasa menjadi bagian dari warga prancis saat ini, aku duduk bersama reza di dekat air mancur sambil menikmati gulali. Reza mulai berani untuk mengelus rambut panjang ku, dan mulai dengan celotehnya.
"vous êtes si belle ce soir" ujarnya sambil mengelus rambutku
"Merci, bisa aja deh gombalnya mentang - mentang lagi di kota romantis"
Setelah duduk duduk melihat kesibukan alun -alun, aku dan reza ikut membaur dalam keramaian alun - alun ini, kemudian kembali ke apartemen untuk menyambut kejutan esok hari.
***
Pagi ini bersahabat dengan ku kicauan burung saling bersahutan. Pemandangan eiffel di pagi hari membuat mata ku tak bosan ketika berada di balkon ini. Aku melihat eiffel memang indah tapi di mataku sekarang dia yang paling indah dari segala hal yang aku lihat selama di paris.
Pagi ini paris cukup hangat kehangatan nya pun menyeret ku untuk mengunjungi Tuileres Garden. Sekitar pukul 10 waktu setempat Tuileries garden menyambut ku dengan reza dengan kerindangan pepohonan dan mekar bunga menyolok hidung ku. Reza memberiku kejutan aku menutup mata ku rasanya lama sekali, suara nya pun menyuruhku untuk membuka mata, setelah semuanya jelas aku melihat dia memegang flower crown yang ia bawa dari jakarta.
" Kamu harus jadi putri ku, bukan untuk selamanya namun untuk hari ini dan seterusnya"
Reza memakai kan nya untuk ku lagi, diantara pepohonan tuileries garden ini menjadi saksi dari ucapan yang reza bilang. Dan dia mencium kening ku. Aku bahagia sangat bahagia, kicauan burung diatas langit yang bersahutan menyambut kebahagiaan ku.
Aku bukan seperti di paris, seperti di negri awan aku sah menjadi putri untuk pangeran hujan. Reza menggegam tangan ku, aku merasakan keseriusan cinta nya untuk aku, untuk mengabadikan moment ini reza mengabil kamera dari ransel nya aku siap berpose untuk moment bahagia ini, senyum nya yang sesekali menoleh pada ku. aku merasa menemukan keindahan lain selain eiffel.
Kaki lelah menapakan jejaknya, aku dan reza memilih berbaring di rumput rumput taman yang hijau di kelilingi bunga dan menikmati langit biru di paris. Ya. Awal pertama kali aku seperti ini setelah sekian lama sibuk dengan kuliah ku. Reza menunjuk ke langit langit dan berkata " Dulu kamu berharap pangeran hujan mu turun dari langit untuk menghampiri kamu. Rain. Tapi kini, pangeran hujan mu ada di samping mu yang siap melindungi mu dr hujan".
Senyum ku mengembang seperti bunga yang mekar.
"Reza, I love you, always. Tidak hanya hujan saja aku mencintai mu. Salju.musim semi atau panas aku akan mencintai mu seperti aku mencintai hujan"
Aku tidak pernah melupakan kejadian ini. Hari berlanjut, minggu pertama ku di paris bersama reza seperti mimpi. Aku sempat membangunkan diriku namun ini nyata. Ya. hari ini tepatnya sore reza mengajak ku ke menara eiffel untuk menyaksikan matahari terbenam disana.
Sekitar pukul empat waktu setempat, aku menyusuri jalan menuju eiffel. Tangan ku masih menggengam tangan reza, dia sangat melindungi ku bahkan saat aku tersandung saja dia sangat khawatir, aku melewati Tuilereis jardins dimana moment yg aku tak sangka terekam disana.
Paris masih terasa dingin, pakaian tebalku masih menghangat kan tubuh ku. Antrian panjang menuju menara pun aku lalui, hingga aku berhasil memasuki lift menara.
Sesampainya diatas, Angin menyambut ku dengan terpaan nya sangat kencang menembus kulit ku, reza merangkulku lagi lagi dia khawatir dengan ku karna di sini angin kencang dan awan mendung menghias langit paris. Aku mengambil tempat paling pinggir balkon. Aku masih tidak percaya aku orang indonesia busa sampai di atas sini. Reza menulis simbol R love R dan disampingnya bertuliskan 'cinta abadi dari indonesia' di balkon menara. Aku hanya tersenyum melihat reza sangat romantis disini.
Matahari semakin menenggelam kan dirinya. Sunset yang aku lihat dari atas eiffel benar benar membuat ku tercengang.
Sinar orange ke merahan itu terhampar di langit paris. Reza memeluku dari belakang, Bibir dingin nya mengecup pipi ku.
"Suatu hari nanti kita akan melihat sunset di atas eiffel tetapi setelah cincin dari ku melingkar di jari manis mu. Rain."
Begitu yang dia katakan aku kaget dan bahagia. Berarti reza akan memilihku sebagai pendampingnya.
Tiba tiba saja ada suara yang tidak asing di telinga memanggil nama ku. Ya. Itu suara mama. Mama menerpa semua lamunan ku selama di paris 2 tahun yang lalu. Mama memanggil ku untuk memulai acara tunangan ku dengan reza. Aku menuruni anak tangga bersama mama lengkap dengan dress pink silver ku. Reza menatap ku dalam, aku sudah ada di hadapan nya aku menaruh senyum sangat bahagia ini. Reza menyambar tangan ku, dia sudah memegang cincin yang akan mengikat cinta ini,
Cincin ini sudah melingkar di jari manis ku dan aku juga sudah melingkarkan cincin di jari manis nya reza. Reza mengecup kening ku. Kecupan nya masih sama seperti di paris tempo dulu. Reza memakaikan kembali flower crown untuk yang ke 3 kalinya.
"Aku sudah menemukan mu pangeran hujan. Ternyata selama ini. Sosok itu ada di kamu"
"Selama ini aku belum menemukan mu sebagai putri ku. Tapi aku baru menemukan mu di paris"
Reza memeluk ku di keramaian tamu yang hadir. Sorak pun terdengar, karna ucapan yang baru reza katakan tadi.
***
Keesokannya. Aku kembali menulis di kertas warna ku ini. Kali ini cerita nya berbeda.
"Hujan. Angin. Terimakasih sudah mengantar kan reza sebagai pangeran hujan ku. Terimakasih juga. Paris. sudah mengabadikan cinta ini. Seine river yang telah membawa awal cerita cinta ini. Aku berhasil membawa nya ke tepi tanpa ada badai yang menghalangi cinta ini. Dan eiffel telah memberikan sunset terindah. Je t'aime reza. Dari serintik cinta di kota cahaya."
Aku melipat kertas ini menjadi bentuk origami burung dan menggantung nya di jendela kamarku, hujan di luar seperti merasakan kebahagiaan ku ini. Terimakasih hujan dan angin yang telah membawa ku pada reza dan paris.

2 komentar: