Cintai Aku
Aku ingat dimana kita dulu saling menaruh janji. Janji tak ingin saling meninggal kan. Janji tak ingin saling mengkhianati. Namun, janji itu berlalu seraya angin menyapu itu semua. Entah dimana kata kata itu sekarang. Entah dimana janji yg dulu kau ucapkan.
Dibawah lampu remang caffe dan kopi panas di hadapan ku yang sedari tadi aku memerhatikan ampas yg terpisah dari air kopi nya. Seperti kenangan yang tak akan pernah bertemu. Begitulah kita. Angan ku terbawa oleh aroma kopi yang membawa ku pada kamu.
"satu tahun lagi aku nanti akan membawa ayah dan ibu ku untuk melamar mu, lana"
Sambil menggenggam tangan ku kamu begitu yakin dengan apa yang kamu ucapkan. Eksperesi wajah mu membawa ku pada masa depan kita, kamu sangat yakin kalau kamu tak akan mengecewakan ku setalah kamu mengatakan itu.
Lamunan ku buyar seraya pelayan caffe mengingatkan ku bahwa caffe akan segera ditutup. Ku lihat jam yang melingkar di tangan menunjukan tepat pukul 11 malam. Aku berjalan keluar caffe memberhentikan satu taksi. Sesampai nya aku dirumah, membuka pintu yang tak terkunci. Rumah ini sunyi seperti rumah hantu tapi tak begitu kelihatannya. Aku berjalan menuju kamar, sesampainya aku berdiri di depan cermin. Aku tak seperti menemukan diri ku di cermin ini. Mata ku sayu, warna kulit ku pucat seperti vampire. Ukuran tubuh ku juga seperti nya mengecil.
Aku ingin bangkit dari keterpurukan cinta yang menyiksa, yang sudah mengambil keceriaan yg dulu ada dalam diri ku namun sekarang tidak.Aku lelah, ingin rasanya mengakhiri hidup ini, namun aku tak mampu. Ingin hidup, namun selalu diikuti bayangan mu, 5 tahun tak sebentar untuk menaruh kepercayaan cinta ini. Namun sekarang entah dimana aku bisa temukan 5 tahun yang kita jalin.
***
Pikiranku terbawa pada memori beberapa tahun yang lalu. Saat aku masih bersama mu. Aku masih ingat betul wajah mu. Matamu yang bulat cerah, bibir mu yang tipis tak menghilangkan setiap lekukan nya. Kita selalu mengabadikan moment dengan kamera, tidak ada yang tertinggal satu pun setiap moment. Aku merasa yakin. Sangat yakin kalau hubungan ini pasti akan sangat jauh lebih lama. Lebih dari 5 tahun yang aku duga.
"hallo sayang" ujar hendri sambil mengagetkan ku dari belakang.
Aku membalikan badan. Melihat badan gagah nya berdiri di depan ku. Badan tegap yg selalu menghalangiku dr sinar matahari. Dia lebih tinggi dari ku. Hendri bilang dia ingin mengajaku ke sebuah caffe, entah ada hal apa. Atau hari ini ada perayaan yang aku lupa? Sepertinya tidak.
"hen, kamu mau ajak aku ke caffe?" aku heran karna aku tak terbiasa ke caffe selain ada hal penting yg ingin di rayakan. Seperti anniversarry hubungan ku dengan hendri. Selama aku menjalani hubungan dengan hendri, aku tak pernah keluar jauh karna orangtua ku melarang aku bersama laki - laki yang bukan suami ku pergi berdua.
Oleh karna itu, aku selalu menghabiskan waktu kita di rumah, agar ayah dan ibu ku tau kalau aku tak melakukan hal yang mereka khawatir kan. Hendri pun memaklumi dan dia menjalani ini dengan ku selama dua tahun.
Hendri membelokan setir nya ke arah caffe yang bernuansa pink dan coklat dari luar. Aku melihat jelas nama caffe ini terpampang di.badan bangunan ini "Paris Caffe"
Aku dan hendri keluar mobil, memasuki caffe, nuansa pun semakin nyata di dalam berwarna pink dan coklat aroma cream,coklat dan milk mengudara di ruangan ini ,namun ada aksen yang membuat caffe ini menjadi unik dan manis. Dan wall sticker yang menempel di dinding pun menjadi spot favorit pengunjung karna tergambar menara eiffel yang cukup besar. Hendri mempersilahkan aku duduk. Tempat ku berada paling pojok dan hendri memilih meja dan bangku hanya untuk 2 orang, aku masih bingung namun hendri mengingatkan ku akan hari dan tanggal ini.
"kamu kenapa kelihatan bingung? Kamu gak ingat, hari ini dimana aku pernah bilang cinta ini ke kamu"
"Yaampun, maaf ya sayang aku lupa. Makasih kamu udah ingatin aku, aku semakin yakin sama kamu"
Hendri menggenggam tangan ku. Genggaman nya masih sama dengan genggaman saat pertama kali dia menyatakan perasaan nya.
Kemudian waitress datang membawa secangkir cappucino dengan aksen lukisan di atas kopi ini. Aku masih ingat jelas gambarnya, untuk kopi ku ada wajah kamu. Begitu juga dengan kopi mu ada wajahku di sana.
Lucu. Unik. Aku sedikit tertawa, aku tak menyangka bahwa hendri bisa lebih romantis dari yang sebelum nya. Rasa nya sayang untuk aku minum cappucino kopi ini. Tapi aku sangat penasaran dengan rasanya.
"yuk diminum. Kamu pasti nanti ketagihan dengan rasanya" ujar hendri
"Ah, sayang rasanya aku minum. Aku gak ingin membuyarkan gambar ini"
"wajar kalau gambar nya buyar lana, ini benda cair. Yang penting, perasaan kamu gak buyar atau goyah kayak lukisan kopi ini"
Senyumku melebar, aku mengingat hal saat pertam kali aku bertemu hendri, di toko buku. saat itu aku ingin membeli sebuah novel yang berjudul "kata hati" di deretan buku best seller ini hanya tersisa satu, aku yang melihat nya langsung mengambil buku ini, namun ada tangan lain yang meraih nya, gerak reflek ku langsung melihat wajah nya. laki - laki ini langsung memberikan buku ini untuk ku. aku sempat menolak dan memberikan nya kepada laki -laki ini.
"ini buku nya buat kamu aja. lagi pula kamu duluan kan yang ambil" ujar laki - laki ini
"kamu gak usah repot - repot, biar aku aja yang cari lagi di toko lain" kata lana sambil memberikan bukunya.
laki - laki yang tak aku kenal ini meraih tangan ku dan memberikan buku nya kepada ku.
"aku gak mau terima ini, aku lebih baik mengalah sama wanita daripada aku harus debat kayak gini sama kamu"
lamunan ku buyar bersamaan dengan rasa creamy nya. aku tertawa kecil. hendri bertanya dengan ku.
"kamu kenapa dari tadi senyum sendiri. hayooo lagi lamunin apa?"ujar hendri mencolek hidung ku.
"kalo kata anak sekarang, kamu kok kepo banget sih hen" kata lana meledek.
Hendri mencubit lagi hidung ku hingga berbekas kemerahan. Hendri tertawa melihat hidung ku merah seperti badut. aku menyunggingkan bibir. memasang wajah seakan akan aku marah padanya.
"Duh jangan cemberut gitu dong ya, maaf ya hidung kamu jd merah. sayang jangan ngambek ya" ujar hendri merayu
***
Fikiran ku terus terbawa pada masa masa yang tak mudah ku lupakan bersama hendri. aku merebahkan tubuh sejenak. menahan sesuatu yang akan keluar dari mata ku. aku menyiapkan diri kembali untuk masuk ke masa masa itu. Aku stuck pada sebuah foto yang lokasi nya ada lah taman favorit kita. Taman kota, di foto ini hendri merangkul ku, aku bersandar pada pundak nya.
Aku tak bisa menahan airmataku lagi, dan menetes tepat pada foto ini.
"kejuuuu!!!!" teriak ku saat kamera yg di pegang hendri men-shoot kita berdua.
hendri langsung melihat hasil fotonya, begitu juga dengan ku
"kamu makin cantik sihh, sayang" ujar hendri sambil menyubit pipiku
"ah kamu gombal, kamu juga tuh makin gantenggg" aku membalas lagi mencubit pipi hendri
"calon suami masa depan nya siapa dulu dong?"
"calon nya lana miranti"
"duhhh pinter banget sih" Di sela sela melihat foto, hendri mencium pipi ku, aku kaget. tak pernah dia senakal ini.
"ih kamu ya genit deh" ujar ku sambil mencubit hendri
"genitnya kan ke kamu, jadi gak masalah dong" hendri meledek. tak ingin mendapat cubitan dari ku. dia lari sambil meledek ku.
Aku mengejar hendri. ingin sekali mencubit nya lagi. hendri terlalu cepat lari nya. hingga aku kesal sendiri.
Banyak hal yang aku lakukan di tahun ke 3 ini bersama hendri. Ibu ku pun semakin nyaman dengan sikap hendri yang sopan dan ramah. Ibu sesekali meledek ku dan bertanya "kapan nak kamu di lamar hendri?". aku hanya bisa diam. dan tersenyum. Namun tidak dengan ayah. sikap ayah adalah kebalikan nya dari ibu. ayah tak suka dengan hendri, entah dari sisi mana ayah tak menyukai nya. aku pun hanya bisa tertunduk saat ayah membuka suara tentang hendri.